Label

Senin, 19 Agustus 2013

Bertahan

Untuk membuatku bertahan itu sangat sulit. Tapi hanya karna mu, alasan mengapa selama ini aku masih mempertahankan semua. Entah apa yang bisa membuatku menahan semua, iya semua.

“Sayang, nanti aku mau ada latihan drama, tapi gak ada yang anter. Kamu bisa nganterin aku gak?” Ucapku memohon kepada Rio

“Yaudah, emang nanti jam berapa?” Jawab Rio tanpa menatapku karna matanya terfokus pada smartphone-nya

“Hhm, kira-kira jam 4, di rumah Sivia.” Ucapku menjelaskan

“Okay kalau gitu.” Rio beranjak dari duduknya lalu menatapku sekilas.

“Aku pulang duluan ya, ada urusan bentar, dahh..” Lanjut Rio sambil memasukkan smartphone-nya lalu berlalu begitu saja.

Aku hanya mengangguk tersenyum. Ahh.. aku tak apa, mungkin aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang begitu. Ku tatap punggung Rio yang mulai menjauh, sosok itu yang telah membuatku tak bisa memikirkan apa yang telah dia perbuat. Ku menerawang pada kejadian-kejadian yang telah berlalu. Tanpa kusadari aku tersenyum. Tepatnya tersenyum miris. Ku lirik jam di tanganku, lalu menatap langit sebentar. Ahh mendung, aku harus segera pulang.

****

Lihat aku disini, kau lukai hati dan perasaan ini
Tapi entah mengapa aku bisa memberikan maaf padamu

Aku gelisah, ku lihat jam dinding di kamarku. Sudah jam 4. Ku coba kembali menelepon Rio, tapi masih saja tidak diangkat. Aku mulai bingung karena teman-temanku sudah menanyakan kehadiranku. Untuk yang ke-15 kali ku telepon, masih saja tidak ada jawaban.
Dan untuk yang ke-8 kali pula ku kirim sms padanya.

To : Beloved
Sayang, kamu dimana? Kamu gapapa kan? Jadi jemput aku apa engga?
Plis kabarin aku :(
----------------------------------------

    Tak ada balasan. Aku pun langsung bergegas untuk berangkat sendiri, saat keluar rumah, hujan deras mengguyur, aku kembali masuk ke rumah untuk mengambil payung dan segera berjalan mencari taksi. Susah sekali mencari taksi pada jam pulang kantor begini, apalagi hujan deras. 15 menit ku menunggu, taksi yang melewatiku selalu penuh. Aku pun terpaksa berjalan menuju halte bus yang lumayan jauh. Aku tak peduli dengan bajuku yang mulai basah dan tubuhku kedinginan karena hujan sangat deras disertai  angin. Tak lama bus yang kutunggu datang. Aku memilih duduk di dekat jendela dan mulai meyandarkan kepalaku. Otakku kembali memikirkan Rio.

‘Kamu kenapa gak ngabarin aku Yo?’

‘Kamu kemana?’

‘Kalau kamu gak bisa nganterin aku, kamu bisa bilang sama aku dari tadi’

Aku bertanya dalam hati. Tak sengaja saat menoleh ke arah pinggir jalan aku melihat mobil Rio. Mataku langsung membuka dengan lebar saat melihat Rio membukakan pintu untuk seorang gadis dan memayunginya menuju sebuah salon. Wajah gadis itu, aku mengenalinya! Itu Shilla!

    Aku langsung lemas, mataku perih dan panas. Perasaanku bercampuk aduk menjadi satu. Cairan bening mulai mengalir di pipiku.

‘Kenapa kamu tega banget sama aku Yo?’

‘Kenapa kamu giniin aku?’

‘Tapi aku gak boleh negthink! pasti Rio punya alasan’

****

Mungkin karena cinta, kepadamu tulus dari dasar hatiku
Mungkin karena aku, berharap kau dapat mengerti cintaku

    Aku terbangun dari tidurku. Yaa, sepulang dari rumah Sivia, aku tidak bersemangat untuk melakukan apa-apa. Aku menangis, sepuas yang aku ingini hingga akhirnya aku tertidur. Aku melihat jam di dinding. Pukul 9 malam.

    Aku cek smartphone-ku dan ada sebuah sms dari Rio.

From : Beloved
Sayang maaf, tadi aku nganterin mamah dan gak sempet ngabarin. Oiya, besok kayanya aku gak masuk. Habis keujanan. Pusing
--------------------------------------

    Kemudian aku segera mengetik untuk membalasnya

To : Beloved
Mamah? Yakin tuh? Mamah atau Shilla? Oh.
Namun segera ku hapus dan mengetik lagi

To : Beloved
Iya gapapa sayang :) kamu sakit? Cepet sembuh sayang ;* jangan lupa minum obat, istirahat yg cukup. Bobo gih biar gak pusing.
Gudnite {} luv u
-------------------------------------

    Ku tunggu balasannya, hingga aku tersadar ternyata aku tertidur. Tak ada balasan. Ku lihat jam sudah pukul 2 malam. Untuk sekedar mengucapkan terimakasihpun tidak. Aku tersenyum. Tersenyum miris.

****

    Meski kau terus sakiti aku
    Cinta ini akan selalu memaafkan
    Dan aku percaya nanti engkau
    Mengerti bahwa cintaku takkan mati

To : Beloved
Morning sayang :) gmn keadaannya? Smg cepet sembuh ya, aku gamau kamu sakit ;* jgn lupa makan sama minum obat. Nice day! Luv u ;* {}
---------------------------------

Sebelum berangkat sekolah ku kirim pesan untuk Rio.
Saat istirahat, ku buka smartphone-ku, masih tak ada balasan dari Rio, ahh, mungkin dia lagi istirahat dan tak bisa di ganggu. Ku ketik lagi pesan untuk Rio.

To : Beloved
Hay sayang, udh makan belum? Harus makan loh, biar bisa minum obat. Makan yg banyak biar kuat. Hehe :D GWS dear ;* always luv u
-----------------------------------

Ku remas smartphone-ku hingga tanganku berkeringat. Aku mulai khawatir dengan keadaan Rio. Apa dia baik-baik saja? Apa keadaannya memburuk? Apa aku harus ke rumahnya? Ahh tidak. Aku pernah ke rumahnya tanpa seijin Rio dan Rio marah waktu itu karena aku datang tiba-tiba, padahal aku hanya ingin memberi kejutan karena saat itu adalah hari perayaan tanggal jadi kita yang ke 6 bulan. Dan seketika ku urungkan niat ku.

****

    Lihat aku disini, bertahan
    Walau kau sering menyakiti, hingga air mataku
    Tak dapat menetes dan habis terurai

Sore hari seusai aku mandi, ku cek apakah ada balasan dari Rio, ternyata nihil.
Ku ketik lagi pesan untuk Rio.

To : Beloved
Mariokuuu lagi apa? :) aku khawatir banget :(( kamu beneran gapapa kan sayang? Jangan lupa istirahat yg cukup. Sayang kamu ;* {} mwah!

 Lalu ku buka akun Twitter-ku untuk sekedar menghilangkan rasa bosan. Baru saja ku buka, muncul Rio di Timeline.

@mariostev: thanks shilla udah nemenin, jadi gak bosen nih ;;) @ashillaaa
@mariostev: makasih ashillakuuu ;) {} RT @ashillaaa: GWS mariooo {} <3 RT @mariostev: pusing bgt nih pala gue ;((

    Ku baca mention Rio dan Shilla, tiba-tiba mataku mulai mengabur tertutup oleh selaput bening yang mulai menetes. Kenapa? Kenapa? Rio tidak mengabariku dari tadi, bahkan sms ku pun dia abaikan, tetapi mengapa dia malah sama Shilla? Apa Rio sudah tidak peduli denganku lagi? Apa Rio sudah melupakanku? Apa Rio bosan denganku? Mengapa Rio tega kepadaku seperti ini?

    Ku tenggelamkan wajahku di bantal, semakin lama isakanku semakin keras, mungkin karena aku sudah tidak kuat untuk menahan sesak yang kurasakan. Apakah aku sebegitu terlupakan olehmu? Aku disini masih menyayangimu, aku disini yang mendoakanmu selalu, aku disini yang selalu bertahan untuk tetap di sampingmu. Tetapi apa yang kau lakukan padaku?

‘Kenapa Yo? Kenapa?’

    Aku bertanya dalam isakanku, namun entah apa yang merasuki diriku. Ku hapus air mata di wajahku. Aku tersenyum.

‘Aku gak boleh nangis cuma gara-gara ini.’

‘Mungkin Rio memang baru aja buka HP dan buka twitter.’

‘Dan harusnya aku gak perlu terlalu cemburu pada Shilla, harusnya berterima kasih karena dia udah bikin Rio gak bosan, dan malah bukan aku.’

    Ku ambil kembali smartphone-ku, lagi-lagi ku kirim pesan untuk Rio.

To : Beloved
Sayang, kamu knp? kalo kamu udh bosen sama aku bilang ya sayang ya? soalnya aku gamau bikin kamu kesiksa :’) oiya maaf jg kalo selama ini sms2 ku ganggu kamu, aku cuma pengen tau kabar kamu aja, aku disini nungguin :’’)) aku khawatir sama kamu. Aku sayang bgt sama kamu ;* ;*
----------------------------------------

    Ku tunggu balasannya. 20 menit kemudian smartphone-ku bergetar. Ku lihat Rio membalasnya. Aku langsung membacanya.

From  : Beloved
Gpp. Ok. Kamu tau kan aku lagi sakit?! Jd maklumin aja kalo aku jarang bales sms kamu.
---------------------------------------------

    Ku tahan tangisanku, aku sudah capek untuk menangis, mataku sudah terasa perih sekali. Hingga mungkin ku rasakan air mata itu sudah tidak bisa keluar lagi. Dengan tangan yang sedikit bergetar, segera ku balas smsnya

To : Beloved
Iya aku tau kok :’) tapi kamu bisa kan bales smsku sekali aja?
--------------------------------------------

    Tak menunggu waktu lama Rio telah membalasnya lagi. Aku tersenyum.

From : Beloved
Yaudah maaf
------------------------------------------

    Hanya itukah yang bisa kau ucapkan Rio? Tapi setidaknya kamu sudah mau mengatakan maaf padaku. Dan aku memaafkanmu. Selalu.

To : Beloved
Yaudah lupain aja ya sayang ya? :) sayang lagi apa? Udh makan sama minum obatnya? Jgn kecapekan ya, istirahat yg banyak :) biar cepet sembuh, okay? :D
------------------------------------------------

    Lama. Ku tunggu sangat lama. Tak ada balasan hingga 2 jam. Bolak-balik ku periksa smartphone-ku untuk mengecek bila ada sms Rio.

From : Beloved
Iya. Lagi capek. Udah. Ok.
-----------------------------------------------

    Bahkan untuk menanyakan ku balik pun tidak. Kemana Mario ku yang dulu? Yang selalu perhatian kepadaku? Apa rasa itu telah luntur? Tapi tidak untuk rasaku.

To : Beloved
Yaudah, kamu tidur aja gih sayang :) jgn begadang ya, Gnight nice dream. Love you {} ;*
----------------------------------------------

    Aku tidak menunggu balasannya lagi, karena ku yakin pasti Rio tidak akan membalasnya. Sengaja ku non-aktifkan smartphone ku supaya aku tidak di hubungi dan tidak membuka social media apapun. Karena aku tak mau melihat jika Rio muncul dan itu hanya menambah rasa sesak yang kurasa.

****

    Meski kau terus sakiti aku
    Cinta ini akan selalu memaafkan
    Dan aku percaya nanti engkau
    Mengerti bahwa cintaku takkan mati

    Sore ini, sepulang sekolah, aku ada latihan drama lagi, dan sekarang bertempat di rumah Alvin. Sejak tadi aku pun tidak fokus memerankan peran drama ku, dan sering sekali mendapat teguran dari teman-teman. Ahh, aku khawatir dengan keadaan Rio. Sejak tadi pagi nomornya tidak aktif. Aku takut bila Rio kenapa-kenapa. Aku malah sempat berfikir bahwa Rio sampai di bawa ke rumah sakit. Aku benar-benar khawatir.

“Lo kenapa sih? Dari tadi kebanyakan bengong deh!” Alvin menepuk ringan pundak ku.

“Eh, hhm, enggak kok, gapapa.” Ucapku sambil tersenyum. Tepatnya dipaksakan

“Yakin? Eh, bukannya Rio sakit ya? Lo gak jengukin dia? Kan rumah doi satu kompleks sama gue, deket ini.” Ucap Alvin menyarankan ku tiba-tiba

“Oh iya, tau kok.” Jawabku singkat lalu meninggalkan Alvin

    Aku membereskan barang-barang dengan cepat lalu ku masukkan dalam tas sekolah, aku memikirkan perkataan Alvin baru saja. Dia benar, rumah Rio memang hanya berjarak beberapa meter dari rumah Alvin, tapi apa tidak terlalu lancang aku tiba-tiba datang ke rumah Rio, bahkan aku tidak membawa apa-apa untuknya.

    Aku segera bergegas dan pamit pulang. Aku menelepon Rio berkali-kali tapi tetap saja nomornya mash belum aktif. Aku bertambah khawatir. Ini sudah pukul 17.30 dan dia masih belum mengaktifkan nomornya. Aku sengaja memilih jalan yang melewati rumah Rio, hanya untuk memastikan saja.

    Saat aku sudah berada tepat di depan rumah Rio, aku berhenti sejenak, menatap rumah yang lumayan mewah itu. Mobil Rio terpakir di garasi. Dan aku mulai lega, berarti tidak seperti yang ku fikirkan tadi bahwa Rio sampai masuk rumah sakit.

Rasa yang mendorongku untuk masuk rumah itu terlalu kuat. Aku ingin sekali bertemu Rio. Tapi aku teringat saat kejadian Rio marah gara-gara aku ke rumahnya tanpa ijin. Aku menggelengkan kepalaku. Ku urungkan niat ini. Tapi malah rasa ini semakin kuat.

    Ku coba lagi menghubungi nomor Rio, tapi tetap saja nihil. Lalu ku ketik pesan untuk dia, untuk sekedar memberitahu.

To : Beloved
Sayang, aku tadi latian drama di rumah alvin, aku lewat rumah kamu, aku pengeeeeen bgt ketemu kamu sayang :( aku coba hubungin kamu tp nomormu gak aktif terus, maaf kalo aku lancang ya sayang. Aku khawatir sama keadaan kamu skrg :’’(( aku kangen kamu sayang. Maaf ya, maaf ;(
--------------------------------------

    Lalu ku langkahkan kaki ku menuju gerbang, ternyata tidak di kunci. Ku teruskan masuk, dan pintu rumah sudah terbuka lebar. Samar-samar aku mendengar suara Rio. Aku tersenyum sumringah sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Aku akan menumpahkan kerinduanku ini padanya. Dengan semangat aku menuju pintu.

“Hayo, kamu kok disini sih? Gak hubungin aku dulu deh kamu.” Suara Rio terlihat kaget namun terdengar senang

“Hehehe, ya maaf deh, kan mau kasih kejutan buat kamu.”

“Dan berhasil buat aku terkejut loh, hahaha.” Ucap Rio sambil tertawa

“Iya dong, gimana keadaan kamu? Udah baikan?”

“Udah kok, ini juga udah sehat, makasih ya kamu udah mau dateng jengukin aku.” Jawab Rio dengan lembut

“Iya sama-sama, oiya ini aku bawain apel buat kamu.”

“Duh jadi ngerepotin, bentar ya aku ambil pisau dulu buat ngupas apelnya.” Rio hendak beranjak dari duduknya

“Gak usah, tadi aku sekalian beli pisau lipatnya kok, hehe jaga-jaga.”

“Jaga-jaga buat apa hayo? Lagian kan udah ada aku yang bakalan jagain kamu terus.”

“Hahaha gombal! Ntar aku dimarahin tau sama cewek kamu.”

“Ya gak lah, gak mungkin berani dia, lagian aku udah gak ada perasaan juga sama dia.” Ucap Rio tegas

“Tapi kenapa sih gak kamu putusin aja Yo?”

“Ya, aku kasian aja sama dia, dia udah terlalu cinta banget sama aku kayanya, hhm, tapi tunggu waktu deh aku bakalan putusin dia kok. Aku bakalan bilang kalo perasaan aku itu udah mati.”

    Sedari tadi aku menutup mulutku agar tidak membuat suara isakanku terdengar oleh Rio dan Shilla. Aku tak menyangka ternyata rasanya telah mati. Perasaan Rio terhadapku. Bahkan selama ini aku bertahan dengannya, tetapi ini yang dia lakukan padaku. Kaki ku lemas seakan-akan aku tidak kuat menopang tubuhku sendiri dan limbung. Sebelum itu terjadi dengan tubuh bergetar aku akan pergi dari tempat ini.
Bruukkkk

    Karena terburu-buru ingin segera pergi dari rumah Rio, aku tidak sengaja menabrak pot besar yang berada di sisi depan pintu. Seketika Rio dan Shilla menoleh dan kaget akan keberadaanku. Lututku berdarah tergores pinggiran pot, aku tak peduli lagi. Aku ingin segera pergi dari sini! Aku berlari dengan isakan tangis menahan sakit perasaan dan sakit di lututku.

“Kejar Yo, cepet kejar! Kasian dia, aku gak mau dia berbuat yang engga-engga gara-gara liat kita berdua tadi.” Ucap Shilla menyuruh Rio

“Tapiii....” Rio ragu-ragu

“Udah sana buruan!” Shilla mendorong tubuh Rio. “Aaww.. aduuhh.” Tangan Shilla berdarah karena saat mendorong tubuh Rio dia masih menggenggam pisau.

“Shill, kamu gak papa?” Tanya Rio khawatir

“Gapapa, aduuh perih, sana cepet kejar Ify!”

“Tapi tangan kamu Shill!”

****

    Aku berlari sekuat tenaga yang ku mampu saat ini, sakit, terlalu sesak di dada ku ini. Aku sudah tidak bisa memikirkan apa pun. Aku menoleh kebelakang. Bahkan untuk mengejarku pun dia tidak mau. Apakah aku sudah seperti sampah yang diabaikan, tidak dibutuhkan dan di buang begitu saja? Isakan ku semakin keras. Aku tak sanggup dengan beban ini Tuhan!

    Ku lambatkan lari ku, aku sudah terlalu lelah dan tidak kuat. Ku hapus dengan kasar air mata yang mengalir di wajahku. Aku sekarang mengerti. Aku bertahan demi dia. Dia yang padahal sudah tidak mencintaiku. Aku tidak menyesal. Karena selama ini aku bisa mempertahanku cintaku padanya walaupun cintanya sudah luntur. Aku bertahan tetap mencintainya dengan perlakuan dia terhadapku. Aku bertahan tetap mencintainya dan selalu memaafkannya walaupun selalu menyakitiku. Aku bertahan tetap mencintainya walaupun dia cuek dan acuh sedangkan aku selalu memikirkan dan khawatir terhadapnya.

    Aku memang merasa menjadi gadis yang bodoh, telah mempertahankan orang yang jelas-jelas sudah tidak mencitaiku lagi. Tapi rasa cintaku lebih besar dari pada rasa sakit hati yang ku rasakan. Apapun yang kau lakukan terhadapku itu akan sulit melunturkan rasa cintaku padamu. Dan akan selalu memaafkanmu. Aku terlalu mencintai Mario..

1 komentar:

  1. Tapi rasa cintaku lebih besar dari pada rasa sakit hati yang ku rasakan.

    BalasHapus