Awalnya kupikir kita adalah satu, kita selalu bersama, selamanya.
Namun mungkin takdir memang tidak seperti yang aku harapkan. Seolah olah menentang untuk kita bersama saling memiliki.
Perpisahan.
****
“Sayang,
nanti anterin aku ke toko buku yuk, kemarin aku search ada buku yang
best seller gitu, bagus kayanya aku pengen beli.” Rangkulku di lengannya
“Siap bos cantik, mau jam berapa emang?” Dia menjawil daguku
“Hhm, jam 7, kamu jemput aku ya sayang?” Ku tatap matanya
“Iyaa deh, apa sih yang engga buat cantik. Hahaha.” Sambil mengedipkan matanya
“Ihh gombal deh kamu tuh. Ya udah kalo gitu aku ke kelas dulu ya sayang, bye.” Ku kecup pipi kanannya sembari meninggalkannya
Dia hanya membalas dengan senyuman dan berbalik meninggalkan tempat kita mengobrol tadi.
Aku berfikir akulah orang yang paling beruntung, karena aku memiliki
dia. Ya dia. Lelaki yang mendampingiku sekarang, dia terlalu sempurna
untukku, dan sekali lagi aku sangat merasa adalah wanita paling
beruntung memiliki kekasih yang menurutku melebihi apapun yang berharga
dariku.
Lelaki yang telah menjadi kekasihku selama 1
tahun lebih lamanya, dia terlalu baik untukku yang sangat manja, bawel,
semua keinginan harus terturuti, dan berbagai hal lainnya yang menurut
orang disekitarku itu menyebalkan. Tetapi hanya dia, dia yang
memandangku seolah olah hanya akulah yang ada dimatanya, yang membuatku
merasakan bahwa aku adalah satu-satunya miliknya.
Aku
mengenalnya saat MOS. Masa Orientasi Sekolah saat aku memulai menjadi
siswi putih abu abu. Dia yang membantuku membuat topi dari karton, karna
saat itu aku lupa membawanya, memang kekuranganku , ceroboh.
Semenjak
saat itu kita mulai dekat, dan mulai mengenali satu sama lain. Kita
sering janjian jalan keluar setelah pulang sekolah,karena sayangnya kita
tidak satu kelas, itu yang aku kesalkan sejak melihat pembagian kelas
terpampang di papan pengumuman.
Dialah yang membuatku
menjadi lebih baik dan membuat hariku berwarna, dan aku sempat berfikir
bahwa aku tak bisa hidup tanpanya, terlalu sulit bila hari hariku ini
tak ada dia di sampingku. Aku terlalu bergantung padanya. Dia yang telah
merubah hariku yang selama ini gelap, suram dan penuh kebencian menjadi
lebih bersemangat untuk menjalaninya.
****
“Hiks..hikss.. “
“Udah
dong sayang, jangan nangis gitu, ntar cantiknya ilang lho, nanti aku
gak manggil kamu cantik lagi mau? Aku panggil mata panda, soalnya kalo
nangis kan matanya jadi gede gede gitu, jelek ahh.” Rayunya sambil
mengusap pelan punggungku
“Kemarin kan mama ke rumah, aku
seneng banget, kita udah ngobrol banyak, aku juga curhat sama mama, tapi
waktu papa pulang semua berubah, malah yang ada mereka jadi berantem.
Aku capek Iel, aku udah jadi korban perceraian mereka, begitu semuanya
udah selesai, apa aku masih harus liat mereka berantem lagi?”
“Hush..
Udah ahh, sini.” Gabriel memelukku “Aku bilangin ya sayang, mereka
mungkin cuma belum bisa menyatukan apa yang dipikiran mereka aja, mama
papa kamu memilih berpisah karna mereka memang udah gak cocok dan gak
bisa disatuin lagi. Mungkin berpisah itu jalan yang terbaik menurut
mereka. Kalau kemarin mama papa kamu berantem, mungkin hanya emosi
sesaat aja, atau kalaupun bukan, karena mereka belum siap untuk saling
bertemu.” Gabriel membelai rambutku dengan lembut. “Udah dong nangisnya
sayang.” Lanjutnya
Aku menatap Gabriel sesaat “Aku sayang kamu.” Ku eratkan pelukkan dan bersandar di dada bidangnya itu
“Kamu
gak sendiri kok, ada aku sayang. Dan bukan cuma kamu yang ngerasain
gimana broken home itu, aku juga kok.” Dia tersenyum padaku
“Iyaa aku juga selalu ada buat kamu, kok kamu dewasa banget sih, jadi kaya psikolog deh kamu nih.” Aku mulai tersenyum padanya
“Haha,
nah gitu dong senyum, kan jadi kaya matahari yang muncul habis hujan.
Cerah banget aku liatnya.” Rangkulannya berubah menjadi dekapan dipipiku
“Kamu itu emang bisa yaa bikin aku selalu seneng, aku sayang banget sama kamu Gabriel Stevent.” Ku peluk erat tubuhnya
“Iya
dong harus, soalnya aku paling gak suka liat kamu sedih. Aku lebih
lebih lebiiiiiih sayang sama kamu Sivia Azizah yang cantik.” Dia kecup
lembut keningku dengan penuh perasaan
Aku bahagia bersamanya. Untuk selamanya.
****
“Duh,
Fy gimana ini? Gue khawatir banget sama Gabriel, dari semalem itu dia
gak ngehubungin gue, gua takut dia kenapa napa.” Nampak wajahku yang
sangat gelisah
“Posthink dulu deh Vi, mungkin dia lagi
sibuk atau gak sempet ngehubungin lo karna ada kepentingan mendadak.
Mungkin aja kan?” Temanku Ify mencoba untuk menenangkanku
“Tapi
itu dia gak biasanya kaya gini Fy, sesibuk sibuknya dia, pasti dia
sempetin buat ngabarin gue, kalo enggak dia bilang gak bisa dihubungin
sebentar karna sibuk.” Aku meremas tanganku yang berkeringat karna
khawatir
“Lo coba tenangin pikiran lo dulu deh, jangan
mikirin hal yang aneh-aneh atau yang terburuk bagi Gabriel. Oke?” Ify
meraih tanganku yang dingin
“Gimana mau tenang kalo dari
semalem dia gak bisa dihubungin. Gue tadi pagi coba buat telepon rumah
dia berkali-kali, tapi gak ada yang angkat Fy. Dan apalagi hari ini kita
Anniv.” Terdengar suaraku yang semakin meninggi
“Iyaa gue
tau kok perasaan lo gimana. Yaudah nanti kita ke kelas Gabriel buat
mastiin dia gak kenapa napa. Gue temenin, yaa?” ucap Ify meyakinkan yang
mengurangi tingkat kegelisahanku
Aku mengangguk dan
mulai berkonsentrasi untuk menerima pelajaran yang saat ini sedang
berjalan. Yang aku yakin pasti hanya menguap begitu saja karna aku
terlalu khawatir memikirkan Gabriel dan tidak sabar ingin mempercepat
jarum jam untuk menuju jam istirahat. Dan aku bisa memastikan semuanya
baik baik saja.
****
“Gabriel hari ini gak masuk Vi, gimana?” Ucap Zahra teman sekelas Gabriel sekaligus menyandang jabatan ketua kelas.
“Hah? Gak masuk? Kenapa?” tanyaku yang tak sabar menginginkan jawaban
“Gak
tau deh, gak ada keterangan gitu. Emang kenapa sih? Bukannya lo
pacarnya? Kok malah lo gak tau sih.” Jawab Zahra disertai pertanyaan
yang pedas
“Hhm, gapapa kok Ra, oke kalo gitu makasih yaa. Ayo duluan.” Ify yang mewakiliku menjawab dan menggandeng tanganku menuju kantin
“Fy,
apa gue ini cewek yang kurang perhatian ya sama pacarnya, sampe Gabriel
gak ada kabar aja gue gak tau apa apa?” Tanyaku sembari menundukkan
kepala
“Yaa enggak lah Vi, lo kan juga udah berusaha buat
ngehubungin dia, tapi emang nihil.” Ify mengusap pundakku. “Ohiya mau
pesen apa Vi?” Lanjutnya
“Enggak ah, gak nafsu.” Jawabku
sekenanya. Rasa lapar dan hausku sudah pergi mejauh entah kemana. Dan
saat ini yang memenuhi pikiranku hanyalah Gabriel.
“Yakin
Vi gak laper? Habis ini kan kita pelajaran fisika 3 jam. Bakalan
ngabisin tenaga yang banyak loh.” Ify kembali bertanya dengan membawa
semangkuk bakso
“Iyaa beneran gak ada minat buat makan, udah ah, gue kepikiran Gabriel terus ini.” Jawab gue dengan menutup muka
“Kalo aku yang bawain baksonya kamu minat gak buat makan?”
Aku
membuka tangan yang menutupi wajahku perlahan. Aku mengenali suara itu.
Tapi, kenapa dia bisa berada disini? Bukannya dia gak masuk sekolah? Ku
lihat wajah seseorang didepanku dan....
“Gabrieeeeeeeeeeeeeellll....
Kamu tuh kemana aja? Aku itu khawatir banget tau gak kamu gak ada kabar
gitu. Jahat!” Ku hamburkan ke pelukannya dan sedikit kuberi pukulan di
dadanya.
“Woo, mau jadi petinju yaa?” Gabriel tersenyum
dan menundukkan kepalanya sedikit untuk bisa melihat wajahku, aku
memang lebih pendek darinya.
“Apaan sih? Gak lucu tau gak!” Ku gembungkan pipiku dan menghentakkan kaki
“Dih
jelek banget itu mukanya, nih aku kasih ini buat kamu sayang.” Gabriel
memberikan sebucket bunga mawar merah dan putih. “Mawar merah arti rasa
cinta dan kasih sayang, mawar putih arti ketulusan dan kesucian.”
Gabriel melepaskan pelukannya
Aku mengambilnya dan
tersenyum lebar. Aku senang hal hal yang ada dipikiranku tadi lenyap
hilang sudah. Aku tak peduli banyak orang disekitar kantin melihat kita.
“Makasih sayangku. Bandel kamu tuh sama aku.” Ku cubit pelan perutnya
“Auhh,
ampun bos cantik, galak banget sih. Ikut aku yuk.” Dia usap sekilas
perutnya dan berganti menggandengku menuju suatu tempat
“Kita mau kemana sih sayang?” Tanyaku dengan kerutan di wajah yang menandakan aku sedang bingung
“Udah ikut aja, yuk.” Gabriel mempercepat langkahnya
“Arah taman?” Aku bergumam
“Tadaaaa, kita udah sampe.” Dia membentangkan tangannya seolah olah mempersembahkan sesuatu
Ku kerjapkan mataku berkali kali, ku tutup mulutku yang tadinya menganga lebar karna keterkejutanku.
Semak
semak yang dililiti kertas warna-warni, bangku taman yang dihias dengan
berbagai bunga, batang pohon mangga yang ditempeli poster bertuliskan “Happy 1st Anniversarry My Beautiful Girl” dan terdapat banyak balon berbentuk hati yang menggantungnya.
Ku dekati bangku taman itu. Ada boneka Teddy Bear berwarna putih besar
sekali, mungkin sebesar badanku sendiri. Dan berkalungkan sepucuk
surat. Ku raih boneka itu dan ku peluk sejenak, lalu kuambil surat yang
menggantung di lehernya.
Selamat Hari perayaan 1 tahun hubungan kita ya cantik.
Semoga kita langgeng.
Dan bisa ngerayain hari seperti ini buat tahun tahun berikutnya.
Maaf kalau sempet ngerjain kamu.
Aku cuma mau ngasih kejutan buat kamu sayang.
Aku sayang banget sama kamu.
Selalu. Selamanya. Kita bersama.
Your love
Gabriel Stevent
Tak sadar air mataku menetes, aku terlalu bahagia untuk ini semua. Aku
percaya, cintanya terlalu besar untukku, dan aku yakin aku akan selalu
menjaga cintanya dengan utuh. Dia. Aku merasa sempurna bila dengannya.
“Gimana sayang? Suka gak?” Gabriel meghampiriku.
“Loh, loh, kok nangis? Kamu marah yaa? Kamu gak suka?” Tanyanya sambil menghapus air mataku
Aku menatapnya, tak banyak yang bisa ku ucapkan padanya. Aku terlalu
bahagia karnanya. “Suka banget kok, makasih sayang. Aku suka
bangeeeeeet.” Ku peluk dia seerat eratnya sekuat yang ku mampu
Gabriel tersenyum.
****
“Hallo? Iyaa sayang, maaf yaa kayanya nanti kita gak jadi jalan deh. “
“Kenapa sayang?” Tanya Gabriel dari seberang sambungan telepon
“Papa ngajak aku ketemu seseorang yang mau di kenalin ke aku.” Ku manyunkan bibirku
“Oh yaudah gapapa, minggu besok aja kita jalannya.”
“Tapi aku pengen banget jalan sama kamu sayang.” Aku merajuk padanya
“Hey, kita jalan bareng kan bisa kapan aja cantik. Kamu pergi aja sama papa yaa?” Terdengar suara Gabriel melembut
“Ya udah deh iya, maaf ya sayang.”
“Iya gapapa, kamu hati hati di jalan, salam juga buat Om Hadi.”
“Iyaa sayang. Bye love you.”
“Me too.”
****
“Pa, sebenernya kita mau ketemu siapa sih?” Tanyaku yang sejak tadi bosan
“Pokoknya dia baik kok. Pasti kamu suka deh sama dia.”
Aku hanya menganggukkan kepalaku menandakan mengerti.
“Mungkin sebentar lagi dateng , sabar aja yaa, papa liat kok dari tadi kamu gak sabar gitu?” Papa mentatap mataku
“Enggak kok pa, hhm, bentar Sivia ke toilet dulu ya pa.” Ijinku pada papa
“Yaudah sana, jangan lama lama ya.”
Aku pergi meninggalkan papa menuju toilet.
“Aduh
mas, maaf ya agak telat, ini tadi nungguin anak saya, mendadak saya
ajak.” Seorang wanita cantik datang duduk di depan papa
“Iya
gapapa Shan, kita juga baru aja kok, loh sekarang mana anaknya?” Papa
bertanya sambil melihat sekitar tak terlihat seseorang yang bersama
wanita itu
“Oh itu lagi cari tempat parkir, tadi saya
tinggal masuk kesini. Buru buru mas, takut kalian udah nunggu lama. Lah,
mana putrimu itu?” Jawab wanita yang dipanggil ‘Shan’ itu
“Owalah kamu ini selalu begitu. Hahaha. Ada kok lagi ke toilet sebentar.”
“Hhm, pa?” Tanyaku sambil menarik bangku
“Nah
ini dia orangnya, kenalin ini tante Shanti, ini Sivia putri semata
wayangnya saya.” Papa tersenyum dan mengenalkanku dengan seorang wanita
yang di depan papa
“Aduh cantik banget ya, kaya anak saya
dong, anak semata wayang juga. Tante juga ajak lho, tapi lagi di
parkiran.” Jawab tante Shanti
“Makasih tante, tante juga cantik. Oh iya tan.” Aku tersenyum
“Yaudah, udah pada saling kenal kan? Sekarang kita pesan makanan dulu ya.” Papa menawarkan
Aku sedang memilih menu makanan yang aku sukai yang pas untuk menu makan malamku.
“Eh, sayang sini duduk, kenalin ini Om Hadi, dan ini putrinya, Sivia.” Tante Shanti berbicara yang mungkin kepada anaknya itu.
Aku tidak begitu menghiraukannya dan pandanganku masih pada daftar menu makanan yang akan kupilih.
“Om, Si-Sivia.”
Terdengar suara yang bergetar memanggil namaku, dan aku mengenalnya.
Ku
dongkakkan kepalaku, ku tatap wajah yang ada di hadapanku sekarang. Aku
terkejut, namun aku berusaha tenang, walaupun hatiku berkata ada hal
yang menurutku tidak baik...
“G-Gabriel?” Balasku dengan suara yang tak kalah bergetar
“Oh,
nak Gabriel itu anakmu toh Shan, iya kami udah kenal sama nak Gabriel
ini, dia teman satu sekolahnya Sivia.” Jawab papa yang tanpa beban
apapun
“Ya ampun, berarti bagus dong, kita bisa
membicarakan tentang hubungan kita ke mereka lebih santai.” Tante Shanti
bicara dengan nada semangat
“Hubungan? Maksud tante?” Tanyaku mulai khawatir
“Jadi
gini, kita sudah menjalani hubungan ini selama hampir 2 tahun. Dan papa
memutuskan akan menikahi tante Shanti.” Jawab papa dengan menatapku
Ku
tatap wajah Gabriel yang tak kalah pucatnya dengan wajahku, aku pergi
meninggalkan mereka semua. Aku tak bisa mencerna apa yang dikatakan
papa. Apa maksud semua ini? Aku butuh waktu untuk sendiri!
****
Kenapa
ini harus terjadi padaku? Kenapa harus aku? Apa tidak cukup Tuhan
memberikan cobaan yang berat, dan setelah Kau kirimkan cahaya penerang
bagi hidupku, Kau malah memadamkannya kembali? Apa aku telah melakukan
sebuah kesalahan besar sehingga aku harus menanggung semua masalah ini
Tuhan?
Ku peluk erat boneka Teddy Bear pemberian
Gabriel dan menumpahkan semua tangisku. Aku tak bisa menerima ini semua.
Kenapa harus tante Shanti? Dan kenapa harus Gabriel anaknya!
Ku nyalakan MP4 milikku yang sudah ku pasang speaker supaya papa tidak
mendengar tangisku yang akan ku tumpahkan sepuasnya. Ya, malam tadi aku
meninggalkan restoran tempat kita makan malam, dan aku tidak tahu apa
yang telah terjadi disana setelah aku pergi.
Tadi papa
berkali kali mengetuk pintu kamarku, namun aku tak menghiraukannya, aku
tak ingin mendengarkan penjelasannya saat ini. Handphoneku pun berbunyi
terus, ternyata panggilan dari Gabriel. Terpaksa aku mengabaikannya. Ku
nonaktifkan handphoneku. Aku ingin sendiri!
Ku keraskan volume suara lagu itu untuk menenggelamkan suara tangisku.
Memandang wajahmu cerah,
membuatku tersenyum senang, indah dunia
Tentu saja kita pernah
mengalami perbedaan, kita lalui
Tapi aku merasa, jatuh terlalu dalam
Cintamu..
Ku tak akan berubah, kutak ingin kau pergi
Selamanya...
Ku kan setia menjagamu, bersama dirimu, dirimu ohh..
Sampai nanti akan selalu bersama dirimu
Seperti yang kau katakan
Kau akan selalu ada, kau akan selalu ada ohh..ohh
Menjaga memeluk diriku
Dengan cintamu
Dengan cintamu...
Saat bersamamu kasih, ku merasa bahagia
Dalam pelukmu..
Tangisku makin menjadi saat ku dengar sebuah lagu yang sangat menggambarkan suasana hatiku saat ini. DAMN!
****
Sudah 2 hari aku tidak masuk sekolah dan tidak mau keluar kamar. Aku
hanya mengurung diri. Tak ada semangat apapun yang ada di hidupku
sekarang ini. Aku berfikir ini sudah terlalu berat cobaan bagiku. Aku
tak sanggup.
Mungkin berkali-kali aku mencoba untuk mengerti. Tapi aku seakaan akan enggan untuk memaksa otakku mengerti.
Aku mencoba untuk membayangkan ini hanya mimpi buruk dan aku bisa bangun dari keterpurukan itu, tapi ternyata? Ini nyata.
Aku
tak peduli dengan keadaanku sekarang. Aku tak peduli dengan perutku
yang tak kuisi selama 2 hari, aku tak peduli aku tidak mandi, aku tak
peduli dengan mataku yang sudah memerah dan bengkak hingga kurasakan
perih sekali, aku tak peduli dengan penampilanku saat ini.
Karena menurutku, tak ada orang yang peduli akan aku.
Dulu aku merasa adalah orang yang paling beruntung sejak aku bertemu
dengan Gabriel dan aku bisa memilikinya, tapi mengapa? Sekarang aku
merasa orang paling menderita, karena aku pernah memperoleh
keberunntungan itu.
Aku merasa benci dengan semua orang, papa, Tante Shanti, mama, Gabriel, diriku.
Setiap hari papa membujukku untuk keluar kamar. Menurutku setelah
kejadian malam itu, papa tidak masuk kerja. Karna papa selalu mengetuk
pintuku setiap waktu.
Dan sepertinya kemarin sore aku mendegar
suara Ify di depan kamarku, yang pasti membujukku untuk keluar kamar.
Tetapi aku tak menghiraukannya. Aku masih belum ingin bertemu siapapun
untuk saat ini.
Aku benci siapapun. Mungkin aku egois,
karna masalah ini, aku melampiaskan pada orang orang yang tidak
bersalah. Aku merasa, orang orang tidak peduli padaku. Bahkan Gabriel.
Aku tidak mendengar suaranya membujukku di depan pintu kamarku. Sama
sekai tidak.
Aku merasa dia telah melupakanku.
Atau apakah mungkin, karna dia juga merasakan seperti apa yang aku
rasakan? Apa dia juga tidak Iela menerima kenyataan ini? Apa dia lebih
kuat dari pada aku? Apa dia bisa berfikir jernih dalam menghadapi
masalah ini?
Ku coba mengaktifkan Handphoneku, terdapat banyak sekali sms yang masuk dan pemberitauhuan orang yang telah menghubungi.
Ku baca beberapa sms.
From : Ipyyh
Vi, lo kenapa sayang? Udah dua hari ini gak masuk. Gue khawatir banget ;( aktifin hape lo dong Vi.
Please, lo hubungi gue :”(
From : Ipyyh
Vi,
gue tadi udah ketemu bokap lo :’) gue ngerti kok sekarang lo pasti lagi
kacau banget. Sabar yaa sayang :’* lo tenang aja, gue selalu ada buat
lo. Saat lo butuh :’)
--------------------------------
Aku menangis membaca sms dari temanku itu, dia memang teman terbaikku,
selalu menjadi teman curhatku, dan menjadi penasehatku. Aku kangen dia.
Aku ingin bertemu dia.
Ku balas sms Ify yang menumpuk itu.
To : Ipyyh
Fy, maafin gue yaa, gue gatau apa yg harus gue lakuin sekarang. Gue bingung. Fy kesini dong, gue mau cerita :’(
Message to Ipyyh Delivered!
Setelah itu aku membaca salah satu pesan yang membuat mataku perih kembali.
From : beloved<3
Cantik,
aku sayang sama kamu. Masalah ini kita hadepin bareng bareng ya sayang
ya, kita harus kuat. Aku udah berusaha untuk bisa lebih dewasa ngadepin
masalah ini. Yang aku khawatirin itu kamu. Aku gak tau keadaaan kamu
sayang ;( kamu yg kuat ya, disini aku selalu mikirin kamu :’*
Kita selalu bersama kok.
Selalu. Selamanya.
Ku tenggelamkan kepalaku ke bantal. Ku tatap boneka Teddy Bear putih yang sangat aku sayangi, seperti orang yang memberinya.
Huuftt, aku terlalu lelah.
****
“Yaa ampun Vi, lo kenapa sampe kaya gini? Mau cerita semuanya? Gue siap dengerin kok sayang.” Ucap Ify sembari memelukku
Aku menceritakannya semua yang terjadi pada Ify, begitupun apa yang kurasakan saat ini.
****
“Lo harus kuat ngadepin ini semua yaa Vi, gue tau ini berat banget buat lo, dan pastinya buat Gabriel juga.” Ify memelukku
“Iya,
gue tau Fy, gue udah berusaha untuk bisa ngerelain ini semua. Gue gak
mau ngecewain papa dan Tante Shanti. Mungkin mereka juga terpukul sama
masalah ini, dan gue gak boleh egois.” Perlahan ku lepaskan pelukan Ify
“Gue
tau lo itu Sivia yang kuat kok, gue selalu ada di samping lo. Kapanpun
lo butuh gue, gue usahain selalu ada.” Ify mengusap pelan pipiku
“Makasih
banget yaa Fy, gue gak tau harus bilang apalagi ke lo, gue sekarang
udah lega bisa ngungkapin perasaan gue selama ini. Dan mungkin sekarang
gue harus ngomong ke papa dan Gabriel”
Ify mengangguk dan tersenyum.
****
“Gabriel....” Ku peluk erat saat dia baru saja membukakan pintu
Gabriel terhuyung ke belakang dan berusaha mengimbanginya
“Sivia?” Terlihat dengan jelas wajah kaget. Lalu aku merasakan pelukan yang tak kalah erat. Aku meneteskan air mata.
Ku
lihat Gabriel yang tak kalah kacau dengan penampilanku 3 hari yang
lalu, ada lingkaran hitam yang mengitari matanya yang pasti dia kurang
tidur.
Terlihat ada cekungan di pipinya. Rambut berantakan tak terurus. Oh, aku merasa bersalah..
“Aku kangen kamu sayang.”
“Aku melebihi dari kamu cantik.” Terdengar suara Gabriel berubah serak
“Iel.. Aku takut, aku gak mau kita pisah sayang.” Ucapku lirih dan menundukkan kepalaku
Gabriel mendongakkan wajahku perlahan. Menatap mataku. Dalam.
“Sayang,
segala keinginan kita, gak semua harus tercapai. Ada kalanya kita harus
berjuang demi mencapai keinginan itu. Dan dalam mencapai itu semua,
belum tentu akan selalu berhasil. Begitupun dengan kita, enggak semua
keinginan kita harus terpenuhi. Ada hal yang harus kita pertimbangkan.
Atau kata lain kita gak boleh egois. Kita harus memikirkan perasaan
orang lain bukan hanya perasaan kita saja.”
“Kalo kita gak
egois, terus papa sama tante Shanti apa? Mereka juga gak mikirin
perasaan kita Iel!!” Aku membentak perkataan Gabriel
“Hussh..”
Gabriel menenangkanku. “Itu bukan keinginan mereka sayang, bukan juga
keinginan kita. Semua berjalan begitu saja tanpa ada yang mengetahui itu
semua. Gak ada yang perlu di salahkan. Karna memang gak ada yang salah.
Hanya takdir yang salah menempatkan dirinya. Itu semua udah terjadi
sayang.” Gabriel menggenggam erat tanganku
“Tapi aku
sayang kamu Iel, aku gak mau kita pisah, apa harus kita yang berkorban
demi orangtua kita? Sedangkan kita juga udah pernah jadi korban orangtua
kita itu sendiri! Apa selalu kita? Apa karna kita hanya seorang anak
dan bisa diatur semau orangtua kita!” Ucapku dengan penuh amarah
“Sivia,
ada hal yang mungkin memang belum kamu ketahui untuk saat ini. Mama dan
Om Hadi pasti punya alasan yang kuat sampai bisa memutuskan untuk
menikah. Sekarang kamu coba belajar untuk merelakan apa yang selama ini
kamu pegang teguh. Aku mohon sayang, hapus ego kamu. Mama dan Om Hadi
sudah hampir 2 tahun menjalaninya. Dan apakah karna ke-egoisan kita,
semua jadi hancur? Apakah kamu tega Sivia?”
“Dan apakah
mereka juga tega mengahancurkan semua impian kita?” Ku alihkan
pandanganku dari wajah Gabriel, aku sudah lelah dengan pembicaraan ini.
Gabriel mencoba mengusap pelan tanganku yang sedari tadi ia genggam
“Coba liat aku sayang.” Gabriel mengarahkan pipiku ke wajanya.
“Impian mereka itu impian kita juga, percaya sama aku sayang.” Ucap Gabriel dan menatapku dengan tatapan memohon
“Kita
gak bisa sama-sama lagi! Dan janji kamu? Selalu bersama selamanya? Gak
akan bisa lagi!” Kini tangisku pecah seketika, pertahananku jebol. Aku
sudah tidak bisa menahannya. Terlalu sesak di hatiku. Aku tak ingin
berpisah dengannya Tuhan...
“Janji aku sama kamu gak bakal
aku ingkari. Percaya sama aku sayang, aku akan lebih dekat sama kamu.
Aku akan tetap menyayangi kamu, mencintai kamu, melindungi kamu. Dan itu
akan abadi. Selamanya. Bersama kamu.” Gabriel membawaku kepelukkannya.
Aku terlarut oleh dekapannya. Aku percaya. Aku percaya dengan dia. Aku
coba untuk merelakan semua. Karna aku terlalu mencintainya.
Semoga
ini menjadi jalan yang terbaik untukku Tuhan. Aku ingin bahagia. Dan
aku tahu, Kau pasti memberikan itu padaku Tuhan. Dengan cara-Mu sendiri,
aku percaya...
****
“Pa..” Ku ketuk pelan pintu kamar papa
Tak lama pintu terbuka, dan seseorang memeluk tubuhku erat sekali.
“Sayang?
Papa seneng kamu udah mau bicara sama papa. Ada apa sayang? Ada yang
mau diomongin? Selama ini papa udah berfikir Vi, waktu itu Gabriel udah
cerita semuanya ke papa, dan papa selama itu memang enggak tau hubungan
kamu sama Gabriel. Maafin papa ya sayang.”
Papa membawaku masuk ke dalam kamar dan mendudukkan ku di tempat tidur.
“Dan
papa berfikir, mungkin papa akan mengakhiri hubungan papa dengan Tante
Shanti. Papa gak mau nyakitin kamu sayang.” Ujar papa sambil mengusap
lembut rambutku
Aku terkejut. Aku menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
“Enggak
pa, papa gak boleh mutusin hubungan sama Tante Shanti, Sivia gak mau
jadi penghalang. Papa butuh Tante Shanti, dan mungkin Sivia juga.” Aku
mengucapkan dengan tersenyum
“Tapi gimana kamu dengan
Gabriel sayang? Kalian kan juga saling mencintai. Papa gak mungkin
menyakiti hati anak papa sendiri.” Kening papa berkerut
“Sivia udah rela kok pa, Sivia malah lebih sakit kalo liat papa gak jadi menikah sama Tante Shanti.”
Papa memelukku, mengecup puncak kepalaku. “Papa sayang kamu Sivia.”
Ku balas pelukan papa. “Sivia juga sayang papa.”
****
Hari ini pernikahan papa dan Tante Shanti. Entah mengapa aku belum
pernah merasakan perasaan sebahagia ini, mama memelukku dengan hangat,
dan dia bersama suaminya. Mama terlihat begitu senang. Aku tersenyum.
Papa
Gabriel pun datang. Sendiri. Namun dengan wajah yang tegas dan tak
kalah bahagia, mendekap erat Gabriel dan menepuk nepuk pundaknya.
Aku belum pernah melihat papa selalu menebarkan senyumnya semenjak 3
tahun yang lalu. Papa memeluk pinggang Tante Shanti yang terlihat begitu
cantik. Dan mulai dari sekarang aku harus memanggil dengan sebutan
‘mama’.
Mereka semua yang aku cintai, mereka semua
yang aku sayangi. Bersatu. Dengan perasaan bahagia. Aku tahu semua ini
pasti akan terjadi.
Gabriel menggenggam erat tanganku. Ku tolehkan kepalaku menghadap wajahnya.
Dia tersenyum.
****
We were as one babe
For a moment in time
And seemed everlasting
That you always be mine
Now you want to be free
So i’m letting you fly
Cause i know in my heart babe
Our love will never die
No!
You’ll always be a apart of me
I’m a part of you indefenitely
Girl dont you know you cant escape me
Oh darling cause you’ll always be my baby
And we’ll linger on
Time cant erase a feeling this strong
No way youre never gonna shake me
Oh darling cause you’ll always be my baby
.......................
“Kita
itu udah jadi satu, aku punya kamu, kamu punya aku. Ada yang bilang
cinta itu gak harus memiliki. Tapi kali ini aku beruntung, aku bisa
memiliki kamu. Kamu selalu menjadi bagian dari aku. Dan kamu gak bisa
mengelak itu semua. Begitupun juga aku.” Gabriel merangkul pundakku dan
menolehkan wajahnya. Menatapku.
“Aku tau itu. Kita memang
gak bisa saling memiliki dalam hal kekasih. Tapi kita bisa memiliki
sebagai cinta yang gak bisa di pisahkan. Karna sekarang status aku jadi
adek kamu, jadi kita gak bisa putus deh. Hehehe.” Aku tertawa lepas
“Dih,
pinter ngomongnya. Hahaha.. Dan sekarang aku bakalan buktiin janji aku
ke kamu, kita sekarang bakalan selalu bersama selamanya. Aku tetap sama
kamu, walaupun dengan cara yang berbeda. Malahan sekarang satu rumah
kan? Haha, tiap hari ketemu, tiap jam juga malahan. Hahaha, jadi gausah
bawel bilang kangen mulu kaya dulu yaa adek kecilkuuuuuu.” Goda Gabriel
sambil mencubit hidungku
“Apaansih woo! Iyaa aja deh yang
sekarang jadi tua, kakak Gabrielkuuuuuu. Hahaha.” Ku cubit pinggangnya
dengan keras, lalu aku lari meninggalkannya. Gabriel mengejarku.
Ada kalanya kita merelakan hal yang paling kita takutkan untuk pergi.
Tak ada salahnya berkorban untuk orang yang kita cintai. Semua keinginan
kita pasti tercapai, dengan cara yang berbeda dengan jalan yang berbeda
dan dengan wujud yang berbeda pula.
Tuhan pasti mempunyai rencana yang lain ketika kita merasa gagal. Merasa kita menderita, merasa kita paling tidak bahagia.
Kebahagiaan itu bisa dapat dengan cara yang menyakitkan sekalipun. Dengan cara yang tidak kita ingini sebelumnya.
Semua hal itu memang tidak bisa di terka, tidak bisa di ketahui dengan
cara yang mudah. Terimakasih Tuhan, memberikanku kebahagiaan dengan
cara ini, aku, Gabriel, mama, papa. Mungkin tak ku fikirkan sebelumnya
akan terjadi seperti ini.
Hal yang aku rencanakan, di luar rencanaku. Tetapi dalam rencana-Mu.
Aku bahagia. Aku tetap bersama dia. Selalu Selamaya. Bersama...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar