***
Kemilau mentari menerobos masuk kekamar anak laki-laki itu. Sang empunya kamar tiba-tiba tersentak,ia terjaga dari mimpi-mimpi kecilnya. Segera ia bangkit dan menyibak slimut hangatnya,dijejakkan kakinya kelantai,masih terasa dingin. Dgn tergesa diambilnya tas sekolah doraemon itu,dikeluarkan sebuah gambar dari dalamnya. Sepasang kaki mungil itu langsung berlari lincah keluar kamarnya.
"mah,pah,mamah,papah" teriaknya. Seorang perempuan paruh baya tergopoh-gopoh menghampirinya.
"aden,kok udah bangun??" tanya wanita yg ternyata pembantu rumah tangga,dirumah mewah itu.
"bi,mamah sama papah mana?" tanya anak itu.
"nyonya sama tuan sudah berangkat ke bandara tadi,pagi-pagi sekali,den. Mereka ada rapat disingapura" jelas si Bibi.
"yaahh,padahal aku mau nunjukin ini" kata anak itu kecewa,sambil mengangsurkan buku gambarnya.
"wah,bagus sekali gambarnya,dapat nilai 9 ya." seru si Bibi saat mengamati gambar anak laki-laki itu.
"bi,aku pengen maen ke timezone bareng mama sama papa,aku pengen makan es krim bareng. Aku kangen mereka,bi" ucap anak itu,manja,sambil memeluk pinggang si Bibi,
si Bibi membalasnya dengan mengelus rambut anak majikannya itu.
"iya,nanti ya,kalo mereka pulang. Sekarang aden mandi dulu,kan mau sekolah,ayo cepat," kata si Bibi sabar.
Mario Stevano Aditya,begitulah nama yang diberikan orang tuanya kepada anak itu.
Ia baru berusia 5tahun, tahun inipun ia baru masuk TK.
Rio adalah anak yang manis dan pintar,ia ramah dan penyayang.
Celoteh dan tingkahnya selalu membuat orang,gemas. Rio anak yang baik.
Ia tidak pernah rewel meski sering ditinggal orang tuanya bekerja. Tapi bagaimanapun ia hanya seorang anak kecil,kadang ia rindu saat-saat bersama orang tuanya,ia ingin rapor sekolahnya diambil oleh orang tuanya,seperti teman-temannya,ia ingin orang tuanya yang merawatnya saat sakit,ia juga sangat ingin merayakan ulang tahun bersama mama-papanya,bukan hanya kue ulang tahun bertingkat atau kado yg menggunung,bukan...
bukan itu yang ia harapkan.
***
"maa,besok mama dateng ya kesekolah io, sekolah io mau ngadain acara peringatan hari ibu" pinta rio,Sambil bersandar manja,dibahu mamanya. Kebetulan hari itu mamanya sedang ada dirumah.
"mama gak bisa rio,besok mama ada kerjaan" selalu begitu,rio hapal betul,kata-kata itu. Karna memang selalu kata-kata itu yang terlontar,saat rio meminta mama atau papanya menemaninya, entah untuk sekedar main,mengajari membuat PR,ataupun datang ke acara sekolah rio.
"tapi besok io nyanyi lho,maa. Mama gak pengen liat??"
"sama bibi aja ya,sayang"
"io maunya sama mama" rengek rio.
"yaudah,besok mama usahain ya. Udah sana main lagi" mama rio kembali berkutat dengan laptop,pena dan kertas-kertasnya.
Rio pun keluar dengan senyum manis mengembang diwajah lucunya, mengingat mamanya akan hadir disekolahnya besok.
Setelah beberapa langkah,rio berbalik,ia berlari kecil kearah mamanya,lalu dengan tangan-tangan kecilnya,ia peluk mama tercintanya itu.
"I LOVE YOU, MOM" ucpnya tulus dengan bahasa inggris khas anak Tk. Mamanya tersenyum kecil, sambil mengelus rambut rio., lembut.
***
kubuka album biru penuh debu dan usang kupandangi semua gambar diri kecil, bersih belum ternoda
fikirku pun melayang dahulu penuh kasih teringat semua cerita orang tentang riwayatku
nada-nada yang indah slalu terurai darinya tangisan nakal dari bibirku takkan jadi deritanya
suara rio mengalun memenuhi ruangan itu,memang belum terdengar merdu. Tapi cukup untuk membuat orang terharu, karna lagu itu terlantun dari bibir kecil dgn segenap ketulusan. Dentingan piano dan barisan lilin dibelakang rio, membawa semua orang larut dalam bayangan sosok seorang ibu.
Tangan halus dan lembut tlah mengangkat tubuh ini, jiwa raga dan seluruh hidup rela dia berikan
"lagu ini,buat mama io tercinta" ucap rio disela-sela jeda lagunya.
Kata mereka diriku slalu ditimang kata mereka diriku slalu dimanjaaaa
sejak awal rio berdiri dipanggung, sudah berkali-kali ia menatap barisan penonton dihadapannya, berharap menemukan sosok mamanya berdiri dan tersenyum padanya. Tapi hingga detik ini, ia tidak juga melihat mamanya disudut manapun diruangan ini.
Oh,bunda ada dan tiada dirimu kan selalu, ada di.....
Rio sudah hampir menyelesaikan penampilan bernyanyinya, lagu yang ia nyanyikan akan segera berakhir, mungkin sama dengan harapan rio atas kedatangan mama ataupun papanya semuanya sudah hampir kandas. Terakhir kali,matanya menyapu setiap sisi ruangan itu, tapi hasilnya tetap nihil. Ia menarik nafas sejenak, dan meneruskan nyanyiannya tadi.
Ada didalaam hatikuuu. . . ..
Prok-prok-prok suara tepuk tangan penonton menutup penampilan rio.
"tlimakasih" rio tersenyum dan membungkuk. Rio turun dari panggung diiringi tatapan kagum para orang tua murid yang hadir, "mama gak dateng, mama bohongin io" batin rio kecewa.
Tapi rio tidak menangis seperti layaknya anak kecil lainnya, tidak ada setitik pun butiran kristal yang terpeta diwajahnya, ia terus tersenyum. Senyum tulus yang selalu disuguhkan pada siapapun yang ia temui.
***
malam telah larut, gelap dan sunyi. Hanya deritan jangkrik yang masih terdengar, tapi rio belum juga terlelap.
"ayo den, sudah malam, aden bobo yuk" bujuk si bibi.
"io pengen nunggu mama sama papa pulang, Bi" rio menolak.
Tak berapa deru mobil terdengar memasuki halaman rumah rio, rio segera membukakan pintu.
"mama, papa" sapa rio.
"rio kok, belum bobo?" tanya papa rio.
"io mau kasih liat ini mah, pah. Liat io dapet nilai MTK 100. Nilai io paling tinggi lho" rio bangga, sambil menyodorkan selembar kertas dengan tulisan khas anak TK dengan angka 100 tertulis disudut kanan atasnya. Tapi mama ataupun papanya tidak ada yang meraih kertas yang disodorkan rio itu.
"iya, nanti papa beliin hadiah ya" seru papa rio, sambil berlalu.
Sedikit kecewa, tapi rio tidak menyerah. Ia berlari kecil, lalu menarik tangan mama dan papanya. "io punya kejutan, ayo mah, pah, Liat" kata rio semangat.
"rio, mama sama papa capek, besok aja ya" kata mama rio.
Rio tetap menarik tangan kedua orang tuanya kearah bagasi. Disana tertengger dengan anggun sebuah mobil berwarna hitam mengkilap, mobil itu keluaran terbaru, harganya tentu sangat mahal, mobil itu baru tiba sore tadi dirumah rio.
"liat ni, mobil papa rio gambarin, supaya kalo mama sama papa pergi kerja, Mama sama papa selalu inget io, kata bu guru gambar io bagus" rio menunjukkan gambar diatas mobil baru papanya itu.
Ia menggambarinya dengan paku, alhasil mobil mewah itu menjadi korban kepolosan rio. Mobil itu dipenuhi coretan crayon dan lecet-lecet akibat goresan paku.
"ini mama"
"ini papa"
"dan ini....."
tiba-tiba papa rio menarik tangan kanan rio,mengambil sebilah kayu dan....
Plak-plak-plak.
Tangan kecil itu dipukuli sejadi-jadinya.
"bandel kamu, bandel. Siapa yang suruh coret-coret mobil papa, bandel" seru papa rio marah, mungkin karena sangat lelah dan emosi, ia jadi tega berbuat seperti itu pada putranya.
"ampun pa, ampun... ampun pah" rio menangis terisak-isak, tangan kanannya sudah merah dan penuh darah.
"sudah pah, sudah, kasian rio" mama rio mencoba menenangkan suaminya yang tengah dikuasai amarah.
"sudah tuan, kasian den rio" si bibi datang, dan langsung memeluk tubuh rio.
"BAWA DIA, DASAR ANAK NAKAL" perintah papa rio, kepada si bibi.
"hiks,hiks, tangan io sakit, Bi..." lirih rio.
***
5 hari kemudian.
Luka ditangan rio membengkak, badannya pun sudah 3 hari ini sangat panas. Si bibi sudah berulang kali bicara pada orang tua rio agar segera membawanya ke RS.
"beri saja parasetamol, atau dikompres, paling demam biasa. Saya belum ada waktu untuk mengantar Rio ke RS, bi" begitu jawaban mama rio.
"anak itu memang sangat manja" komentar papa rio.
Tepat 1 minggu setelah kejadian itu, rio dilarikan ke RS, karena sudah hampir 1 hari rio tak sadarkan diri.
"amputasi"
CTTAAARR
kilatan petir bagai berlomba menghujam hati orang tua rio, saat mendengar keputusan dokter. Ternyata mereka terlambat, tangan kanan rio infeksi dan harus diamputasi. Mama rio terus menangis, membayangkan putra tunggalnya akan cacat. Dan beribu sesalpun singgah dibenak papa rio. Anak yg selalu ceria, anak yg tanpa mereka sadari selalu membuat mereka bangga... aarrghhh, ntah apa yang akan dikatakan rio kelak ketika dewasa, bila mengetahui kebodohan orang tuanya.
2 hari pasca operasi.
Hari ini rio sudah dipindahkan kekamar inap biasa, mama rio masih terus terisak saat. Mengamati rio yg sangat lucu, saat tertidur pulas.
"kapan terakhir kali kita mengecup keningnya ya, pah" tanya mama rio lirih, pada suaminya yang sedang duduk termenung dengan tatapan kosong.
"ergghh" rio mengerang dan mulai membuka matanya, "mama, papa"
"iya, nak" kata mama rio yang langsung mendekat.
"maafin io ya, mah, pah. Io janji gak akan nakal lagi" bukannya menjawab mama rio malah menangis, rio berusaha bangun dan... "tangan, kemana tangan rio mah? Papah kemana tangan io, ampun pah, io minta maaf, kembaliin tangan io pah, nanti io gak bisa gambar lagi, mah.." selaput bening pun mulai luruh dari mata rio.
"sayang, maafin mama" mama rio menghamburkan pelukannya.
Dan ntah mengapa rio bisa berhenti menangis, ia menemukan kekuatan dalam pelukan itu. Rio mengangkat tangan kirinya, dengan lembut ia menghapus titik-titik air mata diwajah mamanya.
"mah, pah, io udah gak punya tangan, tapi io tetep anak mama sama papa kan, iya kan??" tanya rio polos, orang tuanya mengangguk.
"kamu tetep putra papah, Mario putra kebanggaan papa" papa rio akhirnya membuka mulut.
"kalo gitu, rio rela. Rio gak papa gak punya tangan. Jangankan cuma satu, kalo mama minta tangan kanan io, dan papa minta tangan kiri io, io akan kasih semuanya, karna io sayaaang banget sama mama dan papa" Ucap rio sambil tersenyum manis.
Ucapan rio tadi membuat relung dada orang tuanya semakin penuh sesak dengan rasa bangga. Ntah darimana rio belajar berkata seperti itu, tapi mama-papanya tak peduli, keduanya memeluk rio dengan erat.
***
13 tahun kemudian.
Seorang pria dan wanita berdiri mengapit seorang pemuda tampan dengan senyum khasnya. Mereka berada dalam sebuah pameran, pameran tunggal, MARIO STEVANO ADITYA.
Aula gedung itu kini dipenuhi guratan warna warni dari kuas yang ditorehkan oleh tangan 'KIRI' rio. Pelukis terkenal, itulah rio sekarang, ia membuktikan bahwa cacat tidak bisa menghambat bakat dan impiannya. Dengan bangga kini ia berdiri tegak, diiringi pujian dan sanjungan yang selalu terlontar dari mulut pemuja lukisannya.
"mah, ah, rio mau bilang makasih. Kalo dulu papa gak mukul tangan rio, mungkin sampe sekarang rio Akan lebih suka mencoret-coret mobil, dibanding menggambar diatas kanvas." ucap rio sambil tersenyum polos, senyum khas rio yang sejak kecil sudah menjadi ciri seorang mario.
Orang tuanya pun hanya mampu mengucap syukur kepada tuhan karena dianugrahi anak seperti rio. Mereka menatap haru, pada anak kebanggaan mereka, MARIO...
The end
(copas : Novia Raissavia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar