Label

Senin, 19 Agustus 2013

Still Love You (repost: Bersamamu)

Awalnya kupikir kita adalah satu, kita selalu bersama, selamanya.
Namun mungkin takdir memang tidak seperti yang aku harapkan. Seolah olah menentang untuk kita bersama saling memiliki.
Perpisahan.

****

“Sayang, nanti anterin aku ke toko buku yuk, kemarin aku search ada buku yang best seller gitu, bagus kayanya aku pengen beli.” Rangkulku di lengannya

“Siap bos cantik, mau jam berapa emang?” Dia menjawil daguku

“Hhm, jam 7, kamu jemput aku ya sayang?” Ku tatap matanya

“Iyaa deh, apa sih yang engga buat cantik. Hahaha.” Sambil mengedipkan matanya

“Ihh gombal deh kamu tuh. Ya udah kalo gitu aku ke kelas dulu ya sayang, bye.” Ku kecup pipi kanannya sembari meninggalkannya

Dia hanya membalas dengan senyuman dan berbalik meninggalkan tempat kita mengobrol tadi.

    Aku berfikir akulah orang yang paling beruntung, karena aku memiliki dia. Ya dia. Lelaki yang mendampingiku sekarang, dia terlalu sempurna untukku, dan sekali lagi aku sangat merasa adalah wanita paling beruntung memiliki kekasih yang menurutku melebihi apapun yang berharga dariku.

    Lelaki yang telah menjadi kekasihku selama 1 tahun lebih lamanya, dia terlalu baik untukku yang sangat manja, bawel, semua keinginan harus terturuti, dan berbagai hal lainnya yang menurut orang disekitarku itu menyebalkan. Tetapi hanya dia, dia yang memandangku seolah olah hanya akulah yang ada dimatanya, yang membuatku merasakan bahwa aku adalah satu-satunya miliknya.

    Aku mengenalnya saat MOS. Masa Orientasi Sekolah saat aku memulai menjadi siswi putih abu abu. Dia yang membantuku membuat topi dari karton, karna saat itu aku lupa membawanya, memang kekuranganku , ceroboh.

Semenjak saat itu kita mulai dekat, dan mulai mengenali satu sama lain. Kita sering janjian jalan keluar setelah pulang sekolah,karena sayangnya kita tidak satu kelas, itu yang aku kesalkan sejak melihat pembagian kelas terpampang di papan pengumuman.

    Dialah yang membuatku menjadi lebih baik dan membuat hariku berwarna, dan aku sempat berfikir bahwa aku tak bisa hidup tanpanya, terlalu sulit bila hari hariku ini tak ada dia di sampingku. Aku terlalu bergantung padanya. Dia yang telah merubah hariku yang selama ini gelap, suram dan penuh kebencian menjadi lebih bersemangat untuk menjalaninya.

****

“Hiks..hikss.. “

“Udah dong sayang, jangan nangis gitu, ntar cantiknya ilang lho, nanti aku gak manggil kamu cantik lagi mau? Aku panggil mata panda, soalnya kalo nangis kan matanya jadi gede gede gitu, jelek ahh.” Rayunya sambil mengusap pelan punggungku

“Kemarin kan mama ke rumah, aku seneng banget, kita udah ngobrol banyak, aku juga curhat sama mama, tapi waktu papa pulang semua berubah, malah yang ada mereka jadi berantem. Aku capek Iel, aku udah jadi korban perceraian mereka, begitu semuanya udah selesai, apa aku masih harus liat mereka berantem lagi?”

“Hush.. Udah ahh, sini.” Gabriel memelukku “Aku bilangin ya sayang, mereka mungkin cuma belum bisa menyatukan apa yang dipikiran mereka aja, mama papa kamu memilih berpisah karna mereka memang udah gak cocok dan gak bisa disatuin lagi. Mungkin berpisah itu jalan yang terbaik menurut mereka. Kalau kemarin mama papa kamu berantem, mungkin hanya emosi sesaat aja, atau kalaupun bukan, karena mereka belum siap untuk saling bertemu.” Gabriel membelai rambutku dengan lembut. “Udah dong nangisnya sayang.” Lanjutnya

 Aku menatap Gabriel sesaat “Aku sayang kamu.” Ku eratkan pelukkan dan bersandar di dada bidangnya itu

“Kamu gak sendiri kok, ada aku sayang. Dan bukan cuma kamu yang ngerasain gimana broken home itu, aku juga kok.” Dia tersenyum padaku

“Iyaa aku juga selalu ada buat kamu, kok kamu dewasa banget sih, jadi kaya psikolog deh kamu nih.” Aku mulai tersenyum padanya

“Haha, nah gitu dong senyum, kan jadi kaya matahari yang muncul habis hujan. Cerah banget aku liatnya.” Rangkulannya berubah menjadi dekapan dipipiku

“Kamu itu emang bisa yaa bikin aku selalu seneng, aku sayang banget sama kamu Gabriel Stevent.” Ku peluk erat tubuhnya

“Iya dong harus, soalnya aku paling gak suka liat kamu sedih. Aku lebih lebih lebiiiiiih sayang sama kamu Sivia Azizah yang cantik.” Dia kecup lembut keningku dengan penuh perasaan

Aku bahagia bersamanya. Untuk selamanya.

 ****

“Duh, Fy gimana ini? Gue khawatir banget sama Gabriel, dari semalem itu dia gak ngehubungin gue, gua takut dia kenapa napa.”  Nampak wajahku yang sangat gelisah

“Posthink dulu deh Vi, mungkin dia lagi sibuk atau gak sempet ngehubungin lo karna ada kepentingan mendadak. Mungkin aja kan?” Temanku Ify mencoba untuk menenangkanku

“Tapi itu dia gak biasanya kaya gini Fy, sesibuk sibuknya dia, pasti dia sempetin buat ngabarin gue, kalo enggak dia bilang gak bisa dihubungin sebentar karna sibuk.” Aku meremas tanganku yang berkeringat karna khawatir

“Lo coba tenangin pikiran lo dulu deh, jangan mikirin hal yang aneh-aneh atau yang terburuk bagi Gabriel. Oke?” Ify meraih tanganku yang dingin

“Gimana mau tenang kalo dari semalem dia gak bisa dihubungin. Gue tadi pagi coba buat telepon rumah dia berkali-kali, tapi gak ada yang angkat Fy. Dan apalagi hari ini kita Anniv.” Terdengar suaraku yang semakin meninggi

“Iyaa gue tau kok perasaan lo gimana. Yaudah nanti kita ke kelas Gabriel buat mastiin dia gak kenapa napa. Gue temenin, yaa?” ucap Ify meyakinkan yang mengurangi tingkat kegelisahanku

    Aku mengangguk dan mulai berkonsentrasi untuk menerima pelajaran yang saat ini sedang berjalan. Yang aku yakin pasti hanya menguap begitu saja karna aku terlalu khawatir memikirkan Gabriel dan tidak sabar ingin mempercepat jarum jam untuk menuju jam istirahat. Dan aku bisa memastikan semuanya baik baik saja.

****

“Gabriel hari ini gak masuk Vi, gimana?” Ucap Zahra teman sekelas Gabriel sekaligus menyandang jabatan ketua kelas.

“Hah? Gak masuk? Kenapa?” tanyaku yang tak sabar menginginkan jawaban

“Gak tau deh, gak ada keterangan gitu. Emang kenapa sih? Bukannya lo pacarnya? Kok malah lo gak tau sih.” Jawab Zahra disertai pertanyaan yang pedas

“Hhm, gapapa kok Ra, oke kalo gitu makasih yaa. Ayo duluan.” Ify yang mewakiliku menjawab dan menggandeng tanganku menuju kantin

“Fy, apa gue ini cewek yang kurang perhatian ya sama pacarnya, sampe Gabriel gak ada kabar aja gue gak tau apa apa?” Tanyaku sembari menundukkan kepala

“Yaa enggak lah Vi, lo kan juga udah berusaha buat ngehubungin dia, tapi emang nihil.” Ify mengusap pundakku. “Ohiya mau pesen apa Vi?” Lanjutnya

“Enggak ah, gak nafsu.” Jawabku sekenanya. Rasa lapar dan hausku sudah pergi mejauh entah kemana. Dan saat ini yang memenuhi pikiranku hanyalah Gabriel.

“Yakin Vi gak laper? Habis ini kan kita pelajaran fisika 3 jam. Bakalan ngabisin tenaga yang banyak loh.” Ify kembali bertanya dengan membawa semangkuk bakso

“Iyaa beneran gak ada minat buat makan, udah ah, gue kepikiran Gabriel terus ini.” Jawab gue dengan menutup muka

“Kalo aku yang bawain baksonya kamu minat gak buat makan?”
Aku membuka tangan yang menutupi wajahku perlahan. Aku mengenali suara itu. Tapi, kenapa dia bisa berada disini? Bukannya dia gak masuk sekolah? Ku lihat wajah seseorang didepanku dan....

“Gabrieeeeeeeeeeeeeellll.... Kamu tuh kemana aja? Aku itu khawatir banget tau gak kamu gak ada kabar gitu. Jahat!” Ku hamburkan ke pelukannya dan sedikit kuberi pukulan di dadanya.

“Woo, mau jadi petinju yaa?” Gabriel tersenyum dan menundukkan kepalanya sedikit untuk bisa melihat wajahku, aku memang  lebih pendek darinya.

“Apaan sih? Gak lucu tau gak!” Ku gembungkan pipiku dan menghentakkan kaki

“Dih jelek banget itu mukanya, nih aku kasih ini buat kamu sayang.” Gabriel memberikan sebucket bunga mawar merah dan putih. “Mawar merah arti rasa cinta dan kasih sayang, mawar putih arti ketulusan dan kesucian.” Gabriel melepaskan pelukannya

    Aku mengambilnya dan tersenyum lebar. Aku senang hal hal yang ada dipikiranku tadi lenyap hilang sudah. Aku tak peduli banyak orang disekitar kantin melihat kita.

“Makasih sayangku. Bandel kamu tuh sama aku.” Ku cubit pelan perutnya

“Auhh, ampun bos cantik, galak banget sih. Ikut aku yuk.” Dia usap sekilas perutnya dan berganti menggandengku menuju suatu tempat

“Kita mau kemana sih sayang?” Tanyaku dengan kerutan di wajah yang menandakan aku sedang bingung

“Udah ikut aja, yuk.” Gabriel mempercepat langkahnya

Arah taman?” Aku bergumam

“Tadaaaa, kita udah sampe.” Dia membentangkan tangannya seolah olah mempersembahkan sesuatu

    Ku kerjapkan mataku berkali kali, ku tutup mulutku yang tadinya menganga lebar karna keterkejutanku.

Semak semak yang dililiti kertas warna-warni, bangku taman yang dihias dengan berbagai bunga, batang pohon mangga yang ditempeli poster bertuliskan “Happy 1st Anniversarry My Beautiful Girl” dan terdapat banyak balon berbentuk hati yang menggantungnya.
    Ku dekati bangku taman itu. Ada boneka Teddy Bear berwarna putih besar sekali, mungkin sebesar badanku sendiri. Dan berkalungkan sepucuk surat. Ku raih boneka itu dan ku peluk sejenak, lalu kuambil surat yang menggantung di lehernya.

Selamat Hari perayaan 1 tahun hubungan kita ya cantik.
Semoga kita langgeng.
Dan bisa ngerayain hari seperti ini buat tahun tahun berikutnya.
Maaf kalau sempet ngerjain kamu.
Aku cuma mau ngasih kejutan buat kamu sayang.
Aku sayang banget sama kamu.
Selalu. Selamanya. Kita bersama.

Your love
Gabriel Stevent

    Tak sadar air mataku menetes, aku terlalu bahagia untuk ini semua. Aku percaya, cintanya terlalu besar untukku, dan aku yakin aku akan selalu menjaga cintanya dengan utuh. Dia. Aku merasa sempurna bila dengannya.

“Gimana sayang? Suka gak?” Gabriel meghampiriku.
“Loh, loh, kok nangis? Kamu marah yaa? Kamu gak suka?” Tanyanya sambil menghapus air mataku

    Aku menatapnya, tak banyak yang bisa ku ucapkan padanya. Aku terlalu bahagia karnanya. “Suka banget kok, makasih sayang. Aku suka bangeeeeeet.” Ku peluk dia seerat eratnya sekuat yang ku mampu

Gabriel tersenyum.

****

“Hallo? Iyaa sayang, maaf yaa kayanya nanti kita gak jadi jalan deh. “
“Kenapa sayang?” Tanya Gabriel dari seberang sambungan telepon
“Papa ngajak aku ketemu seseorang yang mau di kenalin ke aku.” Ku manyunkan bibirku
“Oh yaudah gapapa, minggu besok aja kita jalannya.”
“Tapi aku pengen banget jalan sama kamu sayang.” Aku merajuk padanya
“Hey, kita jalan bareng kan bisa kapan aja cantik. Kamu pergi aja sama papa yaa?” Terdengar suara Gabriel melembut
“Ya udah deh iya, maaf ya sayang.”
“Iya gapapa, kamu hati hati di jalan, salam juga buat Om Hadi.”
“Iyaa sayang. Bye love you.”
“Me too.”

****

“Pa, sebenernya kita mau ketemu siapa sih?” Tanyaku yang sejak tadi bosan

“Pokoknya dia baik kok. Pasti kamu suka deh sama dia.”

Aku hanya menganggukkan kepalaku menandakan mengerti.

“Mungkin sebentar lagi dateng , sabar aja yaa, papa liat kok dari tadi kamu gak sabar gitu?” Papa mentatap mataku

“Enggak kok pa, hhm, bentar Sivia ke toilet dulu ya pa.” Ijinku pada papa

“Yaudah sana, jangan lama lama ya.”

Aku pergi meninggalkan papa menuju toilet.

“Aduh mas, maaf ya agak telat, ini tadi nungguin anak saya, mendadak saya ajak.” Seorang wanita cantik datang duduk di depan papa

“Iya gapapa Shan, kita juga baru aja kok, loh sekarang mana anaknya?” Papa bertanya sambil melihat sekitar tak terlihat seseorang yang bersama wanita itu

“Oh itu lagi cari tempat parkir, tadi saya tinggal masuk kesini. Buru buru mas, takut kalian udah nunggu lama. Lah, mana putrimu itu?” Jawab wanita yang dipanggil ‘Shan’ itu

“Owalah kamu ini selalu begitu. Hahaha. Ada kok lagi ke toilet sebentar.”

“Hhm, pa?” Tanyaku sambil menarik bangku

“Nah ini dia orangnya, kenalin ini tante Shanti, ini Sivia putri semata wayangnya saya.” Papa tersenyum dan mengenalkanku dengan seorang wanita yang di depan papa

“Aduh cantik banget ya, kaya anak saya dong, anak semata wayang juga. Tante juga ajak lho, tapi lagi di parkiran.” Jawab tante Shanti

“Makasih tante, tante juga cantik. Oh iya tan.” Aku tersenyum

“Yaudah, udah pada saling kenal kan? Sekarang kita pesan makanan dulu ya.” Papa menawarkan

Aku sedang memilih menu makanan yang aku sukai yang pas untuk menu makan malamku.

“Eh, sayang sini duduk, kenalin ini Om Hadi, dan ini putrinya, Sivia.” Tante Shanti berbicara yang mungkin kepada anaknya itu.

Aku tidak begitu menghiraukannya dan pandanganku masih pada daftar menu makanan yang akan kupilih.

“Om, Si-Sivia.”
Terdengar suara yang bergetar memanggil namaku, dan aku mengenalnya.
Ku dongkakkan kepalaku, ku tatap wajah yang ada di hadapanku sekarang. Aku terkejut, namun aku berusaha tenang, walaupun hatiku berkata ada hal yang menurutku tidak baik...

“G-Gabriel?” Balasku dengan suara yang tak kalah bergetar

“Oh, nak Gabriel itu anakmu toh Shan, iya kami udah kenal sama nak Gabriel ini, dia teman satu sekolahnya Sivia.” Jawab papa yang tanpa beban apapun

“Ya ampun, berarti bagus dong, kita bisa membicarakan tentang hubungan kita ke mereka lebih santai.” Tante Shanti bicara dengan nada semangat

“Hubungan? Maksud tante?” Tanyaku mulai khawatir

“Jadi gini, kita sudah menjalani hubungan ini selama hampir 2 tahun. Dan papa memutuskan akan menikahi tante Shanti.” Jawab papa dengan menatapku

Ku tatap wajah Gabriel yang tak kalah pucatnya dengan wajahku, aku pergi meninggalkan mereka semua. Aku tak bisa mencerna apa yang dikatakan papa. Apa maksud semua ini? Aku butuh waktu untuk sendiri!

****

Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa harus aku? Apa tidak cukup Tuhan memberikan cobaan yang berat, dan setelah Kau kirimkan cahaya penerang bagi hidupku, Kau malah memadamkannya kembali? Apa aku telah melakukan sebuah kesalahan besar sehingga aku harus menanggung semua masalah ini Tuhan?

    Ku peluk erat boneka Teddy Bear pemberian Gabriel dan menumpahkan semua tangisku. Aku tak bisa menerima ini semua. Kenapa harus tante Shanti? Dan kenapa harus Gabriel anaknya!
    Ku nyalakan MP4 milikku yang sudah ku pasang speaker supaya papa tidak mendengar tangisku yang akan ku tumpahkan sepuasnya. Ya, malam tadi aku meninggalkan restoran tempat kita makan malam, dan aku tidak tahu apa yang telah terjadi disana setelah aku pergi.

    Tadi papa berkali kali mengetuk pintu kamarku, namun aku tak menghiraukannya, aku tak ingin mendengarkan penjelasannya saat ini. Handphoneku pun berbunyi terus, ternyata panggilan dari Gabriel. Terpaksa aku mengabaikannya. Ku nonaktifkan handphoneku. Aku ingin sendiri!

Ku keraskan volume suara lagu itu untuk menenggelamkan suara tangisku.

Memandang wajahmu cerah,
membuatku tersenyum senang, indah dunia
Tentu saja kita pernah
mengalami perbedaan, kita lalui
Tapi aku merasa, jatuh terlalu dalam
Cintamu..
Ku tak akan berubah, kutak ingin kau pergi
Selamanya...

Ku kan setia menjagamu, bersama dirimu, dirimu ohh..
Sampai nanti akan selalu bersama dirimu

Seperti yang kau katakan
Kau akan selalu ada, kau akan selalu ada ohh..ohh
Menjaga memeluk diriku
Dengan cintamu
Dengan cintamu...

Saat bersamamu kasih, ku merasa bahagia
Dalam pelukmu..


Tangisku makin menjadi saat ku dengar sebuah lagu yang sangat menggambarkan suasana hatiku saat ini. DAMN!

****

    Sudah 2 hari aku tidak masuk sekolah dan tidak mau keluar kamar. Aku hanya mengurung diri. Tak ada semangat apapun yang ada di hidupku sekarang ini. Aku berfikir ini sudah terlalu berat cobaan bagiku. Aku tak sanggup.
Mungkin berkali-kali aku mencoba untuk mengerti. Tapi aku seakaan akan enggan untuk memaksa otakku mengerti.
Aku mencoba untuk membayangkan ini hanya mimpi buruk dan aku bisa bangun dari keterpurukan itu, tapi ternyata? Ini nyata.
Aku tak peduli dengan keadaanku sekarang. Aku tak peduli dengan perutku yang tak kuisi selama 2 hari, aku tak peduli aku tidak mandi, aku tak peduli dengan mataku yang sudah memerah dan bengkak hingga kurasakan perih sekali, aku tak peduli dengan penampilanku saat ini.
Karena menurutku, tak  ada orang yang peduli akan aku.

    Dulu aku merasa adalah orang yang paling beruntung sejak aku bertemu dengan Gabriel dan aku bisa memilikinya, tapi mengapa? Sekarang aku merasa orang paling menderita, karena aku pernah memperoleh keberunntungan itu.
Aku merasa benci dengan semua orang, papa, Tante Shanti, mama, Gabriel, diriku.


    Setiap hari papa membujukku untuk keluar kamar. Menurutku setelah kejadian malam itu, papa tidak masuk kerja. Karna papa selalu mengetuk pintuku setiap waktu.
Dan sepertinya kemarin sore aku mendegar suara Ify di depan kamarku, yang pasti membujukku untuk keluar kamar. Tetapi aku tak menghiraukannya. Aku masih belum ingin bertemu siapapun untuk saat ini.

    Aku benci siapapun. Mungkin aku egois, karna masalah ini, aku melampiaskan pada orang orang yang tidak bersalah. Aku merasa, orang orang tidak peduli padaku. Bahkan Gabriel. Aku tidak mendengar suaranya membujukku di depan pintu kamarku. Sama sekai tidak.
Aku merasa dia telah melupakanku.

    Atau apakah mungkin, karna dia juga merasakan seperti apa yang aku rasakan? Apa dia juga tidak Iela menerima kenyataan ini? Apa dia lebih kuat dari pada aku? Apa dia bisa berfikir jernih dalam menghadapi masalah ini?  

    Ku coba mengaktifkan Handphoneku, terdapat banyak sekali sms yang masuk dan pemberitauhuan orang yang telah menghubungi.
Ku baca beberapa sms.

From : Ipyyh
Vi, lo kenapa sayang? Udah dua hari ini gak masuk. Gue khawatir banget ;( aktifin hape lo dong Vi.
Please, lo hubungi gue :”(  


From : Ipyyh
Vi, gue tadi udah ketemu bokap lo :’) gue ngerti kok sekarang lo pasti lagi kacau banget. Sabar yaa sayang :’* lo tenang aja, gue selalu ada buat lo. Saat lo butuh :’)
--------------------------------

    Aku menangis membaca sms dari temanku itu, dia memang teman terbaikku, selalu menjadi teman curhatku, dan menjadi penasehatku. Aku kangen dia. Aku ingin bertemu dia.
Ku balas sms Ify yang menumpuk itu.

To : Ipyyh
Fy, maafin gue yaa, gue gatau apa yg harus gue lakuin sekarang. Gue bingung. Fy kesini dong, gue mau cerita :’(

Message to Ipyyh Delivered!

Setelah itu aku membaca salah satu pesan yang membuat mataku perih kembali.

From : beloved<3
Cantik, aku sayang sama kamu. Masalah ini kita hadepin bareng bareng ya sayang ya,  kita harus kuat. Aku udah berusaha untuk bisa lebih dewasa ngadepin masalah ini. Yang aku khawatirin itu kamu. Aku gak tau keadaaan kamu sayang ;( kamu yg kuat ya, disini aku selalu mikirin kamu :’*
Kita selalu bersama kok.
Selalu. Selamanya.


    Ku tenggelamkan kepalaku ke bantal. Ku tatap boneka Teddy Bear putih yang sangat aku sayangi, seperti orang yang memberinya.
Huuftt, aku terlalu lelah.

****

“Yaa ampun Vi, lo kenapa sampe kaya gini? Mau cerita semuanya? Gue siap dengerin kok sayang.” Ucap Ify sembari memelukku

Aku menceritakannya semua yang terjadi pada Ify, begitupun apa yang kurasakan saat ini.

****

“Lo harus kuat ngadepin ini semua yaa Vi, gue tau ini berat banget buat lo, dan pastinya buat Gabriel juga.” Ify memelukku

“Iya, gue tau Fy, gue udah berusaha untuk bisa ngerelain ini semua. Gue gak mau ngecewain papa dan Tante Shanti. Mungkin mereka juga terpukul sama masalah ini, dan gue gak boleh egois.” Perlahan ku lepaskan pelukan Ify

“Gue tau lo itu Sivia yang kuat kok, gue selalu ada di samping lo. Kapanpun lo butuh gue, gue usahain selalu ada.” Ify mengusap pelan pipiku

“Makasih banget yaa Fy, gue gak tau harus bilang apalagi ke lo, gue sekarang udah lega bisa ngungkapin perasaan gue selama ini. Dan mungkin sekarang gue harus ngomong ke papa dan Gabriel”

Ify mengangguk dan tersenyum.

****

“Gabriel....” Ku peluk erat saat dia baru saja membukakan pintu
Gabriel terhuyung ke belakang dan berusaha mengimbanginya

“Sivia?” Terlihat dengan jelas wajah kaget. Lalu aku merasakan pelukan yang tak kalah erat. Aku meneteskan air mata.

Ku lihat Gabriel yang tak kalah kacau dengan penampilanku 3 hari yang lalu, ada lingkaran hitam yang mengitari matanya yang pasti dia kurang tidur.
Terlihat ada cekungan di pipinya. Rambut berantakan tak terurus. Oh, aku merasa bersalah..

“Aku kangen kamu sayang.”

“Aku melebihi dari kamu cantik.” Terdengar suara Gabriel berubah serak

“Iel.. Aku takut, aku gak mau kita pisah sayang.” Ucapku lirih dan menundukkan kepalaku

Gabriel mendongakkan wajahku perlahan. Menatap mataku. Dalam.

“Sayang, segala keinginan kita, gak semua harus tercapai. Ada kalanya kita harus berjuang demi mencapai keinginan itu. Dan dalam mencapai itu semua, belum tentu akan selalu berhasil. Begitupun dengan kita, enggak semua keinginan kita harus terpenuhi. Ada hal yang harus kita pertimbangkan. Atau kata lain kita gak boleh egois. Kita harus memikirkan perasaan orang lain bukan hanya perasaan kita saja.”

“Kalo kita gak egois, terus papa sama tante Shanti apa? Mereka juga gak mikirin perasaan kita Iel!!” Aku membentak perkataan Gabriel

“Hussh..” Gabriel menenangkanku. “Itu bukan keinginan mereka sayang, bukan juga keinginan kita. Semua berjalan begitu saja tanpa ada yang mengetahui itu semua. Gak ada yang perlu di salahkan. Karna memang gak ada yang salah. Hanya takdir yang salah menempatkan dirinya. Itu semua udah terjadi sayang.” Gabriel menggenggam erat tanganku

“Tapi aku sayang kamu Iel, aku gak mau kita pisah, apa harus kita yang berkorban demi orangtua kita? Sedangkan kita juga udah pernah jadi korban orangtua kita itu sendiri! Apa selalu kita? Apa karna kita hanya seorang anak dan bisa diatur semau orangtua kita!” Ucapku dengan penuh amarah

“Sivia, ada hal yang mungkin memang belum kamu ketahui untuk saat ini. Mama dan Om Hadi pasti punya alasan yang kuat sampai bisa memutuskan untuk menikah. Sekarang kamu coba belajar untuk merelakan apa yang selama ini kamu pegang teguh. Aku mohon sayang, hapus ego kamu. Mama dan Om Hadi sudah hampir 2 tahun menjalaninya. Dan apakah karna ke-egoisan kita, semua jadi hancur? Apakah kamu tega Sivia?”

“Dan apakah mereka juga tega mengahancurkan semua impian kita?” Ku alihkan pandanganku dari wajah Gabriel, aku sudah lelah dengan pembicaraan ini. Gabriel mencoba mengusap pelan tanganku yang sedari tadi ia genggam

“Coba liat aku sayang.” Gabriel mengarahkan pipiku ke wajanya.

“Impian mereka itu impian kita juga, percaya sama aku sayang.” Ucap Gabriel dan menatapku dengan tatapan memohon

“Kita gak bisa sama-sama lagi! Dan janji kamu? Selalu bersama selamanya? Gak akan bisa lagi!” Kini tangisku pecah seketika, pertahananku jebol. Aku sudah tidak bisa menahannya. Terlalu sesak di hatiku. Aku tak ingin berpisah dengannya Tuhan...

“Janji aku sama kamu gak bakal aku ingkari. Percaya sama aku sayang, aku akan lebih dekat sama kamu. Aku akan tetap menyayangi kamu, mencintai kamu, melindungi kamu. Dan itu akan abadi. Selamanya. Bersama kamu.” Gabriel membawaku kepelukkannya.

    Aku terlarut oleh dekapannya. Aku percaya. Aku percaya dengan dia. Aku coba untuk merelakan semua. Karna aku terlalu mencintainya.
Semoga ini menjadi jalan yang terbaik untukku Tuhan. Aku ingin bahagia. Dan aku tahu, Kau pasti memberikan itu padaku Tuhan. Dengan cara-Mu sendiri, aku percaya...

****


“Pa..” Ku ketuk pelan pintu kamar papa

Tak lama pintu terbuka, dan seseorang memeluk tubuhku erat sekali.

“Sayang? Papa seneng kamu udah mau bicara sama papa. Ada apa sayang? Ada yang mau diomongin? Selama ini papa udah berfikir Vi, waktu itu Gabriel udah cerita semuanya ke papa, dan papa selama itu memang enggak tau hubungan kamu sama Gabriel. Maafin papa ya sayang.”
Papa membawaku masuk ke dalam kamar dan mendudukkan ku di tempat tidur.

“Dan papa berfikir, mungkin papa akan mengakhiri hubungan papa dengan Tante Shanti. Papa gak mau nyakitin kamu sayang.” Ujar papa sambil mengusap lembut rambutku

    Aku terkejut. Aku menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
“Enggak pa, papa gak boleh mutusin hubungan sama Tante Shanti, Sivia gak mau jadi penghalang. Papa butuh Tante Shanti, dan mungkin Sivia juga.” Aku mengucapkan dengan tersenyum

“Tapi gimana kamu dengan Gabriel sayang? Kalian kan juga saling mencintai. Papa gak mungkin menyakiti hati anak papa sendiri.” Kening papa berkerut

“Sivia udah rela kok pa, Sivia malah lebih sakit kalo liat papa gak jadi menikah sama Tante Shanti.”

Papa memelukku, mengecup puncak kepalaku. “Papa sayang kamu Sivia.”
Ku balas pelukan papa. “Sivia juga sayang papa.”


****

    Hari ini pernikahan papa dan Tante Shanti. Entah mengapa aku belum pernah merasakan perasaan sebahagia ini, mama memelukku dengan hangat, dan dia bersama suaminya. Mama terlihat begitu senang. Aku tersenyum.

Papa Gabriel pun datang. Sendiri. Namun dengan wajah yang tegas dan tak kalah bahagia, mendekap erat Gabriel dan menepuk nepuk pundaknya.

    Aku belum pernah melihat papa selalu menebarkan senyumnya semenjak 3 tahun yang lalu. Papa memeluk pinggang Tante Shanti yang terlihat begitu cantik. Dan mulai dari sekarang aku harus memanggil dengan sebutan ‘mama’.

    Mereka semua yang aku cintai, mereka semua yang aku sayangi. Bersatu. Dengan perasaan bahagia. Aku tahu semua ini pasti akan terjadi.

    Gabriel menggenggam erat tanganku. Ku tolehkan kepalaku menghadap wajahnya.
Dia tersenyum.

****

We were as one babe
For a moment in time
And seemed everlasting
That you always be mine
Now you want to be free
So i’m letting you fly
Cause i know in my heart babe
Our love will never die
No!

You’ll always be a apart of me
I’m a part of you indefenitely
Girl dont you know you cant escape me
Oh darling cause you’ll always be my baby
And we’ll linger on
Time cant erase a feeling this strong
No way youre never gonna shake me
Oh darling cause you’ll always be my baby
.......................

“Kita itu udah jadi satu, aku punya kamu, kamu punya aku. Ada yang bilang cinta itu gak harus memiliki. Tapi kali ini aku beruntung, aku bisa memiliki kamu. Kamu selalu menjadi bagian dari aku. Dan kamu gak bisa mengelak itu semua. Begitupun juga aku.” Gabriel merangkul pundakku dan menolehkan wajahnya. Menatapku.

“Aku tau itu. Kita memang gak bisa saling memiliki dalam hal kekasih. Tapi kita bisa memiliki sebagai cinta yang gak bisa di pisahkan. Karna sekarang status aku jadi adek kamu, jadi kita gak bisa putus deh. Hehehe.” Aku tertawa lepas

“Dih, pinter ngomongnya. Hahaha.. Dan sekarang aku bakalan buktiin janji aku ke kamu, kita sekarang bakalan selalu bersama selamanya. Aku tetap sama kamu, walaupun dengan cara yang berbeda. Malahan sekarang satu rumah kan? Haha, tiap hari ketemu, tiap jam juga malahan. Hahaha, jadi gausah bawel bilang kangen mulu kaya dulu yaa adek kecilkuuuuuu.” Goda Gabriel sambil mencubit hidungku

“Apaansih woo! Iyaa aja deh yang sekarang jadi tua, kakak Gabrielkuuuuuu. Hahaha.” Ku cubit pinggangnya dengan keras, lalu aku lari meninggalkannya. Gabriel mengejarku.

    Ada kalanya kita merelakan hal yang paling kita takutkan untuk pergi. Tak ada salahnya berkorban untuk orang yang kita cintai. Semua keinginan kita pasti tercapai, dengan cara yang berbeda dengan jalan yang berbeda dan dengan wujud yang berbeda pula.
    Tuhan pasti mempunyai rencana yang lain ketika kita merasa gagal. Merasa kita menderita, merasa kita paling tidak bahagia.
Kebahagiaan itu bisa dapat dengan cara yang menyakitkan sekalipun. Dengan cara yang tidak kita ingini sebelumnya.

    Semua hal itu memang tidak bisa di terka, tidak bisa di ketahui dengan cara yang mudah. Terimakasih Tuhan, memberikanku kebahagiaan dengan cara ini, aku, Gabriel, mama, papa. Mungkin tak ku fikirkan sebelumnya akan terjadi seperti ini.
Hal yang aku rencanakan, di luar rencanaku. Tetapi dalam rencana-Mu.

    Aku bahagia. Aku tetap bersama dia. Selalu Selamaya. Bersama...

Bertahan

Untuk membuatku bertahan itu sangat sulit. Tapi hanya karna mu, alasan mengapa selama ini aku masih mempertahankan semua. Entah apa yang bisa membuatku menahan semua, iya semua.

“Sayang, nanti aku mau ada latihan drama, tapi gak ada yang anter. Kamu bisa nganterin aku gak?” Ucapku memohon kepada Rio

“Yaudah, emang nanti jam berapa?” Jawab Rio tanpa menatapku karna matanya terfokus pada smartphone-nya

“Hhm, kira-kira jam 4, di rumah Sivia.” Ucapku menjelaskan

“Okay kalau gitu.” Rio beranjak dari duduknya lalu menatapku sekilas.

“Aku pulang duluan ya, ada urusan bentar, dahh..” Lanjut Rio sambil memasukkan smartphone-nya lalu berlalu begitu saja.

Aku hanya mengangguk tersenyum. Ahh.. aku tak apa, mungkin aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang begitu. Ku tatap punggung Rio yang mulai menjauh, sosok itu yang telah membuatku tak bisa memikirkan apa yang telah dia perbuat. Ku menerawang pada kejadian-kejadian yang telah berlalu. Tanpa kusadari aku tersenyum. Tepatnya tersenyum miris. Ku lirik jam di tanganku, lalu menatap langit sebentar. Ahh mendung, aku harus segera pulang.

****

Lihat aku disini, kau lukai hati dan perasaan ini
Tapi entah mengapa aku bisa memberikan maaf padamu

Aku gelisah, ku lihat jam dinding di kamarku. Sudah jam 4. Ku coba kembali menelepon Rio, tapi masih saja tidak diangkat. Aku mulai bingung karena teman-temanku sudah menanyakan kehadiranku. Untuk yang ke-15 kali ku telepon, masih saja tidak ada jawaban.
Dan untuk yang ke-8 kali pula ku kirim sms padanya.

To : Beloved
Sayang, kamu dimana? Kamu gapapa kan? Jadi jemput aku apa engga?
Plis kabarin aku :(
----------------------------------------

    Tak ada balasan. Aku pun langsung bergegas untuk berangkat sendiri, saat keluar rumah, hujan deras mengguyur, aku kembali masuk ke rumah untuk mengambil payung dan segera berjalan mencari taksi. Susah sekali mencari taksi pada jam pulang kantor begini, apalagi hujan deras. 15 menit ku menunggu, taksi yang melewatiku selalu penuh. Aku pun terpaksa berjalan menuju halte bus yang lumayan jauh. Aku tak peduli dengan bajuku yang mulai basah dan tubuhku kedinginan karena hujan sangat deras disertai  angin. Tak lama bus yang kutunggu datang. Aku memilih duduk di dekat jendela dan mulai meyandarkan kepalaku. Otakku kembali memikirkan Rio.

‘Kamu kenapa gak ngabarin aku Yo?’

‘Kamu kemana?’

‘Kalau kamu gak bisa nganterin aku, kamu bisa bilang sama aku dari tadi’

Aku bertanya dalam hati. Tak sengaja saat menoleh ke arah pinggir jalan aku melihat mobil Rio. Mataku langsung membuka dengan lebar saat melihat Rio membukakan pintu untuk seorang gadis dan memayunginya menuju sebuah salon. Wajah gadis itu, aku mengenalinya! Itu Shilla!

    Aku langsung lemas, mataku perih dan panas. Perasaanku bercampuk aduk menjadi satu. Cairan bening mulai mengalir di pipiku.

‘Kenapa kamu tega banget sama aku Yo?’

‘Kenapa kamu giniin aku?’

‘Tapi aku gak boleh negthink! pasti Rio punya alasan’

****

Mungkin karena cinta, kepadamu tulus dari dasar hatiku
Mungkin karena aku, berharap kau dapat mengerti cintaku

    Aku terbangun dari tidurku. Yaa, sepulang dari rumah Sivia, aku tidak bersemangat untuk melakukan apa-apa. Aku menangis, sepuas yang aku ingini hingga akhirnya aku tertidur. Aku melihat jam di dinding. Pukul 9 malam.

    Aku cek smartphone-ku dan ada sebuah sms dari Rio.

From : Beloved
Sayang maaf, tadi aku nganterin mamah dan gak sempet ngabarin. Oiya, besok kayanya aku gak masuk. Habis keujanan. Pusing
--------------------------------------

    Kemudian aku segera mengetik untuk membalasnya

To : Beloved
Mamah? Yakin tuh? Mamah atau Shilla? Oh.
Namun segera ku hapus dan mengetik lagi

To : Beloved
Iya gapapa sayang :) kamu sakit? Cepet sembuh sayang ;* jangan lupa minum obat, istirahat yg cukup. Bobo gih biar gak pusing.
Gudnite {} luv u
-------------------------------------

    Ku tunggu balasannya, hingga aku tersadar ternyata aku tertidur. Tak ada balasan. Ku lihat jam sudah pukul 2 malam. Untuk sekedar mengucapkan terimakasihpun tidak. Aku tersenyum. Tersenyum miris.

****

    Meski kau terus sakiti aku
    Cinta ini akan selalu memaafkan
    Dan aku percaya nanti engkau
    Mengerti bahwa cintaku takkan mati

To : Beloved
Morning sayang :) gmn keadaannya? Smg cepet sembuh ya, aku gamau kamu sakit ;* jgn lupa makan sama minum obat. Nice day! Luv u ;* {}
---------------------------------

Sebelum berangkat sekolah ku kirim pesan untuk Rio.
Saat istirahat, ku buka smartphone-ku, masih tak ada balasan dari Rio, ahh, mungkin dia lagi istirahat dan tak bisa di ganggu. Ku ketik lagi pesan untuk Rio.

To : Beloved
Hay sayang, udh makan belum? Harus makan loh, biar bisa minum obat. Makan yg banyak biar kuat. Hehe :D GWS dear ;* always luv u
-----------------------------------

Ku remas smartphone-ku hingga tanganku berkeringat. Aku mulai khawatir dengan keadaan Rio. Apa dia baik-baik saja? Apa keadaannya memburuk? Apa aku harus ke rumahnya? Ahh tidak. Aku pernah ke rumahnya tanpa seijin Rio dan Rio marah waktu itu karena aku datang tiba-tiba, padahal aku hanya ingin memberi kejutan karena saat itu adalah hari perayaan tanggal jadi kita yang ke 6 bulan. Dan seketika ku urungkan niat ku.

****

    Lihat aku disini, bertahan
    Walau kau sering menyakiti, hingga air mataku
    Tak dapat menetes dan habis terurai

Sore hari seusai aku mandi, ku cek apakah ada balasan dari Rio, ternyata nihil.
Ku ketik lagi pesan untuk Rio.

To : Beloved
Mariokuuu lagi apa? :) aku khawatir banget :(( kamu beneran gapapa kan sayang? Jangan lupa istirahat yg cukup. Sayang kamu ;* {} mwah!

 Lalu ku buka akun Twitter-ku untuk sekedar menghilangkan rasa bosan. Baru saja ku buka, muncul Rio di Timeline.

@mariostev: thanks shilla udah nemenin, jadi gak bosen nih ;;) @ashillaaa
@mariostev: makasih ashillakuuu ;) {} RT @ashillaaa: GWS mariooo {} <3 RT @mariostev: pusing bgt nih pala gue ;((

    Ku baca mention Rio dan Shilla, tiba-tiba mataku mulai mengabur tertutup oleh selaput bening yang mulai menetes. Kenapa? Kenapa? Rio tidak mengabariku dari tadi, bahkan sms ku pun dia abaikan, tetapi mengapa dia malah sama Shilla? Apa Rio sudah tidak peduli denganku lagi? Apa Rio sudah melupakanku? Apa Rio bosan denganku? Mengapa Rio tega kepadaku seperti ini?

    Ku tenggelamkan wajahku di bantal, semakin lama isakanku semakin keras, mungkin karena aku sudah tidak kuat untuk menahan sesak yang kurasakan. Apakah aku sebegitu terlupakan olehmu? Aku disini masih menyayangimu, aku disini yang mendoakanmu selalu, aku disini yang selalu bertahan untuk tetap di sampingmu. Tetapi apa yang kau lakukan padaku?

‘Kenapa Yo? Kenapa?’

    Aku bertanya dalam isakanku, namun entah apa yang merasuki diriku. Ku hapus air mata di wajahku. Aku tersenyum.

‘Aku gak boleh nangis cuma gara-gara ini.’

‘Mungkin Rio memang baru aja buka HP dan buka twitter.’

‘Dan harusnya aku gak perlu terlalu cemburu pada Shilla, harusnya berterima kasih karena dia udah bikin Rio gak bosan, dan malah bukan aku.’

    Ku ambil kembali smartphone-ku, lagi-lagi ku kirim pesan untuk Rio.

To : Beloved
Sayang, kamu knp? kalo kamu udh bosen sama aku bilang ya sayang ya? soalnya aku gamau bikin kamu kesiksa :’) oiya maaf jg kalo selama ini sms2 ku ganggu kamu, aku cuma pengen tau kabar kamu aja, aku disini nungguin :’’)) aku khawatir sama kamu. Aku sayang bgt sama kamu ;* ;*
----------------------------------------

    Ku tunggu balasannya. 20 menit kemudian smartphone-ku bergetar. Ku lihat Rio membalasnya. Aku langsung membacanya.

From  : Beloved
Gpp. Ok. Kamu tau kan aku lagi sakit?! Jd maklumin aja kalo aku jarang bales sms kamu.
---------------------------------------------

    Ku tahan tangisanku, aku sudah capek untuk menangis, mataku sudah terasa perih sekali. Hingga mungkin ku rasakan air mata itu sudah tidak bisa keluar lagi. Dengan tangan yang sedikit bergetar, segera ku balas smsnya

To : Beloved
Iya aku tau kok :’) tapi kamu bisa kan bales smsku sekali aja?
--------------------------------------------

    Tak menunggu waktu lama Rio telah membalasnya lagi. Aku tersenyum.

From : Beloved
Yaudah maaf
------------------------------------------

    Hanya itukah yang bisa kau ucapkan Rio? Tapi setidaknya kamu sudah mau mengatakan maaf padaku. Dan aku memaafkanmu. Selalu.

To : Beloved
Yaudah lupain aja ya sayang ya? :) sayang lagi apa? Udh makan sama minum obatnya? Jgn kecapekan ya, istirahat yg banyak :) biar cepet sembuh, okay? :D
------------------------------------------------

    Lama. Ku tunggu sangat lama. Tak ada balasan hingga 2 jam. Bolak-balik ku periksa smartphone-ku untuk mengecek bila ada sms Rio.

From : Beloved
Iya. Lagi capek. Udah. Ok.
-----------------------------------------------

    Bahkan untuk menanyakan ku balik pun tidak. Kemana Mario ku yang dulu? Yang selalu perhatian kepadaku? Apa rasa itu telah luntur? Tapi tidak untuk rasaku.

To : Beloved
Yaudah, kamu tidur aja gih sayang :) jgn begadang ya, Gnight nice dream. Love you {} ;*
----------------------------------------------

    Aku tidak menunggu balasannya lagi, karena ku yakin pasti Rio tidak akan membalasnya. Sengaja ku non-aktifkan smartphone ku supaya aku tidak di hubungi dan tidak membuka social media apapun. Karena aku tak mau melihat jika Rio muncul dan itu hanya menambah rasa sesak yang kurasa.

****

    Meski kau terus sakiti aku
    Cinta ini akan selalu memaafkan
    Dan aku percaya nanti engkau
    Mengerti bahwa cintaku takkan mati

    Sore ini, sepulang sekolah, aku ada latihan drama lagi, dan sekarang bertempat di rumah Alvin. Sejak tadi aku pun tidak fokus memerankan peran drama ku, dan sering sekali mendapat teguran dari teman-teman. Ahh, aku khawatir dengan keadaan Rio. Sejak tadi pagi nomornya tidak aktif. Aku takut bila Rio kenapa-kenapa. Aku malah sempat berfikir bahwa Rio sampai di bawa ke rumah sakit. Aku benar-benar khawatir.

“Lo kenapa sih? Dari tadi kebanyakan bengong deh!” Alvin menepuk ringan pundak ku.

“Eh, hhm, enggak kok, gapapa.” Ucapku sambil tersenyum. Tepatnya dipaksakan

“Yakin? Eh, bukannya Rio sakit ya? Lo gak jengukin dia? Kan rumah doi satu kompleks sama gue, deket ini.” Ucap Alvin menyarankan ku tiba-tiba

“Oh iya, tau kok.” Jawabku singkat lalu meninggalkan Alvin

    Aku membereskan barang-barang dengan cepat lalu ku masukkan dalam tas sekolah, aku memikirkan perkataan Alvin baru saja. Dia benar, rumah Rio memang hanya berjarak beberapa meter dari rumah Alvin, tapi apa tidak terlalu lancang aku tiba-tiba datang ke rumah Rio, bahkan aku tidak membawa apa-apa untuknya.

    Aku segera bergegas dan pamit pulang. Aku menelepon Rio berkali-kali tapi tetap saja nomornya mash belum aktif. Aku bertambah khawatir. Ini sudah pukul 17.30 dan dia masih belum mengaktifkan nomornya. Aku sengaja memilih jalan yang melewati rumah Rio, hanya untuk memastikan saja.

    Saat aku sudah berada tepat di depan rumah Rio, aku berhenti sejenak, menatap rumah yang lumayan mewah itu. Mobil Rio terpakir di garasi. Dan aku mulai lega, berarti tidak seperti yang ku fikirkan tadi bahwa Rio sampai masuk rumah sakit.

Rasa yang mendorongku untuk masuk rumah itu terlalu kuat. Aku ingin sekali bertemu Rio. Tapi aku teringat saat kejadian Rio marah gara-gara aku ke rumahnya tanpa ijin. Aku menggelengkan kepalaku. Ku urungkan niat ini. Tapi malah rasa ini semakin kuat.

    Ku coba lagi menghubungi nomor Rio, tapi tetap saja nihil. Lalu ku ketik pesan untuk dia, untuk sekedar memberitahu.

To : Beloved
Sayang, aku tadi latian drama di rumah alvin, aku lewat rumah kamu, aku pengeeeeen bgt ketemu kamu sayang :( aku coba hubungin kamu tp nomormu gak aktif terus, maaf kalo aku lancang ya sayang. Aku khawatir sama keadaan kamu skrg :’’(( aku kangen kamu sayang. Maaf ya, maaf ;(
--------------------------------------

    Lalu ku langkahkan kaki ku menuju gerbang, ternyata tidak di kunci. Ku teruskan masuk, dan pintu rumah sudah terbuka lebar. Samar-samar aku mendengar suara Rio. Aku tersenyum sumringah sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Aku akan menumpahkan kerinduanku ini padanya. Dengan semangat aku menuju pintu.

“Hayo, kamu kok disini sih? Gak hubungin aku dulu deh kamu.” Suara Rio terlihat kaget namun terdengar senang

“Hehehe, ya maaf deh, kan mau kasih kejutan buat kamu.”

“Dan berhasil buat aku terkejut loh, hahaha.” Ucap Rio sambil tertawa

“Iya dong, gimana keadaan kamu? Udah baikan?”

“Udah kok, ini juga udah sehat, makasih ya kamu udah mau dateng jengukin aku.” Jawab Rio dengan lembut

“Iya sama-sama, oiya ini aku bawain apel buat kamu.”

“Duh jadi ngerepotin, bentar ya aku ambil pisau dulu buat ngupas apelnya.” Rio hendak beranjak dari duduknya

“Gak usah, tadi aku sekalian beli pisau lipatnya kok, hehe jaga-jaga.”

“Jaga-jaga buat apa hayo? Lagian kan udah ada aku yang bakalan jagain kamu terus.”

“Hahaha gombal! Ntar aku dimarahin tau sama cewek kamu.”

“Ya gak lah, gak mungkin berani dia, lagian aku udah gak ada perasaan juga sama dia.” Ucap Rio tegas

“Tapi kenapa sih gak kamu putusin aja Yo?”

“Ya, aku kasian aja sama dia, dia udah terlalu cinta banget sama aku kayanya, hhm, tapi tunggu waktu deh aku bakalan putusin dia kok. Aku bakalan bilang kalo perasaan aku itu udah mati.”

    Sedari tadi aku menutup mulutku agar tidak membuat suara isakanku terdengar oleh Rio dan Shilla. Aku tak menyangka ternyata rasanya telah mati. Perasaan Rio terhadapku. Bahkan selama ini aku bertahan dengannya, tetapi ini yang dia lakukan padaku. Kaki ku lemas seakan-akan aku tidak kuat menopang tubuhku sendiri dan limbung. Sebelum itu terjadi dengan tubuh bergetar aku akan pergi dari tempat ini.
Bruukkkk

    Karena terburu-buru ingin segera pergi dari rumah Rio, aku tidak sengaja menabrak pot besar yang berada di sisi depan pintu. Seketika Rio dan Shilla menoleh dan kaget akan keberadaanku. Lututku berdarah tergores pinggiran pot, aku tak peduli lagi. Aku ingin segera pergi dari sini! Aku berlari dengan isakan tangis menahan sakit perasaan dan sakit di lututku.

“Kejar Yo, cepet kejar! Kasian dia, aku gak mau dia berbuat yang engga-engga gara-gara liat kita berdua tadi.” Ucap Shilla menyuruh Rio

“Tapiii....” Rio ragu-ragu

“Udah sana buruan!” Shilla mendorong tubuh Rio. “Aaww.. aduuhh.” Tangan Shilla berdarah karena saat mendorong tubuh Rio dia masih menggenggam pisau.

“Shill, kamu gak papa?” Tanya Rio khawatir

“Gapapa, aduuh perih, sana cepet kejar Ify!”

“Tapi tangan kamu Shill!”

****

    Aku berlari sekuat tenaga yang ku mampu saat ini, sakit, terlalu sesak di dada ku ini. Aku sudah tidak bisa memikirkan apa pun. Aku menoleh kebelakang. Bahkan untuk mengejarku pun dia tidak mau. Apakah aku sudah seperti sampah yang diabaikan, tidak dibutuhkan dan di buang begitu saja? Isakan ku semakin keras. Aku tak sanggup dengan beban ini Tuhan!

    Ku lambatkan lari ku, aku sudah terlalu lelah dan tidak kuat. Ku hapus dengan kasar air mata yang mengalir di wajahku. Aku sekarang mengerti. Aku bertahan demi dia. Dia yang padahal sudah tidak mencintaiku. Aku tidak menyesal. Karena selama ini aku bisa mempertahanku cintaku padanya walaupun cintanya sudah luntur. Aku bertahan tetap mencintainya dengan perlakuan dia terhadapku. Aku bertahan tetap mencintainya dan selalu memaafkannya walaupun selalu menyakitiku. Aku bertahan tetap mencintainya walaupun dia cuek dan acuh sedangkan aku selalu memikirkan dan khawatir terhadapnya.

    Aku memang merasa menjadi gadis yang bodoh, telah mempertahankan orang yang jelas-jelas sudah tidak mencitaiku lagi. Tapi rasa cintaku lebih besar dari pada rasa sakit hati yang ku rasakan. Apapun yang kau lakukan terhadapku itu akan sulit melunturkan rasa cintaku padamu. Dan akan selalu memaafkanmu. Aku terlalu mencintai Mario..

Sabtu, 06 Juli 2013

Bersamamu (SECOND-LAST)

Aku menceritakannya semua yang terjadi pada Icha, begitupun apa yang kurasakan saat ini.
...........
...........
...........

                    **********************

    “Lo harus kuat ngadepin ini semua yaa Dis, gue tau ini berat banget buat lo, dan pastinya buat Farel juga.” Icha memelukku
    “Iya, gue tau Cha, gue udah berusaha untuk bisa ngerelain ini semua. Gue gak mau ngecewain papa dan Tante Shanti. Mungkin mereka juga terpukul sama masalah ini, dan gue gak boleh egois.” Perlahan ku lepaskan pelukan Icha
    “Gue tau lo itu gadis yang kuat kok, gue selalu ada di samping lo. Kapanpun lo butuh gue, gue usahain selalu ada.” Icha mengusap pelan pipiku
    “Makasih banget yaa Cha, gue gak tau harus bilang apalagi ke lo, gue sekarang udah lega bisa ngungkapin perasaan gue selama ini. Dan mungkin sekarang gue harus ngomong ke papa dan Farel”
    Icha mengangguk dan tersenyum.

                    ***********
    “Farel....” Ku peluk erat saat dia baru saja membukakan pintu
Farel terhuyung ke belakang dan berusaha mengimbanginya
    “Gadis?” Terlihat dengan jelas wajah kaget. Lalu aku merasakan pelukan yang tak kalah erat. Aku meneteskan air mata.
Ku lihat Farel yang tak kalah kacau dengan penampilanku 3 hari yang lalu, ada lingkaran hitam yang mengitari matanya yang pasti dia kurang tidur.
Rambut berantakan tak terurus. Oh, aku merasa bersalah..

    “Aku kangen kamu sayang.”
    “Aku melebihi dari kamu cantik.”

    “Rel.. Aku takut, aku gak mau kita pisah sayang.” Ucapku lirih dan menundukkan kepalaku
Farel mendongakkan wajahku perlahan. Menatap mataku. Dalam.
   
    “Sayang, segala keinginan kita, gak semua harus tercapai. Ada kalanya kita harus berjuang demi mencapai keinginan itu. Dan dalam mencapai itu semua, belum tentu akan selalu berhasil.
Begitupun dengan kita, enggak semua keinginan kita harus terpenuhi. Ada hal yang harus kita pertimbangkan. Atau kata lain kita gak boleh egois. Kita harus memikirkan perasaan orang lain bukan hanya perasaan kita saja.”

    “Kalo kita gak egois, terus papa sama tante Shanti apa? Mereka juga gak mikirin perasaan kita Rel!!” Aku membentak perkataan Farel

    “Hussh..” Farel menenangkanku. “Itu bukan keinginan mereka sayang, bukan juga keinginan kita. Semua berjalan begitu saja tanpa ada yang mengetahui itu semua. Gak ada yang perlu di salahkan. Karna memang gak ada yang salah.Hanya takdir yang salah menempatkan dirinya. Itu semua udah terjadi sayang.” Farel menggenggam erat tanganku

    “Tapi aku sayang kamu Rel, aku gak mau kita pisah, apa harus kita yang berkorban demi orangtua kita? Sedangkan kita juga udah pernah jadi korban orangtua kita itu sendiri! Apa selalu kita? Apa karna kita hanya seorang anak dan bisa diatur semau orangtua kita!” Ucapku dengan penuh amarah
   
    “Gadis, ada hal yang mungkin memang belum kamu ketahui untuk saat ini. Mama dan Om Hadi pasti punya alasan yang kuat sampai bisa memutuskan untuk menikah. Sekarang kamu coba belajar untuk merelakan apa yang selama ini kamu pegang teguh. Aku mohon sayang, hapus ego kamu. Mama dan Om Hadi sudah hampir 2 tahun menjalaninya. Dan apakah karna ke-egoisan kita, semua jadi hancur? Apakah kamu tega Gadis?”

    “Dan apakah mereka juga tega mengahancurkan semua impian kita?” Ku alihkan pandanganku dari wajah Farel, aku sudah lelah dengan pembicaraan ini. Farel mencoba mengusap pelan tanganku yang sedari tadi ia genggam

    “Coba liat aku sayang. Impian mereka itu impian kita juga, percaya sama aku sayang.”

    “Kita gak bisa sama-sama lagi! Dan janji kamu? Selalu bersama selamanya? Gak akan bisa lagi!” Kini tangisku pecah seketika, pertahananku jebol. Aku sudah tidak bisa menahannya. Terlalu sesak di hatiku. Aku tak ingin berpisah dengannya Tuhan...
   
    “Janji aku sama kamu gak bakal aku ingkari. Percaya sama aku sayang, aku akan lebih dekat sama kamu. Aku akan tetap menyayangi kamu, mencintai kamu, melindungi kamu. Dan itu akan abadi. Selamanya. Bersama kamu.” Farel membawaku kepelukkannya.

    Aku terlarut oleh dekapannya. Aku percaya. Aku percaya dengan dia. Aku coba untuk merelakan semua. Karna aku terlalu mencintainya.
Semoga ini menjadi jalan yang terbaik untukku Tuhan. Aku ingin bahagia. Dan aku tahu, Kau pasti memberikan itu padaku Tuhan. Dengan cara-Mu sendiri, aku percaya...

                ******************


    “Pa..” Ku ketuk pelan pintu kamar papa
Tak lama pintu terbuka, dan seseorang memeluk tubuhku erat sekali.

    “Sayang? Papa seneng kamu udah mau ketemu papa. Ada apa sayang? Ada yang mau diomongin? Selama ini papa udah berfikir Dis, waktu itu Farel udah cerita semuanya ke papa, dan papa selama itu memang enggak tau hubungan kamu sama Farel. Maafin papa ya sayang.”
Papa membawaku masuk ke dalam kamar dan mendudukkan ku di tempat tidur.

    “Dan papa berfikir, mungkin papa akan mengakhiri hubungan papa dengan Tante Shanti. Papa gak mau nyakitin kamu sayang.” Ujar papa sambil mengusap lembut rambutku

    Aku terkejut. Aku menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
“Enggak pa, papa gak boleh mutusin hubungan sama Tante Shanti, Gadis gak mau jadi penghalang. Papa butuh Tante Shanti, dan mungkin Gadis juga.” Aku mengucapkan dengan tersenyum

    “Tapi gimana kamu dengan Farel sayang? Kalian kan juga saling mencintai. Papa gak mungkin menyakiti hati anak papa sendiri.” Kening papa berkerut
   
“Gadis udah rela kok pa, Gadis malah lebih sakit kalo liat papa gak jadi menikah sama Tante Shanti.”
Papa memelukku, mengecup puncak kepalaku. “Papa sayang kamu Gadis.”
Ku balas pelukan papa. “Gadis juga sayang papa.”


                ****************

    Hari ini pernikahan papa dan Tante Shanti. Entah mengapa aku belum pernah merasakan perasaan sebahagia ini, mama memelukku dengan hangat, dan dia bersama suaminya. Mama terlihat begitu senang. Aku tersenyum.
Papa Farel pun datang. Sendiri. Namun dengan wajah yang tegas dan tak kalah bahagia, mendekap erat Farel dan menepuk nepuk pundaknya.
    Aku belum pernah melihat papa selalu menebarkan senyumnya semenjak 3 tahun yang lalu.
Papa memeluk pinggang Tante Shanti yang terlihat begitu cantik. Dan mulai dari sekarang aku harus memanggil dengan sebutan ‘mama’.
   
    Mereka semua yang aku cintai, mereka semua yang aku sayangi. Bersatu. Dengan perasaan bahagia. Aku tahu semua ini pasti akan terjadi.
    Farel menggenggam erat tanganku. Ku tolehkan kepalaku menghadap wajahnya.
Dia tersenyum.

                ***************

We were as one babe
For a moment in time
And seemed everlasting
That you always be mine
Now you want to be free
So i’m letting you fly
Cause i know in my heart babe
Our love will never die
No!

You’ll always be a apart of me
I’m a part of you indefenitely
Girl dont you know you cant escape me
Oh darling cause you’ll always be my baby
And we’ll linger on
Time cant erase a feeling this strong
No way youre never gonna shake me
Oh darling cause you’ll always be my baby
.......................

    “Kita itu udah jadi satu, aku punya kamu, kamu punya aku. Ada yang bilang cinta itu gak harus memiliki. Tapi kali ini aku beruntung, aku bisa memiliki kamu. Kamu selalu menjadi bagian dari aku. Dan kamu gak bisa mengelak itu semua. Begitupun juga aku.” Farel merangkul pundakku dan menolehkan wajahnya. Menatapku.

    “Aku tau itu. Kita memang gak bisa saling memiliki dalam hal kekasih. Tapi kita bisa memiliki sebagai cinta yang gak bisa di pisahkan. Karna sekarang status aku jadi adek kamu, jadi kita gak bisa putus deh. Hehehe.” Aku tertawa lepas

    “Dih, pinter ngomongnya. Hahaha.. Dan sekarang aku bakalan buktiin janji aku ke kamu, kita sekarang bakalan selalu bersama selamanya. Aku tetap sama kamu, walaupun dengan cara yang berbeda. Malahan sekarang satu rumah kan? Haha, tiap hari ketemu, tiap jam juga malahan. Hahaha, jadi gausah bawel bilang kangen mulu kaya dulu yaa adek kecilkuuuuuu.” Goda Farel sambil mencubit hidungku
   
    “Apaansih woo! Iyaa aja deh yang sekarang jadi tua, kakak Farelkuuuuuu. Hahaha.” Ku cubit pinggang dengan keras, lalu aku lari meninggalkannya. Farel mengejarku.

    Ada kalanya kita merelakan hal yang paling kita takutkan untuk pergi. Tak ada salahnya berkorban untuk orang yang kita cintai. Semua keinginan kita pasti tercapai, dengan cara yang berbeda dengan jalan yang berbeda dan dengan wujud yang berbeda pula.
    Tuhan pasti mempunyai rencana yang lain ketika kita merasa gagal. Merasa kita menderita, merasa kita paling tidak bahagia.
Kebahagiaan itu bisa dapat dengan cara yang menyakitkan sekalipun. Dengan cara yang tidak kita ingini sebelumnya.
   
    Semua hal itu memang tidak bisa di terka, tidak bisa di ketahui dengan cara yang mudah.
Terimakasih Tuhan, memberikanku kebahagiaan dengan cara ini, aku, Farel, mama, papa.
    Mungkin tak ku fikirkan sebelumnya akan terjadi seperti ini.
Hal yang aku rencanakan, di luar rencanaku. Tetapi dalam rencana-Mu.

    Aku bahagia. Aku tetap bersama dia. Selalu Selamaya. Bersama...

Kamis, 11 April 2013

Bersamamu (First)

Awalnya kupikir kita adalah satu, kita selalu bersama, selamanya.
Namun mungkin takdir memang tidak seperti yang aku harapkan. Seolah olah menentang untuk kita bersama saling memiliki. Perpisahan.

    “Sayang, nanti anterin aku ke toko buku yuk, kemarin aku search ada buku yang best seller gitu, bagus kayanya aku pengen beli.” Rangkulku di lengannya
    “Siap bos cantik, mau jam berapa emang?” Dia menjawil daguku
“Hhm, jam 7, kamu jemput aku ya sayang?” Ku tatap matanya
    “Iyaa deh, apa sih yang engga buat cantik. Hahaha.” Sambil mengedipkan matanya
“Ihh gombal deh kamu tuh. Ya udah kalo gitu aku ke kelas dulu ya sayang, bye.” Ku kecup pipi kanannya sembari meninggalkannya
    Dia hanya membalas dengan senyuman dan berbalik meninggalkan tempat kita mengobrol tadi.

    Aku berfikir akulah orang yang paling beruntung, karena aku memiliki dia. Ya dia. Lelaki yang mendampingiku sekarang, dia terlalu sempurna untukku, dan sekali lagi aku sangat merasa adalah wanita paling beruntung memiliki kekasih yang menurutku melebihi apapun yang berharga dariku.
    Lelaki yang telah menjadi kekasihku selama 1 tahun lebih lamanya, dia terlalu baik untukku yang sangat manja, bawel, semua keinginan harus terturuti, dan berbagai hal lainnya yang menurut orang disekitarku itu menyebalkan. Tetapi hanya dia, dia yang memandangku seolah olah hanya akulah yang ada dimatanya, yang membuatku meraskan bahwa aku adalah satu-satunya miliknya.

    Aku mengenalnya saat MOS. Masa Orientasi Sekolah saat aku memulai menjadi siswi putih abu abu. Dia yang membantuku membuat topi dari karton, karna saat itu aku lupa membawanya, memang kekuranganku , ceroboh.
Semenjak saat itu kita mulai dekat, dan mulai mengenali satu sama lain. Kita sering janjian jalan keluar setelah pulang sekolah,karena sayangnya kita tidak satu kelas, itu yang aku kesalkan sejak saat pembagian kelas terpampang di papan pengumuman.
    Dialah yang membuatku menjadi lebih baik dan membuat hariku berwarna, dan aku sempat berfikir bahwa aku tak bisa hidup tanpanya, terlalu sulit bila hari hariku ini tak ada dia di sampingku. Aku terlalu bergantung padanya.Dia yang telah merubah hariku yang selama ini gelap, suram dan penuh kebencian menjadi lebih bersemangat untuk menjalaninya.

                                                   *********************

“Hiks..hikss.. “
“Udah dong sayang, jangan nangis gitu, ntar cantiknya ilang lho, nanti aku gak manggil kamu cantik lagi mau? Aku panggil mata panda, soalnya kalo nangis kan matanya jadi gede gede gitu, jelek ahh.” Rayunya sambil mengusap pelan punggungku
    “Kemarin kan mama kerumah, aku seneng banget, kita udah ngobrol banyak, aku juga curhat sama mama, tapi waktu papa pulang semua berubah, malah yang ada mereka jadi berantem. Aku capek Rel, aku udah jadi korban perceraian mereka, begitu semuanya udah selesai, apa aku masih harus liat mereka berantem lagi?”
    “Hush.. Udah ahh, sini.” Farel memelukku “Aku bilangin ya sayang, mereka mungkin cuma belum bisa menyatukan apa yang dipikiran mereka aja, mama papa kamu memilih berpisah karna mereka memang udah gak cocok dan gak bisa disatuin lagi. Mungkin berpisah itu jalan yang terbaik menurut mereka. Kalau kemarin mama papa kamu berantem, mungkin hanya emosi sesaat aja, atau kalaupun bukan, karena mereka belum siap untuk saling bertemu.” Farel membelai rambutku dengan lembut. “Udah dong nangisnya sayang.”
     “Aku sayang kamu.” Ku eratkan pelukkan dan bersandar di dada bidangnya itu
“Kamu gak sendiri kok, ada aku sayang. Dan bukan cuma kamu yang ngerasain gimana broken home itu, aku juga kok.” Dia tersenyum padaku
    “Iyaa aku juga selalu ada buat kamu, kok kamu dewasa banget sih, jadi kaya psikolog deh kamu nih.” Aku mulai tersenyum padanya
    “Haha, nah gitu dong senyum, kan jadi kaya matahari yang muncul habis hujan. Cerah banget aku liatnya.” Rangkulannya berubah menjadi dekapan dipipiku
    “Kamu itu emang bisa yaa bikin aku selalu seneng, aku sayang banget sama kamu Candra Farelsyah.” Ku peluk erat tubuhnya
    “Iya dong harus, soalnya aku paling gak suka liat kamu sedih. Aku lebih lebih lebiiiiiih sayang sama kamu Gadis Nurani yang cantik.” Dia kecup lembut keningku dengan penuh perasaan
    Aku bahagia bersamanya. Untuk selamanya.

                                                 *************************

    “Duh, Cha gimana ini? Gue khawatir banget sama Farel, dari semalem itu dia gak ngehubungin gue, gua takut dia kenapa napa.”  Nampak wajahku yang sangat gelisah
    “Posthink dulu deh Dis, mungkin dia lagi sibuk atau gak sempet ngehubungin lo karna ada kepentingan mendadak. Mungkin aja kan?” Temanku Icha mencoba untuk menenangkanku
    “Tapi itu dia gak biasanya kaya gini Cha, sesibuk sibuknya dia, pasti dia sempetin buat ngabarin gue, kalo enggak dia bilang gak bisa dihubungin sebentar karna sibuk.” Aku meremas tanganku yang berkeringat karna khawatir
    “Lo coba tenangin pikiran lo dulu deh, jangan mikirin hal yang aneh-aneh atau yang terburuk bagi Farel. Oke?” Icha meraih tanganku yang dingin
    “Gimana mau tenang kalo dari semalem dia gak bisa dihubungin. Gue tadi pagi coba buat telepon rumah dia berkali-kali, tapi gak ada yang angkat Cha. Dan apalagi hari ini kita Anniversarry.” Terdengar suaraku yang semakin meninggi
    “Iyaa gue tau kok perasaan lo gimana. Yaudah nanti kita ke kelas Farel buat mastiin dia gak kenapa napa. Gue temenin, yaa?” ucap Icha meyakinkan yang mengurangi tingkat kegelisahanku
    Aku mengangguk dan mulai berkonsentrasi untuk menerima pelajaran yang saat ini sedang berjalan. Yang aku yakin pasti hanya menguap begitu saja karna aku terlalu khawatir memikirkan Farel dan tidak sabar ingin mempercepat jarum jam untuk menuju jam istirahat. Dan aku bisa memastikan semuanya baik baik saja.


                                ****************************

    “Farel hari ini gak masuk Dis, gimana?” Ucap Nisa teman sekelas Farel sekaligus menyandang jabatan ketua kelas.
    “Hah? Gak masuk? Kenapa?” tanyaku yang tak sabar menginginkan jawaban
“Gak tau deh, gak ada keterangan gitu. Emang kenapa sih? Bukannya lo pacarnya? Kok malah lo gak tau sih.” Jawab Nisa disertai pertanyaan yang pedas
    “Hhm, gapapa kok Nis, oke kalo gitu makasih yaa. Ayo duluan.” Icha yang mewakiliku menjawab dan menggandeng tanganku menuju kantin

    “Cha, apa gue ini cewek yang kurang perhatian ya sama pacarnya, sampe Farel gak ada kabar aja gue gak tau apa apa?” Tanyaku sembari menundukkan kepala
    “Yaa enggak lah Dis, lo kan juga udah berusaha buat ngehubungin dia, tapi emang nihil.” Icha mengusap pundakku. “Ohiya mau pesen apa Dis?” Lanjutnya
    “Enggak ah, gak nafsu.” Jawabku sekenanya. Rasa lapar dan hausku sudah pergi mejauh entah kemana. Dan saat ini yang memenuhi pikiranku hanyalah Farel.

    “Yakin Dis gak laper? Habis ini kan kita pelajaran fisika 3 jam. Bakalan ngabisin tenaga yang banyak loh.” Icha kembali bertanya dengan membawa semangkuk bakso
    “Iyaa beneran gak ada minat buat makan, udah ah, gue kepikiran Farel terus ini.” Jawab gue dengan menutup muka

    “Kalo aku yang bawain baksonya kamu minat gak buat makan?”
Aku membuka tangan yang menutupi wajahku perlahan. Aku mengenali suara itu. Tapi, kenapa dia bisa berada disini? Bukannya dia gak masuk sekolah? Ku lihat wajah seseorang didepanku dan....

    “Fareeeeeeeeeeeeeellll.... Kamu tuh kemana aja? Aku itu khawatir banget tau gak kamu gak ada kabar gitu. Jahat!” Ku hamburkan ke pelukannya dan sedikit kuberi pukulan di dadanya.
    “Woo, mau jadi petinju yaa?” Farel tersenyum dan menundukkan kepalanya sedikit untuk bisa melihat wajahku, aku memang  lebih pendek darinya
    “Apaan sih? Gak lucu tau gak!” Ku gembungkan pipiku dan menghentakkan kaki
“Dih jelek banget itu mukanya, nih aku kasih ini buat kamu sayang.” Farel memberikan sebucket bunga mawar merah dan putih. “Mawar merah arti rasa cinta dan kasih sayang, mawar putih arti ketulusan dan kesucian.” Farel melepaskan pelukannya

    Aku mengambilnya dan tersenyum lebar. Aku senang hal hal yang ada dipikiranku tadi lenyap hilang sudah. Aku tak peduli banyak orang disekitar kantin melihat kita.
    “Makasih sayangku. Bandel kamu tuh sama aku.” Ku cubit pelan perutnya
“Auhh, ampun bos cantik, galak banget sih. Ikut aku yuk.” Dia usap sekilas perutnya dan berganti menggandengku menuju suatu tempat
    “Kita mau kemana sih sayang?” Tanyaku dengan kerutan di wajah yang menandakan aku sedang bingung
“Udah ikut aja, yuk.” Farel mempercepat langkahnya
“Arah taman?” Aku bergumam

“Tadaaaa, kita udah sampe.” Dia membentangkan tangannya seolah olah mempersembahkan sesuatu

    Ku kerjapkan mataku berkali kali, ku tutup mulutku yang tadinya menganga lebar karna keterkejutanku.
Semak semak yang dililiti kertas warna-warni, bangku taman yang dihias dengan berbagai bunga, batang pohon mangga yang ditempeli poster bertuliskan “Happy 1 Year Anniversarry My Beautiful Girl” dan terdapat banyak balon berbentuk hati yang menggantungnya.
    Ku dekati bangku taman itu. Ada boneka Teddy Bear berwarna putih besar sekali, mungkin sebesar badanku sendiri. Dan berkalungkan sepucuk surat.
    Ku raih boneka itu dan ku peluk sejenak, lalu kuambil surat yang menggantung di lehernya.

Selamat Hari perayaan 1 tahun hubungan kita ya cantik.
Semoga kita langgeng.
Dan bisa ngerayain hari seperti ini buat tahun tahun berikutnya.
Maaf kalau sempet ngerjain kamu.
Aku cuma mau ngasih kejutan buat kamu sayang.
Aku sayang banget sama kamu.
Selalu. Selamanya. Kita bersama.

Your love
Candra Farelsyah

    Tak sadar air mataku menetes, aku terlalu bahagia untuk ini semua. Aku percaya, cintanya terlalu besar untukku, dan aku yakin aku akan selalu menjaga cintanya dengan utuh. Dia. Aku merasa sempurna bila dengannya.

    “Gimana sayang? Suka gak? Loh, loh, kok nangis? Kamu marah yaa? Kamu gak suka?” Tanyanya sambil menghapus air mataku
    Aku menatapnya, tak banyak yang bisa ku ucapkan padanya. Aku terlalu bahagia karnanya. “Suka banget kok, makasih sayang. Aku suka bangeeeeeet.” Ku peluk dia seerat eratnya sekuat yang ku mampu
    Farel tersenyum.

                **************************

“Hallo? Iyaa sayang, maaf yaa kayanya nanti kita gak jadi jalan deh. “
“Kenapa sayang?”
“Papa ngajak aku ketemu seseorang yang mau di kenalin ke aku.” Ku manyunkan bibirku
“Oh yaudah gapapa, minggu besok aja kita jalannya.”
“Tapi aku pengen banget jalan sama kamu sayang.” Aku merajuk padanya
“Hey, kita jalan bareng kan bisa kapan aja cantik. Kamu pergi aja sama papa yaa?” Terdengar suara Farel melembut
“Ya udah deh iya, maaf ya sayang.”
“Iya gapapa, kamu hati hati di jalan, salam juga buat Om Hadi.”
“Iyaa sayang. Bye love you.”
“Me too.”

                *************************

    “Pa, sebenernya kita mau ketemu siapa sih?” Tanyaku yang sejak tadi bosan
“Temen lama papa, dia baik kok. Pasti kamu suka deh sama dia.”
    Aku hanya menganggukkan kepalaku menandakan mengerti.
“Mungkin sebentar lagi dateng kok, sabar aja yaa, papa liat kok dari tadi kamu gak sabar gitu?” Papa mentatap mataku
    “Enggak kok pa, hhm, bentar Gadis ke toilet dulu ya pa.” Ijinku pada papa
“Yaudah sana, jangan lama lama ya.”
    Aku pergi meninggalkan papa menuju toilet.

“Aduh mas, maaf ya agak telat, ini tadi nungguin anak saya mendadak saya ajak.” Seorang wanita cantik datang duduk di depan papa
    “Iya gapapa Shan, kita juga baru aja kok, loh sekarang mana anaknya?” Papa bertanya sambil melihat sekitar tak terlihat seseorang yang bersama wanita itu
    “Oh itu lagi cari tempat parkir, tadi saya tinggal masuk kesini. Buru buru mas, takut kalian udah nunggu lama. Lah, mana putrimu itu?” Jawab wanita yang dipanggil ‘Shan’ itu
    “Owalah kamu ini selalu begitu. Hahaha. Ada kok lagi ke toilet sebentar.”

“Hhm, pa?” Tanyaku sambil menarik bangku
    “Nah ini dia orangnya, kenalin ini tante Shanti, ini Gadis putri semata wayangnya saya.” Papa tersenyum dan mengenalkanku dengan seorang wanita yang di depan papa
    “Aduh cantik banget ya, kaya anak saya dong, anak semata wayang juga. Tante juga ajak lho, tapi lagi di parkiran.” Jawab tante Shanti
    “Makasih tante, tante juga cantik. Oh iya tan.” Aku tersenyum
“Yaudah, udah pada saling kenal kan? Sekarang kita pesan makanan dulu ya.” Papa menawarkan
    Aku sedang memilih menu makanan yang aku sukai yang pas untuk menu makan malamku.

“Eh, sayang sini duduk, kenalin ini Om Hadi, dan ini putrinya, Gadis.” Tante Shanti berbicara yang mungkin kepada anaknya itu.
Aku tidak begitu menghiraukannya dan pandanganku masih pada daftar menu makanan yang akan kupilih.
    “Om, Gadis.”
Terdengar suara yang bergetar memanggil namaku, dan aku mengenalnya.
Ku dongkakkan kepalaku, ku tatap wajah yang ada di hadapanku sekarang. Aku terkejut, namun aku berusaha tenang, walaupun hatiku berkata ada hal yang menurutku tidak baik..
    “Farel?” Balasku dengan suara yang tak kalah bergetar
“Oh, nak Farel itu anakmu toh Shan, iya kami udah kenal sama nak Farel ini, dia teman satu sekolahnya Gadis.” Jawab papa yang tanpa beban apapun
    “Ya ampun, berarti bagus dong, kita bisa membicarakan tentang hubungan kita ke mereka lebih santai.” Tante Shanti bicara dengan nada semangat
    “Hubungan? Maksud tante?” Tanyaku mulai khawatir
“Jadi gini, kita sudah menjalani hubungan ini selama hampir 2 tahun. Dan papa memutuskan akan menikahi tante Shanti.” Jawab papa dengan menatapku

Ku tatap wajah Farel yang tak kalah pucatnya dengan wajahku, aku pergi meninggalkan mereka semua. Aku butuh waktu untuk sendiri.
                *********************

Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa harus aku? Apa tidak cukup Tuhan memberikan cobaan yang berat, dan setelah Kau kirimkan cahaya penerang bagi hidupku Kau malah memadamkannya kembali? Apa aku telah melakukan sebuah kesalahan besar sehingga aku harus menanggung semua masalah ini Tuhan?

    Ku peluk erat boneka Teddy Bear pemberian Farel dan menumpahkan semua tangisku.
Aku tak bisa menerima ini semua. Kenapa harus tante Shanti? Dan kenapa harus Farel anaknya!
    Ku nyalakan MP3 milikku yang sudah ku pasang speaker supaya papa tidak mendengar tangisku yang akan ku tumpahkan sepuasnya. Ya, malam tadi aku meninggalkan restoran tempat kita makan malam, dan aku tidak tahu apa yang telah terjadi disana setelah aku pergi.
    Tadi papa berkali kali mengetuk pintu kamarku, namun aku tak menghiraukannya, aku tak ingin mendengarkan penjelasannya saat ini.
Handphoneku pun berbunyi terus, ternyata panggilan dari Farel. Terpaksa aku mengabaikannya. Ku nonaktifkan Handphoneku. Aku ingin sendiri.

    Ku keraskan volume suara lagu itu untuk menenggelamkan suara tangisku.

Memandang wajahmu cerah,
membuatku tersenyum senang, indah dunia
Tentu saja kita pernah
mengalami perbedaan, kita lalui
Tapi aku merasa, jatuh terlalu dalam
Cintamu..
Ku tak akan berubah, kutak ingin kau pergi
Selamanya...

Ku kan setia menjagamu, bersama dirimu, dirimu ohh..
Sampai nanti akan selalu bersama dirimu

Seperti yang kau katakan
Kau akan selalu ada, kau akan selalu ada ohh..ohh
Menjaga memeluk diriku
Dengan cintamu
Dengan cintamu...

Tangisku makin menjadi saat ku dengar sebuah lagu yang sangat menggambarkan suasana hatiku saat ini. DAMN!

                ********************

    Sudah 2 hari aku tidak masuk sekolah dan tidak mau keluar kamar. Aku hanya mengurung diri. Tak ada semangat apapaun yang ada di hidupku sekarang ini. Aku berfikir ini sudah terlalu berat cobaan bagiku. Aku tak sanggup.
Mungkin berkali-kali aku mencoba untuk mengerti. Tapi aku seakaan akan enggan untuk memaksa otakku mengerti.
Aku mencoba untuk membayangkan ini hanya mimpi buruk dan aku bisa bangun dari keterpurukan itu, tapi ternyata? Ini nyata.
Aku tak peduli dengan keadaanku sekarang. Aku tak peduli dengan perutku yang tak kuisi selama 2 hari, aku tak peduli aku tidak mandi, aku tak peduli dengan mataku yang sudah memerah dan bengkak hingga kurasakan perih sekali, aku tak peduli dengan penampilanku saat ini.
Karana menurutku, tak  ada orang yang peduli akan aku.
    Dulu aku merasa adalah orang yang paling beruntung sejak aku bertemu dengan Farel dan
 aku bisa memilikinya, tapi mengapa? Sekarang aku merasa orang paling menderita, karena aku pernah memperoleh keberunntungan itu.
Aku merasa benci dengan semua orang, papa, Tante Shanti, mama, Farel, diriku.


    Setiap hari papa membujukku untuk keluar kamar. Menurutku setelah kejadian malam itu, papa tidak masuk kerja. Karna papa selalu mengetuk pintuku setiap waktu.
Dan sepertinya kemarin sore aku mendegar suara Icha di depan kamarku, yang pasti membujukku untuk keluar kamar. Tetapi aku tak menghiraukannya. Aku masih belum ingin bertemu siapapun untuk saat ini.
    Aku benci siapapun. Mungkin aku egois, karna masalah ini, aku melampiaskan pada orang orang yang tidak bersalah. Aku merasa, orang orang tidak peduli padaku. Bahkan Farel. Aku tidak mendengar suaranya membujukku di depan pintu kamarku. Sama sekai tidak.
Aku merasa dia telah melupakanku.
    Atau apakah mungkin, karna dia juga merasakan seperti apa yang aku rasakan? Apa dia juga tidak rela menerima kenyataan ini? Apa dia lebih kuat dari pada aku? Apa dia bisa berfikir jernih dalam menghadapi masalah ini?   
     
    Ku coba mengaktifkan Handphoneku, terdapat banyak sekali sms yang masuk dan pemberitauhuan orang yang telah menghubungi.
Ku baca beberapa sms.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
From : Ichoo
Dis, lo kenapa sayang? Udah dua hari ini gak masuk. Gue khawatir banget :( aktifin hape lo dong Dis.
Please, lo hubungi gue :”(
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

From : Ichoo
Dis, gue tadi udah ketemu bokap lo :’) gue ngerti kok sekarang lo pasti lagi kacau banget. Sabar yaa sayang :’* lo tenang aja, gue selalu ada buat lo. Saat lo butuh :’)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

    Aku menangis membaca sms dari temanku itu, dia memang teman terbaikku, selalu menjadi teman curhatku, dan menjadi penasehatku. Aku kangen dia. Aku ingin bertemu dia.
Ku balas sms Icha yang menumpuk itu.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
To : Ichoo
Cha, maafin gue yaa, gue gatau apa yg harus gue lakuin sekarang. Gue bingung. Cha kesini dong, gue mau cerita :’(
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Message to Ichoo Delivered!

    Setelah itu aku membaca salah satu pesan yang membuat mataku perih kembali.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
From : beloved<3
Cantik, aku sayang sama kamu. Masalah ini kita hadepin bareng bareng ya sayang ya,  kita harus kuat. Aku udah berusaha untuk bisa lebih dewasa ngadepin masalah ini. Yang aku khawatirin itu kamu. Aku gak tau keadaaan kamu sayang :') kamu yg kuat ya, disini aku selalu mikirin kamu :’*
Kita selalu bersama kok.
Selalu. Selamanya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

   
    Ku tenggelamkan kepalaku ke bantal. Ku tatap boneka Teddy Bear putih yang sangat aku sayangi, seperti orang yang memberinya.
Huuftt, aku terlalu lelah.

            ***********************************

“Yaa ampun Dis, lo kenapa sampe kaya gini? Mau cerita semuanya? Gue siap dengerin kok sayang.” Ucap Icha sembari memelukku
   
    Aku menceritakannya semua yang terjadi pada Icha, begitupun apa yang kurasakan saat ini.
...........
...........
...........

Kamis, 28 Maret 2013

My Diary - Part IV

“beneran lo gapapa? Kalo gitu gua duluan yaa. Bye” Cowok itu nebarin senyumnya yang super manis itu, sambil melambaikan tangannya dan gak lupa nuntun sepedanya.

Gua masih terdiam terpana terpesona tergagu dan semacamnya. Gua merutuk diri gua sendiri yang udah hampir ngelakuin hal bego. Menurut gua dan gua baru sadar itu sekarang.
And  you know?? I am......

    “Mentari Shafaraniiiiiiiiiiiiiiii....” teriak Tara yang membangunkan gua dari lamunan sesaat
Sambil mengusap kuping. “auuuh, biasa aja dong  eneng barbieeee.” Gua ikutan teriak di kuping dia
“duh Fa, lo tuh dari tadi kesambet apaan sih? Cuma diem aja. Gua panggilin, gua ajak ngomong, sampe tadi ada cowok keren lo malah pasang tampang bloon lo yang gak banget. Gua kan jadi malu, apalagi tadi dia minta maaf ke lo lho, iyaa minta maaf gitu soal.. Haaahh? MINTA MAAF?!!! Eh kok bisa? Duuhhh Shafaaaa, lo gak cerita ihh sama gua. Jahat banget! Lo anggap gua sahabat gak sih? Apa lo selingkuh yaa? Punya sahabat baru? Tau ih Fa males banget.”Tara pasang tampang sok sedih plus memanyunkan bibirnya. Gua bersyukur  ocehan Tara berhenti yang dari tadi emang gak masuk dalam otak gua. Gua jalan meninggalkan Tara.

“Faaaa.. apaansih main tinggal gitu aja!!” Tara berjalan mengikuti gua sambil menghentakkan kakinya dan tak lupa menggembungkan pipinya.
Gua menoleh ke arah Tara “bawel banget sih lo. Yukk gua traktir ice cream trus gua ceritain semuanya di rumah gua. Okay barbie?” Gua mengedipkan mata
“Hehehe.. Gitu dong Fa, kan Tara jadi seneng.” Tara nyengir yang sumpah dibuat buat banget
“Dih, kesenengan di gituin dia.”

                                  *************************

Gua peluk guling kesayangan gua yang sarung gulingnya emang udah lama gak bolehin buat dicuci, soalnya bau khas yang bisa membuat gua terlelap. Sambil membenarkan posisi duduk gua, gua mulai bercerita ke Tara.
“Jadi gini Ra,  kan udah gua ceritain tentang cowok yang nyipratin gua itu kan, dan kita tadi juga mau menjalankan misi kita yang mau ngerjain cowok itu kan?”
“he’em” Tara menganggukkan kepalanya
“Nah, tadi itu yang di parkiran yang ketemu kita yaitu cowok yang mau kita kerjain Ra.”
“lah terus, kenapa tadi lo gak ngerjain dia? Kita kan udah atur rencananya, lagian gimana sih Fa, lo malah diem aja gitu, katanya mau bales dendam. Labil ahh!” ucap Tara menggebu gebu
    “Itu dia Ra, gua juga heran banget, begitu tadi gua liat sepeda dia, gua udah mau ngajak lo buat nyamperin, eh tapi ternyata orang yang punya ada di sebelahnya, dan waktu gua liat dia, gua jadi gak bisa ngelakuin hal apapun gitu Ra.” Gua tatap mata Tara dengan sungguh-sungguh
    “Ooo.. gitu Fa, apa jangan jangan lo sakit ayan lagi, gabisa berkutik gitu.” Kedua tangan Tara memegang pipi gua sambil matanya berkaca-kaca. “Yaa ampun Fa, gua gak mau lo kaya gitu..”
    “Apaansih lo ngomongnya asal banget!” Gua toyor kepala Tara
“Ihh Fa jahat banget, kan Ra cuma khawatir doang.”
“Mulai deh yaa dramaqueennya.” Gua melempar bantal ke muka Tara
    “Oh iyaa, terus kan gua gak bisa apa apa waktu itu, dan rasanya jantung gua mau copot gitu Ra, waktu dia ngedeketin kita, apalagi waktu dia minta maaf ke gua. Dia pegang pundak gua Ra, ya ampuuunn.” Gua seyum-senyum sambil memegang pundak gua

    Tara diam. Keadaan hening.
“Fa, lo suka sama cowok itu?”
Deg.
Pas banget kena hati gua, ada hal yang lain waktu Tara bilang gitu, gua berfikir keras, apa bener pertanyaan Tara tadi yang membuat gua jadi gelisah gini? ‘lo suka sama cowok itu?’
Gua tersadar, apa sewaktu gua cerita tadi gua keliatan suka sama cowok itu? Apa gua terlalu bisa di baca sampai-sampai Tara langsung mengajukan pertanyaan yang mungkin sekaligus peryataan buat gua?
Gua bingung. Terpesona sesaat atau malah gua....?

                                                     ***********************


Hari Minggu saatnya bermalas malasan, malas ngelakuin hal apa pun. And than? Seperti paus terdampar di kasur. Yang pasti jangan di tanya kondisi gua saat ini. Kalau bisa di gambarkan? Parah.

Hampir semalaman gua mikirin apa yang Tara bilang tadi sore. Gua masih bingung. Apakah bener gua jatuh cinta sama cowok itu? Yang notabene nya baru ketemu 2 kali, padahal yang pertama aja udah bikin gondok dan emang pertemuan very so bad. Cowok yang nyipratin gua dan lelaki tidak bertanggung jawab itu bisa bikin gua sesaat ngelupain dunia di sekitar gua, yang hanya bisa mandangin dia doang. Cowok yang bikin jantung gua rasanya mau copot karna terlalu deg-deg an disamperin dia.
    Gua random. Gua  bingung  ini adalah keterpanaan sesaat atau emang gua udah mulai ngerasain yang namanya jatuh cinta pada pandangan kedua.

    Gua memflashback kejadian kemarin di parkiran. Hhm, ternyata dia kayanya cowok baik kok, walaupun pertamanya udah dicap sama gua lelaki tidak bertanggung jawab sih, tapi agaknya sekarang udah mulai luntur. Buktinya dia inget muka gua, dan dia minta maaf sama gua. Dan alasan dia gak ngebantuin gua waktu itu cukup dimasuk akal. Dan yang bikin melting banget itu emang coolnya dia udah melebihi batas. Over dosis!
    “Kira-kira siapa ya nama dia?”
    “Terus, yah sayangnya dia anak kelas 10 yaa, brondong dong. Gapapa lah keren ini brondongnya. Hehehe.”
   
Hape gua berteriak teriak tanda ada panggilan masuk. Tara. Duh anak ini pasti masih kepo deh sama masalah yang kemarin itu.
Dengan malas gua angkat telepon dari Tara.
    “Hallo Ra.”
    “Aduh lama banget sih Fa ngangkatnya, lagi apa sih?” Tara udah mulai aksi kebawelannya
    “Gak ngapa-ngapain kok. Kenapa Ra?”
    “Yakin nih? Serius? Dihh masa gak boleh telepon temennya.” Keluar manjanya yang terdengar dari nada suaranya itu
    “Iyaaaa barbieku.. tumben aja sih. Kenapa?”
    “Masih penasaran aja sama kejadian kemarin itu, hehe. Fa ceritain dong, kan Ra pengen tau juga.”
    Gua hembuskan nafas panjang. “Iyaa deh, gini semalam gua kepikiran terus sama pertanyaan lo kemarin sore itu. Gua bingung, apa bener gua suka sama cowok itu, kan pertamanya lo tau sendiri kan, gimana bencinya  gua sama dia? Nah tapi, waktu di parkiran itu gua ngerasa lain Ra, gua kayanya emang bener jatuh cinta deh Ra. Menurut lo gimana?”
    “Hah? Jadi bener Fa suka sam cowok itu?” teriak Tara yang membuat gua menjauhkan hape dari kuping gua. “Yaa kalo menurut Ra sih gapapa Fa, lagian dia kan udah minta maaf waktu itu.
Dan satu lagi Fa, dia cakep bangetttt hehehe.”
    “Wooo.. apaan lo, gebetan gua tuh, jangan diembat!” muka gua agak kesal. “Iyaa juga sih Ra, hhm tapi dia brondong tau.”
    “Hahaha iyaa Shafa, gak mungkin kok gua embat gebetan temen baik gua yang emang menjomblo seumur hidupnya. Hahaha.. Eh iyaa ya, dia kan kelas 10. 10 berapa yaa kira-kira?”
    “Beuh belagu nih bocah, untung aja gak di depan gua lo, kalo iya, udah gua jepit pake ketek gua nih. Tau deh, hhm besok cari tau yuk.” Mengembang senyuman di bibir gua
    “Ahehe.. kejem amat buu? Siapp deh boss, apasih yang gak buat lo. Haha.”


                                                          *********************
    “Gimana Fa? Ntar jadi ke parkiran sepeda lagi? Mau cari tau tentang cowok itu kan?”
Gua menyeruput jus jambu sambil mengaduk mie bakso di depan gua. “Jadi lah, kan gua udah penasaran sama identitas cowok itu. Lo juga kan?”
“Iyaa sih, tapi emang mau lo ntar ngajak dia kenalan duluan? Kemarin aja lo kaya patung hidup gak bisa apa-apa gitu di depan dia.”
    “Duh ngejleb banget yaaa.. Ya makanya lo doain gua dong biar gua gak grogi gitu, supaya semuanya berjalan lancar, semulus paha cherrybelle. Haha.” Gua kedipin mata gu ke Tara
    “Dihh, mulusan juga paha gua dari pada cherrybelle.” Sewot Tara
“Iyaa deh yg udah mirip banget KW-1 nya barbie.”
    “Nah gitu dong, hehe tenang aja deh, ini gua yang traktir.” Tara nyengir
“Serius? Haha sering sering dah gua muji lo kalo kaya gini.” Ucap gua semangat
    “Dih gitu, asal gak sampe gua bangkrut aja sih gua ayo. Haha.”
“Tenang sih kalo sama gua, haha palingan sampe rumah lo disita bank aja gara-gara nraktir gua.”
    “Itu mah namanya ngerampok bego.”
Kita berdua ngakak.
                                                      ***********************

“Udah ketemu belum sih? Kita udah hampir sejam nih disini, kan gua risih juga Fa.” Tara menghentakkan kakinya
“Iyaa bentar napa sih ahh, lagian gua juga lagi nyari ini, cuek aja sih Ra kalo diliatin gitu.” Jawab gua dengan pandangan gua mencari benda yang pas.
    “Iyaa tapi masa gak ada sih? Gimana mau cuek kalo yang ngeliatin pada gitu banget.” Ucap Tara dengan muka lusuh
“Bentar, tau bentar gak sih. Yaa anggep aja lo artis lagi masuk kampug, jadi yaa gitu deh.”
    “Iyaa deh, buruan yaa carinya, gua mau duduk di sebelah sana duu, capek nih.” Eluh Tara sambil menunjuk bangku panjang di bawah pohon mangga.
    “Iyaa bawel.” Gua tinggal Tara ke parkiran paling pojok

Rabu, 20 Maret 2013

Louis memerahkan rambut - Jessie botak


Jessie J dan memilih cara yang tidak biasa untuk menarik perhatian masyarakat agar ikut menyumbang di acara amal Comic Relief. Saat tampil bersama boybandnya, , Louis tampil dengan rambut baru berwarna merah menyala. Yang lebih mengejutkan lagi, Jessie J muncul dengan rambut botaknya.

"Aku merasa baik, rasanya seperti bebas," ujar Jessie saat ditanya perasaannya. "Ini memang mengejutkan banyak orang. Aku ingin melakukan sesuatu yang bukan cuma bertahan lima menit dan ini menyenangkan."

Di acara tersebut, ditunjukkan juga video proses Jessie ketika mencukur habis rambutnya. Pelantun "Domino" ini mengungkapkan alasan sebenarnya ia memutuskan mencukur habis rambutnya adalah demi menolong anak-anak tak mampu sebagai bagian program Comic Relief.

"Aku tak bisa membayangkan bagaimana mungkin anak-anak bisa merasa seperti itu," ujar Jessie. "Aku tak pernah merasa tersiksa, aku tak pernah merasa takut pada siapapun. Membotaki rambutku hanyalah hal kecil yang bisa kulakukan untuk mereka."

Sementara itu, Louis tak hanya mewarnai rambutnya untuk acara Comic Relief. Bersama dengan personil 1D lainnya, mereka baru saja merilis single untuk program amal Comic Relief yang bisa dibeli di seluruh dunia melalui iTunes. (wk/rs)


(copas)
Read more: http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00032752.html#ixzz2O6YpTYud