Aku menceritakannya semua yang terjadi pada Icha, begitupun apa yang kurasakan saat ini.
...........
...........
...........
**********************
“Lo harus kuat ngadepin ini semua yaa Dis, gue tau ini berat banget buat lo, dan pastinya buat Farel juga.” Icha memelukku
“Iya, gue tau Cha, gue udah berusaha untuk bisa ngerelain ini semua. Gue gak mau ngecewain papa dan Tante Shanti. Mungkin mereka juga terpukul sama masalah ini, dan gue gak boleh egois.” Perlahan ku lepaskan pelukan Icha
“Gue tau lo itu gadis yang kuat kok, gue selalu ada di samping lo. Kapanpun lo butuh gue, gue usahain selalu ada.” Icha mengusap pelan pipiku
“Makasih banget yaa Cha, gue gak tau harus bilang apalagi ke lo, gue sekarang udah lega bisa ngungkapin perasaan gue selama ini. Dan mungkin sekarang gue harus ngomong ke papa dan Farel”
Icha mengangguk dan tersenyum.
***********
“Farel....” Ku peluk erat saat dia baru saja membukakan pintu
Farel terhuyung ke belakang dan berusaha mengimbanginya
“Gadis?” Terlihat dengan jelas wajah kaget. Lalu aku merasakan pelukan yang tak kalah erat. Aku meneteskan air mata.
Ku lihat Farel yang tak kalah kacau dengan penampilanku 3 hari yang lalu, ada lingkaran hitam yang mengitari matanya yang pasti dia kurang tidur.
Rambut berantakan tak terurus. Oh, aku merasa bersalah..
“Aku kangen kamu sayang.”
“Aku melebihi dari kamu cantik.”
“Rel.. Aku takut, aku gak mau kita pisah sayang.” Ucapku lirih dan menundukkan kepalaku
Farel mendongakkan wajahku perlahan. Menatap mataku. Dalam.
“Sayang, segala keinginan kita, gak semua harus tercapai. Ada kalanya kita harus berjuang demi mencapai keinginan itu. Dan dalam mencapai itu semua, belum tentu akan selalu berhasil.
Begitupun dengan kita, enggak semua keinginan kita harus terpenuhi. Ada hal yang harus kita pertimbangkan. Atau kata lain kita gak boleh egois. Kita harus memikirkan perasaan orang lain bukan hanya perasaan kita saja.”
“Kalo kita gak egois, terus papa sama tante Shanti apa? Mereka juga gak mikirin perasaan kita Rel!!” Aku membentak perkataan Farel
“Hussh..” Farel menenangkanku. “Itu bukan keinginan mereka sayang, bukan juga keinginan kita. Semua berjalan begitu saja tanpa ada yang mengetahui itu semua. Gak ada yang perlu di salahkan. Karna memang gak ada yang salah.Hanya takdir yang salah menempatkan dirinya. Itu semua udah terjadi sayang.” Farel menggenggam erat tanganku
“Tapi aku sayang kamu Rel, aku gak mau kita pisah, apa harus kita yang berkorban demi orangtua kita? Sedangkan kita juga udah pernah jadi korban orangtua kita itu sendiri! Apa selalu kita? Apa karna kita hanya seorang anak dan bisa diatur semau orangtua kita!” Ucapku dengan penuh amarah
“Gadis, ada hal yang mungkin memang belum kamu ketahui untuk saat ini. Mama dan Om Hadi pasti punya alasan yang kuat sampai bisa memutuskan untuk menikah. Sekarang kamu coba belajar untuk merelakan apa yang selama ini kamu pegang teguh. Aku mohon sayang, hapus ego kamu. Mama dan Om Hadi sudah hampir 2 tahun menjalaninya. Dan apakah karna ke-egoisan kita, semua jadi hancur? Apakah kamu tega Gadis?”
“Dan apakah mereka juga tega mengahancurkan semua impian kita?” Ku alihkan pandanganku dari wajah Farel, aku sudah lelah dengan pembicaraan ini. Farel mencoba mengusap pelan tanganku yang sedari tadi ia genggam
“Coba liat aku sayang. Impian mereka itu impian kita juga, percaya sama aku sayang.”
“Kita gak bisa sama-sama lagi! Dan janji kamu? Selalu bersama selamanya? Gak akan bisa lagi!” Kini tangisku pecah seketika, pertahananku jebol. Aku sudah tidak bisa menahannya. Terlalu sesak di hatiku. Aku tak ingin berpisah dengannya Tuhan...
“Janji aku sama kamu gak bakal aku ingkari. Percaya sama aku sayang, aku akan lebih dekat sama kamu. Aku akan tetap menyayangi kamu, mencintai kamu, melindungi kamu. Dan itu akan abadi. Selamanya. Bersama kamu.” Farel membawaku kepelukkannya.
Aku terlarut oleh dekapannya. Aku percaya. Aku percaya dengan dia. Aku coba untuk merelakan semua. Karna aku terlalu mencintainya.
Semoga ini menjadi jalan yang terbaik untukku Tuhan. Aku ingin bahagia. Dan aku tahu, Kau pasti memberikan itu padaku Tuhan. Dengan cara-Mu sendiri, aku percaya...
******************
“Pa..” Ku ketuk pelan pintu kamar papa
Tak lama pintu terbuka, dan seseorang memeluk tubuhku erat sekali.
“Sayang? Papa seneng kamu udah mau ketemu papa. Ada apa sayang? Ada yang mau diomongin? Selama ini papa udah berfikir Dis, waktu itu Farel udah cerita semuanya ke papa, dan papa selama itu memang enggak tau hubungan kamu sama Farel. Maafin papa ya sayang.”
Papa membawaku masuk ke dalam kamar dan mendudukkan ku di tempat tidur.
“Dan papa berfikir, mungkin papa akan mengakhiri hubungan papa dengan Tante Shanti. Papa gak mau nyakitin kamu sayang.” Ujar papa sambil mengusap lembut rambutku
Aku terkejut. Aku menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
“Enggak pa, papa gak boleh mutusin hubungan sama Tante Shanti, Gadis gak mau jadi penghalang. Papa butuh Tante Shanti, dan mungkin Gadis juga.” Aku mengucapkan dengan tersenyum
“Tapi gimana kamu dengan Farel sayang? Kalian kan juga saling mencintai. Papa gak mungkin menyakiti hati anak papa sendiri.” Kening papa berkerut
“Gadis udah rela kok pa, Gadis malah lebih sakit kalo liat papa gak jadi menikah sama Tante Shanti.”
Papa memelukku, mengecup puncak kepalaku. “Papa sayang kamu Gadis.”
Ku balas pelukan papa. “Gadis juga sayang papa.”
****************
Hari ini pernikahan papa dan Tante Shanti. Entah mengapa aku belum pernah merasakan perasaan sebahagia ini, mama memelukku dengan hangat, dan dia bersama suaminya. Mama terlihat begitu senang. Aku tersenyum.
Papa Farel pun datang. Sendiri. Namun dengan wajah yang tegas dan tak kalah bahagia, mendekap erat Farel dan menepuk nepuk pundaknya.
Aku belum pernah melihat papa selalu menebarkan senyumnya semenjak 3 tahun yang lalu.
Papa memeluk pinggang Tante Shanti yang terlihat begitu cantik. Dan mulai dari sekarang aku harus memanggil dengan sebutan ‘mama’.
Mereka semua yang aku cintai, mereka semua yang aku sayangi. Bersatu. Dengan perasaan bahagia. Aku tahu semua ini pasti akan terjadi.
Farel menggenggam erat tanganku. Ku tolehkan kepalaku menghadap wajahnya.
Dia tersenyum.
***************
We were as one babe
For a moment in time
And seemed everlasting
That you always be mine
Now you want to be free
So i’m letting you fly
Cause i know in my heart babe
Our love will never die
No!
You’ll always be a apart of me
I’m a part of you indefenitely
Girl dont you know you cant escape me
Oh darling cause you’ll always be my baby
And we’ll linger on
Time cant erase a feeling this strong
No way youre never gonna shake me
Oh darling cause you’ll always be my baby
.......................
“Kita itu udah jadi satu, aku punya kamu, kamu punya aku. Ada yang bilang cinta itu gak harus memiliki. Tapi kali ini aku beruntung, aku bisa memiliki kamu. Kamu selalu menjadi bagian dari aku. Dan kamu gak bisa mengelak itu semua. Begitupun juga aku.” Farel merangkul pundakku dan menolehkan wajahnya. Menatapku.
“Aku tau itu. Kita memang gak bisa saling memiliki dalam hal kekasih. Tapi kita bisa memiliki sebagai cinta yang gak bisa di pisahkan. Karna sekarang status aku jadi adek kamu, jadi kita gak bisa putus deh. Hehehe.” Aku tertawa lepas
“Dih, pinter ngomongnya. Hahaha.. Dan sekarang aku bakalan buktiin janji aku ke kamu, kita sekarang bakalan selalu bersama selamanya. Aku tetap sama kamu, walaupun dengan cara yang berbeda. Malahan sekarang satu rumah kan? Haha, tiap hari ketemu, tiap jam juga malahan. Hahaha, jadi gausah bawel bilang kangen mulu kaya dulu yaa adek kecilkuuuuuu.” Goda Farel sambil mencubit hidungku
“Apaansih woo! Iyaa aja deh yang sekarang jadi tua, kakak Farelkuuuuuu. Hahaha.” Ku cubit pinggang dengan keras, lalu aku lari meninggalkannya. Farel mengejarku.
Ada kalanya kita merelakan hal yang paling kita takutkan untuk pergi. Tak ada salahnya berkorban untuk orang yang kita cintai. Semua keinginan kita pasti tercapai, dengan cara yang berbeda dengan jalan yang berbeda dan dengan wujud yang berbeda pula.
Tuhan pasti mempunyai rencana yang lain ketika kita merasa gagal. Merasa kita menderita, merasa kita paling tidak bahagia.
Kebahagiaan itu bisa dapat dengan cara yang menyakitkan sekalipun. Dengan cara yang tidak kita ingini sebelumnya.
Semua hal itu memang tidak bisa di terka, tidak bisa di ketahui dengan cara yang mudah.
Terimakasih Tuhan, memberikanku kebahagiaan dengan cara ini, aku, Farel, mama, papa.
Mungkin tak ku fikirkan sebelumnya akan terjadi seperti ini.
Hal yang aku rencanakan, di luar rencanaku. Tetapi dalam rencana-Mu.
Aku bahagia. Aku tetap bersama dia. Selalu Selamaya. Bersama...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar