Label

Rabu, 02 Januari 2013

Best Friends? Part I


Pagi yang memnurutku sangat membosankan, bahkan aku pun merasa malas mengikuti pelajaran yang mungkin akan memeras otakku nanti.
semalaman aku tak bisa tertidur, karena entahlah, mataku tak bisa terpejam dan selalu terjaga.
Aku berangkat untuk mencari bekal cita-citaku dengan rasa tidak bersemangat. Dan hingga saat ini saat matahari sudah mencapai puncak teratas dan segaris lurus dengan kepala manusia, tidak ada perubahan sikap dariku. Dengan fikiran yang melayang jauh, aku tidak bisa terfokus dengan semua celotehan guru yang menerangkan rumus arus bolak balik yang menurutku sangat menjemukan. Bahkan tak sedikit yang sibuk dengan pembicaraan masing masing atau terbuai dalam mimpi.
“aku duluan yaa..” salah satu temanku berpamitan
Hanya ku jawab dengan anggukan kecil dan senyuman.
Yaa, teman-temanku bahkan heran sekali, mengapa akhir akhir ini aku menjadi mendadak mengunci mulutku untuk sekedar mengucapkan kata-kata.
“fara itu kenapa sih ? kok mendadak alim gitu ?”
“gak tau tuh mungkin lagi ada masalah kali.” Jawabnya
Kudengar percakapan kedua temanku saat aku sedang menuruni tangga bergegas untuk pulang.
membuatku teringat saat temanku menanyakan sesuatu kepadaku saat istirahat tadi.
“kamu kenapa sih fa ? sakit yaa?” tanya nisa
“gak kok.” Jawabku singkat
“fa, kalau kamu ada masalah, cerita aja sama kita, toh kita kan teman kamu, mungkin aja kita bisa bantu.” Ucapnya yang dibarengi oleh temanku yang lain
“engga kok, aku gak papa.” Jawabku singkat
Aku berfikir, apakah memang benar mereka peduli dengan keadaanku. Apakah mereka sadar dengan perubahan sikapku yang menjadi lebih murung dan pendiam ini ?
**********
aku termenung  ditempat  dimana menjadi  tempat pribadiku dan menghabiskan banyak waktuku di tempat yang bernama kamar itu.
aku merebahkan tubuh lelahku yang tenaganya terkuras habis dengan pikiran-pikiran yang selalu menggangguku.
aku mengambil barang yang mungkin sudah menjadi hidup dan matiku, yang bisa membuatku berkomunikasi  dengan  siapa pun  tanpa mengenal  jarak.
benda mungil yang kini sudah ada digenggamanku kini telah membuka sebuah pesan.
from : via_gembul
Faaaa, ka tika :”(
--------------------------------
Dengan cepat jariku sudah menari-nari diatas keypad menuliskan sebuah balasan.
To : via_gembul
Ka tika knp ? knp sma ka tika !!!! :”(
--------------------------------
Perasaanku sudah tidak enak setelah melihat balasan dari sahabat dekatku via. Aku tak tahu harus mengatakan apa saat ini. Aku merasa terlalu buruk mendengar kabar yang memang dari sejak dulu aku tak mau mendengarnya.
From : via_gembul
Ka tika koma :’( :’(
-------------------------------
Kecewa.
yaa sangat kecewa dengan orang yang telah membuat kak tika menjadi begini. Kupikir orang itu terlalu egois dalam memaksakan kehendaknya tanpa mengerti bagaimana keadaan kak tika selama ini. Dia hanya mementingkan keinginannya yang semata-mata dia merasa dia lah yang tersakiti, padahal dari sudut manapun jelas sekali dia salah !
kak tika, sahabat dunia maya ku yang sudah kuanggap menjadi kakak perempuan yang baik dan lembut. Dia mengidap penyakit “sirosis”. Mungkin menurut kalian sangat asing sekali kata itu. Sirosis adalah penyakit semacam pengerasan hati. Miris sekali ketika kudengar berita itu.
Mungkin kalian bingung, mengapa kejadian cerita tentang kak tika. Akan ku jelaskan.
Aku mempunyai banyak sekali sahabat yang terjalin dari dunia maya. Yaa, via, kak tika, kak fifi, dan aya, adalah sahabat terdekatku dalam dunia maya. Dan terbantu dengan adanya jejaring sosial yang sudah digilai para remaja saat ini. Mungkin bukan hanya remaja saja, karena orang tuaku pun juga telah asyik dengan dunia itu.
Flashback
Aku membuka akun facebookku yang memang selalu tak pernah ku log out. Ku tampilkan beranda dalam facebook dan melihat status-status terupdate yang telah ditulis temanku.
aku tertegun. Terkejut dengan apa yang telah aya tulis, aku snagt tau dan menganal sekali maksud dan sasaran status aya itu untuk siapa. Siapa lagi jika bukan kak tika. Aku sangat miris membaca status sindiran yang tidak mengaenakan hati itu yang ditujukan untuk kak tika. Padahal perkataan itu bukanlah untukku, tetapi perasaanku malah sangat tidak enak.
.............................................................................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar