Label

Senin, 19 Agustus 2013

Still Love You (repost: Bersamamu)

Awalnya kupikir kita adalah satu, kita selalu bersama, selamanya.
Namun mungkin takdir memang tidak seperti yang aku harapkan. Seolah olah menentang untuk kita bersama saling memiliki.
Perpisahan.

****

“Sayang, nanti anterin aku ke toko buku yuk, kemarin aku search ada buku yang best seller gitu, bagus kayanya aku pengen beli.” Rangkulku di lengannya

“Siap bos cantik, mau jam berapa emang?” Dia menjawil daguku

“Hhm, jam 7, kamu jemput aku ya sayang?” Ku tatap matanya

“Iyaa deh, apa sih yang engga buat cantik. Hahaha.” Sambil mengedipkan matanya

“Ihh gombal deh kamu tuh. Ya udah kalo gitu aku ke kelas dulu ya sayang, bye.” Ku kecup pipi kanannya sembari meninggalkannya

Dia hanya membalas dengan senyuman dan berbalik meninggalkan tempat kita mengobrol tadi.

    Aku berfikir akulah orang yang paling beruntung, karena aku memiliki dia. Ya dia. Lelaki yang mendampingiku sekarang, dia terlalu sempurna untukku, dan sekali lagi aku sangat merasa adalah wanita paling beruntung memiliki kekasih yang menurutku melebihi apapun yang berharga dariku.

    Lelaki yang telah menjadi kekasihku selama 1 tahun lebih lamanya, dia terlalu baik untukku yang sangat manja, bawel, semua keinginan harus terturuti, dan berbagai hal lainnya yang menurut orang disekitarku itu menyebalkan. Tetapi hanya dia, dia yang memandangku seolah olah hanya akulah yang ada dimatanya, yang membuatku merasakan bahwa aku adalah satu-satunya miliknya.

    Aku mengenalnya saat MOS. Masa Orientasi Sekolah saat aku memulai menjadi siswi putih abu abu. Dia yang membantuku membuat topi dari karton, karna saat itu aku lupa membawanya, memang kekuranganku , ceroboh.

Semenjak saat itu kita mulai dekat, dan mulai mengenali satu sama lain. Kita sering janjian jalan keluar setelah pulang sekolah,karena sayangnya kita tidak satu kelas, itu yang aku kesalkan sejak melihat pembagian kelas terpampang di papan pengumuman.

    Dialah yang membuatku menjadi lebih baik dan membuat hariku berwarna, dan aku sempat berfikir bahwa aku tak bisa hidup tanpanya, terlalu sulit bila hari hariku ini tak ada dia di sampingku. Aku terlalu bergantung padanya. Dia yang telah merubah hariku yang selama ini gelap, suram dan penuh kebencian menjadi lebih bersemangat untuk menjalaninya.

****

“Hiks..hikss.. “

“Udah dong sayang, jangan nangis gitu, ntar cantiknya ilang lho, nanti aku gak manggil kamu cantik lagi mau? Aku panggil mata panda, soalnya kalo nangis kan matanya jadi gede gede gitu, jelek ahh.” Rayunya sambil mengusap pelan punggungku

“Kemarin kan mama ke rumah, aku seneng banget, kita udah ngobrol banyak, aku juga curhat sama mama, tapi waktu papa pulang semua berubah, malah yang ada mereka jadi berantem. Aku capek Iel, aku udah jadi korban perceraian mereka, begitu semuanya udah selesai, apa aku masih harus liat mereka berantem lagi?”

“Hush.. Udah ahh, sini.” Gabriel memelukku “Aku bilangin ya sayang, mereka mungkin cuma belum bisa menyatukan apa yang dipikiran mereka aja, mama papa kamu memilih berpisah karna mereka memang udah gak cocok dan gak bisa disatuin lagi. Mungkin berpisah itu jalan yang terbaik menurut mereka. Kalau kemarin mama papa kamu berantem, mungkin hanya emosi sesaat aja, atau kalaupun bukan, karena mereka belum siap untuk saling bertemu.” Gabriel membelai rambutku dengan lembut. “Udah dong nangisnya sayang.” Lanjutnya

 Aku menatap Gabriel sesaat “Aku sayang kamu.” Ku eratkan pelukkan dan bersandar di dada bidangnya itu

“Kamu gak sendiri kok, ada aku sayang. Dan bukan cuma kamu yang ngerasain gimana broken home itu, aku juga kok.” Dia tersenyum padaku

“Iyaa aku juga selalu ada buat kamu, kok kamu dewasa banget sih, jadi kaya psikolog deh kamu nih.” Aku mulai tersenyum padanya

“Haha, nah gitu dong senyum, kan jadi kaya matahari yang muncul habis hujan. Cerah banget aku liatnya.” Rangkulannya berubah menjadi dekapan dipipiku

“Kamu itu emang bisa yaa bikin aku selalu seneng, aku sayang banget sama kamu Gabriel Stevent.” Ku peluk erat tubuhnya

“Iya dong harus, soalnya aku paling gak suka liat kamu sedih. Aku lebih lebih lebiiiiiih sayang sama kamu Sivia Azizah yang cantik.” Dia kecup lembut keningku dengan penuh perasaan

Aku bahagia bersamanya. Untuk selamanya.

 ****

“Duh, Fy gimana ini? Gue khawatir banget sama Gabriel, dari semalem itu dia gak ngehubungin gue, gua takut dia kenapa napa.”  Nampak wajahku yang sangat gelisah

“Posthink dulu deh Vi, mungkin dia lagi sibuk atau gak sempet ngehubungin lo karna ada kepentingan mendadak. Mungkin aja kan?” Temanku Ify mencoba untuk menenangkanku

“Tapi itu dia gak biasanya kaya gini Fy, sesibuk sibuknya dia, pasti dia sempetin buat ngabarin gue, kalo enggak dia bilang gak bisa dihubungin sebentar karna sibuk.” Aku meremas tanganku yang berkeringat karna khawatir

“Lo coba tenangin pikiran lo dulu deh, jangan mikirin hal yang aneh-aneh atau yang terburuk bagi Gabriel. Oke?” Ify meraih tanganku yang dingin

“Gimana mau tenang kalo dari semalem dia gak bisa dihubungin. Gue tadi pagi coba buat telepon rumah dia berkali-kali, tapi gak ada yang angkat Fy. Dan apalagi hari ini kita Anniv.” Terdengar suaraku yang semakin meninggi

“Iyaa gue tau kok perasaan lo gimana. Yaudah nanti kita ke kelas Gabriel buat mastiin dia gak kenapa napa. Gue temenin, yaa?” ucap Ify meyakinkan yang mengurangi tingkat kegelisahanku

    Aku mengangguk dan mulai berkonsentrasi untuk menerima pelajaran yang saat ini sedang berjalan. Yang aku yakin pasti hanya menguap begitu saja karna aku terlalu khawatir memikirkan Gabriel dan tidak sabar ingin mempercepat jarum jam untuk menuju jam istirahat. Dan aku bisa memastikan semuanya baik baik saja.

****

“Gabriel hari ini gak masuk Vi, gimana?” Ucap Zahra teman sekelas Gabriel sekaligus menyandang jabatan ketua kelas.

“Hah? Gak masuk? Kenapa?” tanyaku yang tak sabar menginginkan jawaban

“Gak tau deh, gak ada keterangan gitu. Emang kenapa sih? Bukannya lo pacarnya? Kok malah lo gak tau sih.” Jawab Zahra disertai pertanyaan yang pedas

“Hhm, gapapa kok Ra, oke kalo gitu makasih yaa. Ayo duluan.” Ify yang mewakiliku menjawab dan menggandeng tanganku menuju kantin

“Fy, apa gue ini cewek yang kurang perhatian ya sama pacarnya, sampe Gabriel gak ada kabar aja gue gak tau apa apa?” Tanyaku sembari menundukkan kepala

“Yaa enggak lah Vi, lo kan juga udah berusaha buat ngehubungin dia, tapi emang nihil.” Ify mengusap pundakku. “Ohiya mau pesen apa Vi?” Lanjutnya

“Enggak ah, gak nafsu.” Jawabku sekenanya. Rasa lapar dan hausku sudah pergi mejauh entah kemana. Dan saat ini yang memenuhi pikiranku hanyalah Gabriel.

“Yakin Vi gak laper? Habis ini kan kita pelajaran fisika 3 jam. Bakalan ngabisin tenaga yang banyak loh.” Ify kembali bertanya dengan membawa semangkuk bakso

“Iyaa beneran gak ada minat buat makan, udah ah, gue kepikiran Gabriel terus ini.” Jawab gue dengan menutup muka

“Kalo aku yang bawain baksonya kamu minat gak buat makan?”
Aku membuka tangan yang menutupi wajahku perlahan. Aku mengenali suara itu. Tapi, kenapa dia bisa berada disini? Bukannya dia gak masuk sekolah? Ku lihat wajah seseorang didepanku dan....

“Gabrieeeeeeeeeeeeeellll.... Kamu tuh kemana aja? Aku itu khawatir banget tau gak kamu gak ada kabar gitu. Jahat!” Ku hamburkan ke pelukannya dan sedikit kuberi pukulan di dadanya.

“Woo, mau jadi petinju yaa?” Gabriel tersenyum dan menundukkan kepalanya sedikit untuk bisa melihat wajahku, aku memang  lebih pendek darinya.

“Apaan sih? Gak lucu tau gak!” Ku gembungkan pipiku dan menghentakkan kaki

“Dih jelek banget itu mukanya, nih aku kasih ini buat kamu sayang.” Gabriel memberikan sebucket bunga mawar merah dan putih. “Mawar merah arti rasa cinta dan kasih sayang, mawar putih arti ketulusan dan kesucian.” Gabriel melepaskan pelukannya

    Aku mengambilnya dan tersenyum lebar. Aku senang hal hal yang ada dipikiranku tadi lenyap hilang sudah. Aku tak peduli banyak orang disekitar kantin melihat kita.

“Makasih sayangku. Bandel kamu tuh sama aku.” Ku cubit pelan perutnya

“Auhh, ampun bos cantik, galak banget sih. Ikut aku yuk.” Dia usap sekilas perutnya dan berganti menggandengku menuju suatu tempat

“Kita mau kemana sih sayang?” Tanyaku dengan kerutan di wajah yang menandakan aku sedang bingung

“Udah ikut aja, yuk.” Gabriel mempercepat langkahnya

Arah taman?” Aku bergumam

“Tadaaaa, kita udah sampe.” Dia membentangkan tangannya seolah olah mempersembahkan sesuatu

    Ku kerjapkan mataku berkali kali, ku tutup mulutku yang tadinya menganga lebar karna keterkejutanku.

Semak semak yang dililiti kertas warna-warni, bangku taman yang dihias dengan berbagai bunga, batang pohon mangga yang ditempeli poster bertuliskan “Happy 1st Anniversarry My Beautiful Girl” dan terdapat banyak balon berbentuk hati yang menggantungnya.
    Ku dekati bangku taman itu. Ada boneka Teddy Bear berwarna putih besar sekali, mungkin sebesar badanku sendiri. Dan berkalungkan sepucuk surat. Ku raih boneka itu dan ku peluk sejenak, lalu kuambil surat yang menggantung di lehernya.

Selamat Hari perayaan 1 tahun hubungan kita ya cantik.
Semoga kita langgeng.
Dan bisa ngerayain hari seperti ini buat tahun tahun berikutnya.
Maaf kalau sempet ngerjain kamu.
Aku cuma mau ngasih kejutan buat kamu sayang.
Aku sayang banget sama kamu.
Selalu. Selamanya. Kita bersama.

Your love
Gabriel Stevent

    Tak sadar air mataku menetes, aku terlalu bahagia untuk ini semua. Aku percaya, cintanya terlalu besar untukku, dan aku yakin aku akan selalu menjaga cintanya dengan utuh. Dia. Aku merasa sempurna bila dengannya.

“Gimana sayang? Suka gak?” Gabriel meghampiriku.
“Loh, loh, kok nangis? Kamu marah yaa? Kamu gak suka?” Tanyanya sambil menghapus air mataku

    Aku menatapnya, tak banyak yang bisa ku ucapkan padanya. Aku terlalu bahagia karnanya. “Suka banget kok, makasih sayang. Aku suka bangeeeeeet.” Ku peluk dia seerat eratnya sekuat yang ku mampu

Gabriel tersenyum.

****

“Hallo? Iyaa sayang, maaf yaa kayanya nanti kita gak jadi jalan deh. “
“Kenapa sayang?” Tanya Gabriel dari seberang sambungan telepon
“Papa ngajak aku ketemu seseorang yang mau di kenalin ke aku.” Ku manyunkan bibirku
“Oh yaudah gapapa, minggu besok aja kita jalannya.”
“Tapi aku pengen banget jalan sama kamu sayang.” Aku merajuk padanya
“Hey, kita jalan bareng kan bisa kapan aja cantik. Kamu pergi aja sama papa yaa?” Terdengar suara Gabriel melembut
“Ya udah deh iya, maaf ya sayang.”
“Iya gapapa, kamu hati hati di jalan, salam juga buat Om Hadi.”
“Iyaa sayang. Bye love you.”
“Me too.”

****

“Pa, sebenernya kita mau ketemu siapa sih?” Tanyaku yang sejak tadi bosan

“Pokoknya dia baik kok. Pasti kamu suka deh sama dia.”

Aku hanya menganggukkan kepalaku menandakan mengerti.

“Mungkin sebentar lagi dateng , sabar aja yaa, papa liat kok dari tadi kamu gak sabar gitu?” Papa mentatap mataku

“Enggak kok pa, hhm, bentar Sivia ke toilet dulu ya pa.” Ijinku pada papa

“Yaudah sana, jangan lama lama ya.”

Aku pergi meninggalkan papa menuju toilet.

“Aduh mas, maaf ya agak telat, ini tadi nungguin anak saya, mendadak saya ajak.” Seorang wanita cantik datang duduk di depan papa

“Iya gapapa Shan, kita juga baru aja kok, loh sekarang mana anaknya?” Papa bertanya sambil melihat sekitar tak terlihat seseorang yang bersama wanita itu

“Oh itu lagi cari tempat parkir, tadi saya tinggal masuk kesini. Buru buru mas, takut kalian udah nunggu lama. Lah, mana putrimu itu?” Jawab wanita yang dipanggil ‘Shan’ itu

“Owalah kamu ini selalu begitu. Hahaha. Ada kok lagi ke toilet sebentar.”

“Hhm, pa?” Tanyaku sambil menarik bangku

“Nah ini dia orangnya, kenalin ini tante Shanti, ini Sivia putri semata wayangnya saya.” Papa tersenyum dan mengenalkanku dengan seorang wanita yang di depan papa

“Aduh cantik banget ya, kaya anak saya dong, anak semata wayang juga. Tante juga ajak lho, tapi lagi di parkiran.” Jawab tante Shanti

“Makasih tante, tante juga cantik. Oh iya tan.” Aku tersenyum

“Yaudah, udah pada saling kenal kan? Sekarang kita pesan makanan dulu ya.” Papa menawarkan

Aku sedang memilih menu makanan yang aku sukai yang pas untuk menu makan malamku.

“Eh, sayang sini duduk, kenalin ini Om Hadi, dan ini putrinya, Sivia.” Tante Shanti berbicara yang mungkin kepada anaknya itu.

Aku tidak begitu menghiraukannya dan pandanganku masih pada daftar menu makanan yang akan kupilih.

“Om, Si-Sivia.”
Terdengar suara yang bergetar memanggil namaku, dan aku mengenalnya.
Ku dongkakkan kepalaku, ku tatap wajah yang ada di hadapanku sekarang. Aku terkejut, namun aku berusaha tenang, walaupun hatiku berkata ada hal yang menurutku tidak baik...

“G-Gabriel?” Balasku dengan suara yang tak kalah bergetar

“Oh, nak Gabriel itu anakmu toh Shan, iya kami udah kenal sama nak Gabriel ini, dia teman satu sekolahnya Sivia.” Jawab papa yang tanpa beban apapun

“Ya ampun, berarti bagus dong, kita bisa membicarakan tentang hubungan kita ke mereka lebih santai.” Tante Shanti bicara dengan nada semangat

“Hubungan? Maksud tante?” Tanyaku mulai khawatir

“Jadi gini, kita sudah menjalani hubungan ini selama hampir 2 tahun. Dan papa memutuskan akan menikahi tante Shanti.” Jawab papa dengan menatapku

Ku tatap wajah Gabriel yang tak kalah pucatnya dengan wajahku, aku pergi meninggalkan mereka semua. Aku tak bisa mencerna apa yang dikatakan papa. Apa maksud semua ini? Aku butuh waktu untuk sendiri!

****

Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa harus aku? Apa tidak cukup Tuhan memberikan cobaan yang berat, dan setelah Kau kirimkan cahaya penerang bagi hidupku, Kau malah memadamkannya kembali? Apa aku telah melakukan sebuah kesalahan besar sehingga aku harus menanggung semua masalah ini Tuhan?

    Ku peluk erat boneka Teddy Bear pemberian Gabriel dan menumpahkan semua tangisku. Aku tak bisa menerima ini semua. Kenapa harus tante Shanti? Dan kenapa harus Gabriel anaknya!
    Ku nyalakan MP4 milikku yang sudah ku pasang speaker supaya papa tidak mendengar tangisku yang akan ku tumpahkan sepuasnya. Ya, malam tadi aku meninggalkan restoran tempat kita makan malam, dan aku tidak tahu apa yang telah terjadi disana setelah aku pergi.

    Tadi papa berkali kali mengetuk pintu kamarku, namun aku tak menghiraukannya, aku tak ingin mendengarkan penjelasannya saat ini. Handphoneku pun berbunyi terus, ternyata panggilan dari Gabriel. Terpaksa aku mengabaikannya. Ku nonaktifkan handphoneku. Aku ingin sendiri!

Ku keraskan volume suara lagu itu untuk menenggelamkan suara tangisku.

Memandang wajahmu cerah,
membuatku tersenyum senang, indah dunia
Tentu saja kita pernah
mengalami perbedaan, kita lalui
Tapi aku merasa, jatuh terlalu dalam
Cintamu..
Ku tak akan berubah, kutak ingin kau pergi
Selamanya...

Ku kan setia menjagamu, bersama dirimu, dirimu ohh..
Sampai nanti akan selalu bersama dirimu

Seperti yang kau katakan
Kau akan selalu ada, kau akan selalu ada ohh..ohh
Menjaga memeluk diriku
Dengan cintamu
Dengan cintamu...

Saat bersamamu kasih, ku merasa bahagia
Dalam pelukmu..


Tangisku makin menjadi saat ku dengar sebuah lagu yang sangat menggambarkan suasana hatiku saat ini. DAMN!

****

    Sudah 2 hari aku tidak masuk sekolah dan tidak mau keluar kamar. Aku hanya mengurung diri. Tak ada semangat apapun yang ada di hidupku sekarang ini. Aku berfikir ini sudah terlalu berat cobaan bagiku. Aku tak sanggup.
Mungkin berkali-kali aku mencoba untuk mengerti. Tapi aku seakaan akan enggan untuk memaksa otakku mengerti.
Aku mencoba untuk membayangkan ini hanya mimpi buruk dan aku bisa bangun dari keterpurukan itu, tapi ternyata? Ini nyata.
Aku tak peduli dengan keadaanku sekarang. Aku tak peduli dengan perutku yang tak kuisi selama 2 hari, aku tak peduli aku tidak mandi, aku tak peduli dengan mataku yang sudah memerah dan bengkak hingga kurasakan perih sekali, aku tak peduli dengan penampilanku saat ini.
Karena menurutku, tak  ada orang yang peduli akan aku.

    Dulu aku merasa adalah orang yang paling beruntung sejak aku bertemu dengan Gabriel dan aku bisa memilikinya, tapi mengapa? Sekarang aku merasa orang paling menderita, karena aku pernah memperoleh keberunntungan itu.
Aku merasa benci dengan semua orang, papa, Tante Shanti, mama, Gabriel, diriku.


    Setiap hari papa membujukku untuk keluar kamar. Menurutku setelah kejadian malam itu, papa tidak masuk kerja. Karna papa selalu mengetuk pintuku setiap waktu.
Dan sepertinya kemarin sore aku mendegar suara Ify di depan kamarku, yang pasti membujukku untuk keluar kamar. Tetapi aku tak menghiraukannya. Aku masih belum ingin bertemu siapapun untuk saat ini.

    Aku benci siapapun. Mungkin aku egois, karna masalah ini, aku melampiaskan pada orang orang yang tidak bersalah. Aku merasa, orang orang tidak peduli padaku. Bahkan Gabriel. Aku tidak mendengar suaranya membujukku di depan pintu kamarku. Sama sekai tidak.
Aku merasa dia telah melupakanku.

    Atau apakah mungkin, karna dia juga merasakan seperti apa yang aku rasakan? Apa dia juga tidak Iela menerima kenyataan ini? Apa dia lebih kuat dari pada aku? Apa dia bisa berfikir jernih dalam menghadapi masalah ini?  

    Ku coba mengaktifkan Handphoneku, terdapat banyak sekali sms yang masuk dan pemberitauhuan orang yang telah menghubungi.
Ku baca beberapa sms.

From : Ipyyh
Vi, lo kenapa sayang? Udah dua hari ini gak masuk. Gue khawatir banget ;( aktifin hape lo dong Vi.
Please, lo hubungi gue :”(  


From : Ipyyh
Vi, gue tadi udah ketemu bokap lo :’) gue ngerti kok sekarang lo pasti lagi kacau banget. Sabar yaa sayang :’* lo tenang aja, gue selalu ada buat lo. Saat lo butuh :’)
--------------------------------

    Aku menangis membaca sms dari temanku itu, dia memang teman terbaikku, selalu menjadi teman curhatku, dan menjadi penasehatku. Aku kangen dia. Aku ingin bertemu dia.
Ku balas sms Ify yang menumpuk itu.

To : Ipyyh
Fy, maafin gue yaa, gue gatau apa yg harus gue lakuin sekarang. Gue bingung. Fy kesini dong, gue mau cerita :’(

Message to Ipyyh Delivered!

Setelah itu aku membaca salah satu pesan yang membuat mataku perih kembali.

From : beloved<3
Cantik, aku sayang sama kamu. Masalah ini kita hadepin bareng bareng ya sayang ya,  kita harus kuat. Aku udah berusaha untuk bisa lebih dewasa ngadepin masalah ini. Yang aku khawatirin itu kamu. Aku gak tau keadaaan kamu sayang ;( kamu yg kuat ya, disini aku selalu mikirin kamu :’*
Kita selalu bersama kok.
Selalu. Selamanya.


    Ku tenggelamkan kepalaku ke bantal. Ku tatap boneka Teddy Bear putih yang sangat aku sayangi, seperti orang yang memberinya.
Huuftt, aku terlalu lelah.

****

“Yaa ampun Vi, lo kenapa sampe kaya gini? Mau cerita semuanya? Gue siap dengerin kok sayang.” Ucap Ify sembari memelukku

Aku menceritakannya semua yang terjadi pada Ify, begitupun apa yang kurasakan saat ini.

****

“Lo harus kuat ngadepin ini semua yaa Vi, gue tau ini berat banget buat lo, dan pastinya buat Gabriel juga.” Ify memelukku

“Iya, gue tau Fy, gue udah berusaha untuk bisa ngerelain ini semua. Gue gak mau ngecewain papa dan Tante Shanti. Mungkin mereka juga terpukul sama masalah ini, dan gue gak boleh egois.” Perlahan ku lepaskan pelukan Ify

“Gue tau lo itu Sivia yang kuat kok, gue selalu ada di samping lo. Kapanpun lo butuh gue, gue usahain selalu ada.” Ify mengusap pelan pipiku

“Makasih banget yaa Fy, gue gak tau harus bilang apalagi ke lo, gue sekarang udah lega bisa ngungkapin perasaan gue selama ini. Dan mungkin sekarang gue harus ngomong ke papa dan Gabriel”

Ify mengangguk dan tersenyum.

****

“Gabriel....” Ku peluk erat saat dia baru saja membukakan pintu
Gabriel terhuyung ke belakang dan berusaha mengimbanginya

“Sivia?” Terlihat dengan jelas wajah kaget. Lalu aku merasakan pelukan yang tak kalah erat. Aku meneteskan air mata.

Ku lihat Gabriel yang tak kalah kacau dengan penampilanku 3 hari yang lalu, ada lingkaran hitam yang mengitari matanya yang pasti dia kurang tidur.
Terlihat ada cekungan di pipinya. Rambut berantakan tak terurus. Oh, aku merasa bersalah..

“Aku kangen kamu sayang.”

“Aku melebihi dari kamu cantik.” Terdengar suara Gabriel berubah serak

“Iel.. Aku takut, aku gak mau kita pisah sayang.” Ucapku lirih dan menundukkan kepalaku

Gabriel mendongakkan wajahku perlahan. Menatap mataku. Dalam.

“Sayang, segala keinginan kita, gak semua harus tercapai. Ada kalanya kita harus berjuang demi mencapai keinginan itu. Dan dalam mencapai itu semua, belum tentu akan selalu berhasil. Begitupun dengan kita, enggak semua keinginan kita harus terpenuhi. Ada hal yang harus kita pertimbangkan. Atau kata lain kita gak boleh egois. Kita harus memikirkan perasaan orang lain bukan hanya perasaan kita saja.”

“Kalo kita gak egois, terus papa sama tante Shanti apa? Mereka juga gak mikirin perasaan kita Iel!!” Aku membentak perkataan Gabriel

“Hussh..” Gabriel menenangkanku. “Itu bukan keinginan mereka sayang, bukan juga keinginan kita. Semua berjalan begitu saja tanpa ada yang mengetahui itu semua. Gak ada yang perlu di salahkan. Karna memang gak ada yang salah. Hanya takdir yang salah menempatkan dirinya. Itu semua udah terjadi sayang.” Gabriel menggenggam erat tanganku

“Tapi aku sayang kamu Iel, aku gak mau kita pisah, apa harus kita yang berkorban demi orangtua kita? Sedangkan kita juga udah pernah jadi korban orangtua kita itu sendiri! Apa selalu kita? Apa karna kita hanya seorang anak dan bisa diatur semau orangtua kita!” Ucapku dengan penuh amarah

“Sivia, ada hal yang mungkin memang belum kamu ketahui untuk saat ini. Mama dan Om Hadi pasti punya alasan yang kuat sampai bisa memutuskan untuk menikah. Sekarang kamu coba belajar untuk merelakan apa yang selama ini kamu pegang teguh. Aku mohon sayang, hapus ego kamu. Mama dan Om Hadi sudah hampir 2 tahun menjalaninya. Dan apakah karna ke-egoisan kita, semua jadi hancur? Apakah kamu tega Sivia?”

“Dan apakah mereka juga tega mengahancurkan semua impian kita?” Ku alihkan pandanganku dari wajah Gabriel, aku sudah lelah dengan pembicaraan ini. Gabriel mencoba mengusap pelan tanganku yang sedari tadi ia genggam

“Coba liat aku sayang.” Gabriel mengarahkan pipiku ke wajanya.

“Impian mereka itu impian kita juga, percaya sama aku sayang.” Ucap Gabriel dan menatapku dengan tatapan memohon

“Kita gak bisa sama-sama lagi! Dan janji kamu? Selalu bersama selamanya? Gak akan bisa lagi!” Kini tangisku pecah seketika, pertahananku jebol. Aku sudah tidak bisa menahannya. Terlalu sesak di hatiku. Aku tak ingin berpisah dengannya Tuhan...

“Janji aku sama kamu gak bakal aku ingkari. Percaya sama aku sayang, aku akan lebih dekat sama kamu. Aku akan tetap menyayangi kamu, mencintai kamu, melindungi kamu. Dan itu akan abadi. Selamanya. Bersama kamu.” Gabriel membawaku kepelukkannya.

    Aku terlarut oleh dekapannya. Aku percaya. Aku percaya dengan dia. Aku coba untuk merelakan semua. Karna aku terlalu mencintainya.
Semoga ini menjadi jalan yang terbaik untukku Tuhan. Aku ingin bahagia. Dan aku tahu, Kau pasti memberikan itu padaku Tuhan. Dengan cara-Mu sendiri, aku percaya...

****


“Pa..” Ku ketuk pelan pintu kamar papa

Tak lama pintu terbuka, dan seseorang memeluk tubuhku erat sekali.

“Sayang? Papa seneng kamu udah mau bicara sama papa. Ada apa sayang? Ada yang mau diomongin? Selama ini papa udah berfikir Vi, waktu itu Gabriel udah cerita semuanya ke papa, dan papa selama itu memang enggak tau hubungan kamu sama Gabriel. Maafin papa ya sayang.”
Papa membawaku masuk ke dalam kamar dan mendudukkan ku di tempat tidur.

“Dan papa berfikir, mungkin papa akan mengakhiri hubungan papa dengan Tante Shanti. Papa gak mau nyakitin kamu sayang.” Ujar papa sambil mengusap lembut rambutku

    Aku terkejut. Aku menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
“Enggak pa, papa gak boleh mutusin hubungan sama Tante Shanti, Sivia gak mau jadi penghalang. Papa butuh Tante Shanti, dan mungkin Sivia juga.” Aku mengucapkan dengan tersenyum

“Tapi gimana kamu dengan Gabriel sayang? Kalian kan juga saling mencintai. Papa gak mungkin menyakiti hati anak papa sendiri.” Kening papa berkerut

“Sivia udah rela kok pa, Sivia malah lebih sakit kalo liat papa gak jadi menikah sama Tante Shanti.”

Papa memelukku, mengecup puncak kepalaku. “Papa sayang kamu Sivia.”
Ku balas pelukan papa. “Sivia juga sayang papa.”


****

    Hari ini pernikahan papa dan Tante Shanti. Entah mengapa aku belum pernah merasakan perasaan sebahagia ini, mama memelukku dengan hangat, dan dia bersama suaminya. Mama terlihat begitu senang. Aku tersenyum.

Papa Gabriel pun datang. Sendiri. Namun dengan wajah yang tegas dan tak kalah bahagia, mendekap erat Gabriel dan menepuk nepuk pundaknya.

    Aku belum pernah melihat papa selalu menebarkan senyumnya semenjak 3 tahun yang lalu. Papa memeluk pinggang Tante Shanti yang terlihat begitu cantik. Dan mulai dari sekarang aku harus memanggil dengan sebutan ‘mama’.

    Mereka semua yang aku cintai, mereka semua yang aku sayangi. Bersatu. Dengan perasaan bahagia. Aku tahu semua ini pasti akan terjadi.

    Gabriel menggenggam erat tanganku. Ku tolehkan kepalaku menghadap wajahnya.
Dia tersenyum.

****

We were as one babe
For a moment in time
And seemed everlasting
That you always be mine
Now you want to be free
So i’m letting you fly
Cause i know in my heart babe
Our love will never die
No!

You’ll always be a apart of me
I’m a part of you indefenitely
Girl dont you know you cant escape me
Oh darling cause you’ll always be my baby
And we’ll linger on
Time cant erase a feeling this strong
No way youre never gonna shake me
Oh darling cause you’ll always be my baby
.......................

“Kita itu udah jadi satu, aku punya kamu, kamu punya aku. Ada yang bilang cinta itu gak harus memiliki. Tapi kali ini aku beruntung, aku bisa memiliki kamu. Kamu selalu menjadi bagian dari aku. Dan kamu gak bisa mengelak itu semua. Begitupun juga aku.” Gabriel merangkul pundakku dan menolehkan wajahnya. Menatapku.

“Aku tau itu. Kita memang gak bisa saling memiliki dalam hal kekasih. Tapi kita bisa memiliki sebagai cinta yang gak bisa di pisahkan. Karna sekarang status aku jadi adek kamu, jadi kita gak bisa putus deh. Hehehe.” Aku tertawa lepas

“Dih, pinter ngomongnya. Hahaha.. Dan sekarang aku bakalan buktiin janji aku ke kamu, kita sekarang bakalan selalu bersama selamanya. Aku tetap sama kamu, walaupun dengan cara yang berbeda. Malahan sekarang satu rumah kan? Haha, tiap hari ketemu, tiap jam juga malahan. Hahaha, jadi gausah bawel bilang kangen mulu kaya dulu yaa adek kecilkuuuuuu.” Goda Gabriel sambil mencubit hidungku

“Apaansih woo! Iyaa aja deh yang sekarang jadi tua, kakak Gabrielkuuuuuu. Hahaha.” Ku cubit pinggangnya dengan keras, lalu aku lari meninggalkannya. Gabriel mengejarku.

    Ada kalanya kita merelakan hal yang paling kita takutkan untuk pergi. Tak ada salahnya berkorban untuk orang yang kita cintai. Semua keinginan kita pasti tercapai, dengan cara yang berbeda dengan jalan yang berbeda dan dengan wujud yang berbeda pula.
    Tuhan pasti mempunyai rencana yang lain ketika kita merasa gagal. Merasa kita menderita, merasa kita paling tidak bahagia.
Kebahagiaan itu bisa dapat dengan cara yang menyakitkan sekalipun. Dengan cara yang tidak kita ingini sebelumnya.

    Semua hal itu memang tidak bisa di terka, tidak bisa di ketahui dengan cara yang mudah. Terimakasih Tuhan, memberikanku kebahagiaan dengan cara ini, aku, Gabriel, mama, papa. Mungkin tak ku fikirkan sebelumnya akan terjadi seperti ini.
Hal yang aku rencanakan, di luar rencanaku. Tetapi dalam rencana-Mu.

    Aku bahagia. Aku tetap bersama dia. Selalu Selamaya. Bersama...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar